Friday, December 28, 2018

Apa yang Harus Saya Lakukan di Tahun 2019?

1. Berolahraga
2. Pagi makan buah, siang banyakin sayur, malem makan buah lagi
3. Cari uang banyak-banyak kalo perlu sampe tipes
4. No more anxiety
5. More love
6. Nikah/tinggal bareng
7. Beli vespa
8. Daftar naik haji

(Aku nulis ini pas lagi mabok kopi...yes it is a thing)

Tentang Berdamai dengan Kecemasan

Kecemasan adalah masalah utama yang saya hadapi sehari-hari. Hal ini diawali dengan pikiran buruk yang liar akan masa depan. Semakin saya berusaha menghentikannya, semakin tidak terkendali pikiran-pikiran aneh tersebut.

Ketika kecemasan tersebut datang, nafas saya menjadi pendek dan bahu saya menjadi tegang. Saya tidak ingin melakukan apa-apa selain merebahkan badan entah di tempat tidur, kursi, maupun dinding. Lantas, berusaha untuk tidak tertidur. Sebab ketika tidur, nanti suka "tindihan".


Saya berusaha mengatasinya dengan mengobrol sebanyak-banyaknya dengan orang lain. Mendengarkan orang lain bercerita tentang kesulitan hidupnya. Lalu, berusaha memberikan saran apabila diminta.

Terkadang, ketika orang lain bercerita tentang masalahnya, sedikit banyak apa yang mereka alami beririsan dengan problematika kita. Tentu kita akan lebih mudah memberikan saran kepada orang lain daripada ke diri sendiri. Dan di sanalah saya bisa berkaca. Menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul dari berbagai kecemasan saya.

Jika ditanya, apa sih, kecemasan saya? Pastinya berhubungan dengan masa depan. Pertama soal keuangan. Kedua soal rencana besar di masa depan. Ketiga soal hubungan percintaan.

Soal keuangan

Sebagai pekerja lepas, saya mengalami yang namanya naik turun keuangan. Sebenarnya rasanya biasa aja. Saya juga merasa dijaga Tuhan. Tiap mau miskin, biasanya ada klien yang transfer. Jadi enggak pernah sampai miskin banget. Tapi ya juga enggak pernah kaya dan enggak pernah punya tabungan banyak.

Padahal di masa depan kan harus beli properti. Harus beli kendaraan. Harus punya tabungan darurat.

Semakin teredukasi, semakin menderita~~~

Solusinya, mungkin saya akan balik ngantor lagi sih sembari mencari frilenser yang mau saya limpahi pekerjaan dari klien yang sudah saya handel. Syaratnya cuman bisa kerja cepet dan mengerti kalau yang namanya kalimat itu minimal berisi subjek dan predikat.

(jangan judge aku dari tulisanku di blog ini ya, memang ndak bener ini. soalnya blog ini cuman tempat curhat saya hahaha)

Soal rencana di masa depan

Sebentar lagi saya berumur 26 tahun dan merasa hidup kok gini-gini aja. Rasanya ingin berburu beasiswa, ngantor lagi, atau merambah pasar internasional dalam melakukan pekerjaan frilensing ini. Bingung mau yang mana karena sekali lagi lah mbok aku kok anxious duluan.

Soal hubungan percintaan

I don't want to fuck up this time. Haruskah aku mendobrak segala norma dan tinggal bersama dulu? I love this guy. Gosh I love him. Sumpah saya nggak pengen gak jadi nikah untuk ketiga kalinya.

Lho kok makin ditulis malah makin cemas....ini sih salah espresso.

Tuesday, August 14, 2018

Kopi Panas



Nampaknya hari ini adalah hari pertama saya pergi sendirian ke mall setelah sekian lamanya ada yang bersedia menemani ke mana-mana. Dahulu, saya pernah, kok, mengalami masa-masa anti bersosialisasi yang membuat kesendirian terasa normal dan menyenangkan. Sekarang, kembali ke masa itu, kok, rasanya jadi sepi sekali, ya?

Sebagai anak kota, mall adalah tempat yang paling menyenangkan buat saya. Saya bukan anak alam, tidak hobi traveling pula. Bahkan, ada kawan yang pernah bergurau bahwa Gandaria City adalah rumah kedua saya saking saya hafal seluk-beluknya. Tapi, akhir-akhir ini saya lagi suka ke Mall Pondok Indah.

Ini adalah sebuah tempat yang sebenarnya nostalgic buat saya. Sekitar sepuluh tahun lalu, setiap siang, mall ini dipenuhi anak-anak SMA dengan jaket almamater berwarna-warni. Noraknya bukan main. Waktu SMP dan masih berlangganan majalah remaja, saya dan kawan-kawan kerap kali bermain dress up sekeren mungkin. Tentunya bajunya minjem teman karena dulu duit jajan saya sedikit. Lalu, ketika selesai, keluarlah celetukan bloon:

“Nah, udah gaul banget, nih, buat ke PIM!”

Sepuluh tahun kemudian, nggak ada yang tahu kalau mall tersebut justru jadi tempat yang hitungannya sepi banget. Dan akhirnya saya pilih juga untuk belajar lagi menikmati kesendirian saya. Tadinya, hari ini saya ke sana cuma buat ke Starbucks di Street Gallery, nongkrong di luar, area smoking. Duduk-duduk sambil seruput kopi.

Jakarta lagi gerah-gerahnya. Tapi suasana hati saya lagi dingin-dinginnya.

Eh, malah pergi cari bedak, lah. Cari baju, lah.

Dua tahun ini, saya benar-benar jarang sekali beli-beli baju. Ada untungnya punya adik dan ibu yang selera pakaiannya mirip saya. Jadilah saya sering meminjam baju. Minggu lalu saya baru sadar, saya hanya punya 5 potong baju pergi dan 3 buah celana yang proper.

Saya sampai enggak tahu lagi harus cari baju di mana sampai saya teringat kantung-kantung belanja  bertuliskan Stradivarius punya adik saya. Maka ke sanalah saya melangkah.

Sayangnya, kebetulan ini adalah bulan Agustus dan lagi musim panas di belahan utara sana sehingga semua pakaian nampak sangat cerah. Tidak ada satu pun pakaian yang cocok dengan saya. Semuanya berbahan mirip chiffon. Terlalu mengembang.

Di kamar pas, hari ini, akhirnya saya jadi mengenali lagi bentuk tubuh saya. Saya nggak cocok pakai baju yang berbahan ringan. Harus agak berat dan kaku sehingga tidak membuat tubuh saya terlalu besar, tetapi tetap bisa enggak terlalu mengikuti bentuk tubuh.

Baju seperti ini nggak ada di summer collection-nya Stradivarius. Lagipula, ternyata yang belanja di sana memang kaum instagram pada umumnya. Cakep-cakep banget sih nih orang-orang? Nggak ada yang bentukannya simpel aja seperti saya.

Sebagai perempuan berumur 25 tahun (yang kayaknya, sih, bukan target market Stradivarius), akhirnya saya berusaha untuk nggak sok muda dan melangkah ke toko pakaian yang agak sepi, Et Cetera. Ternyata lebih mudah cari pakaian di sana. Lebih klasik tapi nggak terlalu plain. Cuma butuh waktu setengah jam untuk mencari dua lembar pakaian. Satunya sweater, satunya blus tapi bahannya mirip kaos. Semuanya berwarna monoton. Tapi, saya nyamannya pakai yang seperti itu.

Saya kembali memasuki kamar pas. Kembali melihat-lihat bentuk tubuh saya. Saya baru ngeh, bentuk tubuh saya maskulin sekali. Bahu saya sangat lebar. Soalnya, dari kecil saya suka berenang. Saya jadi bingung harus mencari pakaian seperti apa. Di kamar pas ini, saya jadi paham kenapa saya sebel betul beli-beli baju.

Lima menit mematung, saya pun berpikir, “ah, fuck it, my shoulder’s awesome”, dan langsung menuju ke meja kasir.

Hari ini, saya jadi tahu, saya harus selalu beli baju di Et Cetera saja. Dan nomor baju saya adalah 8. Demi mempermudah hidup dan mempersingkat waktu, lebih baik seperti ini. Efisien.

Setelah membeli baju, saya melangkah ke drugstore. Soalnya bedak tabur saya habis. Lantas, saya langsung menuju ke konter sebuah merk kosmetik yang identik dengan kata halal itu. Merk kosmetik yang harusnya jadi bahan penelitian para feminis. Kulit saya ini nggak gelap-gelap amat, kok. Tapi kenapa saya harus selalu membeli dempul muka yang shade warnanya paling gelap di sini?

Tangan saya dengan cepat menyentuh bedak yang biasa saya beli, tapi hari ini saya lagi kepingin sesuatu yang beda. Alih-alih membeli bedak tabur, saya membeli bedak compact. Tetap, shadenya paling gelap.

Dasar, merk bule-sentris. Atau arab-sentris? Karena cocok dan murah, tetap saya beli juga, akhirnya.

Dari sana, saya berniat menunaikan keinginan hari ini. Beli kopi sambil nongkrong-nongkrong di luar Starbucks. Dua minggu terakhir, saya semacam punya nafsu makan yang ekstrim. Entah ingin makan banyak banget, atau enggak pingin makan sama sekali. Hari ini kebetulan lagi berada di opsi kedua. Hanya ingin ngopi.

Sayangnya, asam lambung nggak mengizinkan. Lagi-lagi, saya melangkah ke tempat lain. Sebuah restoran Jepang yang kayaknya murah, gitu. Masak, ada gyudon mozzarella, harganya cuma 30 ribuan?

Saya duduk di sana, menikmati makanan itu sendirian. Saat itu, saya baru sadar kalau seenak apapun makanannya, memang lebih enak kalo dinikmati bareng orang lain. Sumpah, makanan itu secara cita rasa enak banget.

Namun, nggak ada yang duduk di samping saya sambil ngomong betapa enaknya rasa makanan itu. Lebih parahnya lagi, saya nggak tahu sebenarnya sosok seperti ini apa yang saya inginkan menemani saya makan waktu itu. Saya cuma kangen ditemani makan oleh orang yang saya sayang. Saya juga kangen dirangkul dan diusap-usap punggungnya.

Bloonnya, saya nggak tahu harus kangen sama siapa. Ini perasaan yang nggak enak banget sehingga saya terpaksa menghabiskan makanan itu cepat-cepat dan menghabiskan minumannya cepat-cepat juga.

Brengsek, ocha-nya dingin banget. Es semua. Lagian, ocha apaan warnanya cokelat begitu? Saya makin pingin minum kopi. Sudahlah hati dingin, muka juga ikutan dingin. Kaki saya cepat melangkah ke luar restoran gyudon yang saya lupa namanya itu. Ingin cepat-cepat bertemu dengan singgasana kebanggaan saya, bangku luar Starbucks, area smoking.

Hari itu, baristanya ternyata baru. Orangnya sangat ramah dan well-mannered. Cantik dan bersih pula. Nampaknya dia adalah mahasiswa yang lagi cari uang tambahan.

Saya sangat jarang membeli kopi panas. Namun, setelah macam-macam hal yang berkecamuk di hati saya yang lagi dingin-dinginnya itu, kopi panas adalah hal yang satu-satunya saya inginkan di hari itu. Rasa-rasanya, kalau saya mati setelah membeli kopi panas itu, kayaknya saya bakalan ikhlas dan nggak gentayangan.

Kembalilah saya ke singgasana kebanggaan saya itu. Sekali lagi, hari itu gerah banget dan kopi saya panas banget. Suhu paling tepat untuk membuat espresso adalah suhu yang paling dekat dengan 96 derajat Celsius dan saya yakin Starbucks adalah coffee shop yang cukup proper untuk menerapkan kaidah itu.

Jadi, kopi panas yang saya beli itu tentunya nggak bisa langsung saya minum.

Saya bengong sejenak memikirkan diri saya sendiri. Ada apa, sih, dengan diri saya? Kenapa, sih, hari ini saya baru sadar, saya enggak kenal-kenal amat dengan diri saya sendiri. Saya ini maunya apa, sih?

Apakah jawabannya adalah steady relationship? Hal itu kayaknya akan membuat saya merasa aman dengan masa depan saya. Hubungan yang kuat kayaknya juga akan membuat saya merasa nyaman dengan diri saya di pertengahan umur 25 ini, ketika teman-teman satu per satu mulai menikah dan punya anak.

Eh, tapi sialnya saya enggak suka dengan komitmen, tuh. Saya juga baru sadar, komitmen kepada seseorang dan percaya kepada institusi pernikahan yang entah kenapa harus banget saya jalani di masa depan inilah yang bikin saya enggak kenal lagi dengan diri saya sendiri. Kenapa, sih, saya harus banget mempedulikan orang lain? Memangnya, orang itu bakalan peduli sama saya juga?

Setelah ketemu apa masalahnya, saya kembali seruput kopi saya. Kopinya udah nggak terlalu panas. Lidah saya juga nggak terbakar. Pelan-pelan saya teguk kopi yang sudah berada di rongga mulut saya itu. Hangatnya sampai dada. Kayaknya satu masalah ini terpecahkan.

Mau nggak mau, saya harus nyaman dan selesai dengan diri saya sendiri. Pria itu ada banyak. Seperti layaknya pakaian yang saya beli tadi, semua orang punya target market sendiri.

(What the fuck? Did I just positioned myself as a commodity?)

Lalu saya sempat curhat pula dengan circle teman perempuan saya. Ternyata, ada pula salah satu teman yang kira-kira mengalami masalah yang mirip-mirip dengan saya. Nampaknya, masalah dia lebih berat. Namun, ketika dipikir-pikir lagi, masalah semua teman-teman saya di circle itu memang lebih berat daripada masalah saya.

Somehow, mereka masih bisa semacam menaklukkan dunia. Untuk berpikiran positif, memang harus dekat-dekat dengan orang yang either positif banget. Atau, kalau enggak positif banget, ya lucu banget.

Saya jadi mikir, saya enggak boleh, nih, kalah sama hidup. Saya nggak boleh cengeng.

Di situ saya mensyukuri adanya teman-teman saya. Bukan cuma yang ada di circle itu, tapi juga circle-circle lainnya. Saya nggak pernah sendirian. Sambil meminum kopi lagi, saya jadi pengen gebuk diri sendiri atas ketidakbersyukuran hari ini. Pingin saya siram ke muka aja itu kopinya.

Lantas, saya coba buka lagi satu-satu apa yang saya inginkan dalam hidup kalau pada akhirnya saya benar-benar akan sendiri secara hubungan percintaan. Ada banyak, ternyata. Saya mau jadi dosen karena saya merasa mau sekolah di mana pun, pada akhirnya dosen-lah yang banyak membentuk pemikiran kita. Pendidikan S1. Mau selesai atau tidak, dosen tampak punya wisdom yang bikin kita patut merasa harus mendengarkannya. Jadi, kalau saya mau bikin negara yang fucked up ini jadi sedikit lebih baik, saya harus jadi dosen.

Selama ini, saya berpendapat kalau saya harus membuat nusa dan bangsa ini berguna buat saya. Namun, pada akhirnya saya sadar kalau saya nggak mau tumbuh jadi sampah. Saya harus berguna juga buat nusa dan bangsa.

(Apaan, sih? Kenapa diksi yang dipilih sama buku-buku Kemendikbud buat mencuci otak anak-anak harus nusa dan bangsa, coba? Klise banget. Kadang-kadang suka ditambahkan agama, pula.)

Sudah, lah. Intinya saya harus jadi orang yang berguna.

Lalu, apa langkah selanjutnya? Saya harus ingat lagi gimana caranya nulis academic paper. Gimana caranya membuat diri saya ini peka dan pinter lagi setelah 5 tahun lamanya terbiasa menulis yang ringan-ringan saja.

Sembari lanjut mengurai masalah, saya makin sadar kalau inilah yang harus saya taklukkan. Diri saya sendiri. Ini caranya buat bikin diri sendiri merasa aman. Saya mesti percaya kalau dalam hidup ini, yang harus steady itu bukan relationship percintaan, tapi kedua kaki saya sendiri.

Pelan-pelan kopi saya habis. Saya pesan ojek online. Lalu saya turun ke bawah. Melewati drugstore tempat saya beli bedak tadi untuk pergi ke pintu keluar yang masih buka. Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kebanyakan pintu keluar sudah ditutup.

Sembari saya melewati drugstore itu, saya baru sadar ada yang lupa saya beli. Nail polish. Kuku saya sudah lama kosong.

Iya, nail polish. Hari ini, saya lagi haid hari kedua.

Wednesday, December 6, 2017

My Cheap Korean(ish) Skincare Routine Lately

Orang Korea berhasil “menjajah” cewek-cewek Indonesia dalam hal perawatan wajah alias skincare. Bravo banget. Bahkan cewek yang tergolong cuek seperti saya jadi ikut-ikutan. Sejak mengikuti Korean(ish) skincare routine dengan lumayan telaten, keadaan wajah saya jadi serba pas mulai dari warna, kelembaban, sampai teksturnya. Di dompet juga pas karena produk yang oke ternyata gak harus mahal.



Source: pixabay.com


(Tapi enggak langsung jadi cantik banget apa gimana sih, soalnya dikasih Tuhan segini aja tampangnya hahahaha)

Bukannya Orang Korea Cantik Berkat Operasi?


Bukan rahasia memang kalau kecantikan wajah cewek Korea banyak yang berasal dari operasi plastik. Oleh karena itu, hal ini sering jadi dalih orang malas (termasuk saya tadinya), buat ikut-ikutan perawatan wajah ala mereka.

Padahal, keadaan kulit itu sepertinya gak mesti berkat andil operasi plastik. Bolehlah mereka punya hidung mungil tapi mancung, bibir merah sehat, juga tulang rahang yang halus bentuknya. Namun, kulit yang sehat berasal dari perawatan yang baik, bukan dari operasi plastik.

Berhubung saya enggak suka ke salon untuk facial atau perawatan wajah lainnya, apalagi ke dokter kulit karena takut ketergantungan seperti jaman dahulu, opsi merawat kulit di rumah dengan produk-produk tertentu saya rasa masuk akal. Saya enggak pingin cantik yang gimana banget, sih. Saya cuma gak pingin ketika tua nanti, kulit muka rusak dan keriput enggak karuan. Maunya ketika tua nanti ya seperti Nigella Lawson (loh, kok bukan orang Korea goalsnya).

Perkara Cara, Bukan Produk


Alasan saya menyebut skincare routine ini Korean tapi pake embel-embel “-ish” adalah karena saya enggak banyak pakai produk Korea. Yang saya ikuti adalah routine-nya saja. Cewek Korea terkenal dengan perawatan muka berlapis-lapis yang banyak makan waktu. Namun, setelah riset kecil-kecilan dan langsung pakai ke muka, semuanya jadi masuk akal. Mereka mengaplikasikan 7 sampai 10 produk perawatan ke wajahnya setiap hari, pagi dan malam.

Cara ini yang saya tiru, walaupun stepnya enggak sebanyak itu.

Berikut ini adalah produk-produk yang saya pakai dan cukup efektif. Perlu teman-teman tahu bahwa skincare dan kulit kita itu jodoh-jodohan, jadi skincare ini juga belum tentu cocok di kulit kalian. Tujuan saya cuma ingin berbagi aja kalau ternyata harga dan nama besar produk belum tentu berbanding lurus dengan fungsinya.

Jadi, jangan cepet kemakan kata-kata beauty blogger dan selebgram yang diendorse sana-sini, oke?

Double Cleansing (Micellar Water dan Face Wash)


- Corine de Farme Purity Micellar Water 500 ml (Rp190.000)

 

Source: femaledaily.com

 

Karena kulit saya berminyak, saya jadi lebih memilih micellar water alih-alih cleansing oil. Agak enggak pede rasanya pakai produk yang oil-based ketika kulit sendiri udah seperti kilang minyak. Alasan memakai produk ini adalah harganya yang masuk akal dibandingkan dengan Bioderma Micellar Water dan hasilnya sama aja.

Kalau semua soal harga, kenapa enggak pakai micellar water yang low-end sekalian? Alasan pribadi saya itu kalau udah pake kata “water” ya teksturnya harus benar-benar berasa air di muka. Sementara itu, micellar water yang low-end masih terasa licin. Huuu tepu-tepu, nih.

- Pond’s Antibacterial Facial Scrub with Herbal Clay 100 gr (Rp24.000)

 

Source: tokopedia.com

 

Facial wash ini bisa kamu temukan di mana saja sampai ke warung kecil banget di pelosok. Harganya juga murah. Beres cuci muka dengan facial wash ini, segala minyak dan hinyai dijamin hilang tuntas walau jadi berasa agak kering. Kalau kamu jerawatan parah, lebih baik pakai produk lain yang enggak ada scrub-nya. Saya masih bisa pakai produk ini karena kini jerawat saya udah berkurang banyak dibandingkan saat dahulu kala muda bergelora.

Double Toning (Exfoliating dan Hydrating Toner)


- Pixi Glow Tonic 250 ml (Rp485.000)

 

Source: asos.com

Wow, mahal banget! Hahaha. Itulah akibat mendengarkan kata-kata beauty blogger yang tajir dari lahir. Namun, produk ini bagus, sih. Muka jadi berkurang gradakannya.

Kandungan aktif di dalam produk ini adalah glycolic acid 5%. Gunanya untuk mengeksfoliasi kulit alias mengangkat sel kulit mati secara kimiawi. Sayangnya, karena mahal banget, saya akan segera berpindah ke lain hati yakni kepada…

- The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution 240 ml (Rp177.000)

 

Source: theblondesalad.com

 

Belum bisa direview karena masih PO, but I expect the same, even better result. Soalnya kandungan aktifnya lebih tinggi tapi enggak terlalu tinggi. Rasanya kulit masih bisa menahan “kekerasan” bahan ini.

- Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Lotion 100 ml (Rp38.500)

 

Source: blibli.com

 

Walaupun kulit berminyak, kita enggak boleh enggak pakai pelembab kulit atau hydrating toner. Tujuan pelembab adalah menahan air di kulit, bukannya minyak. Hal itu diperlukan semua jenis kulit. Ketika kadar air di wajahmu kurang, kulit justru akan memproduksi lebih banyak minyak untuk melembabkannya. Bahaya, kan? Walaupun produk ini bertitel “lotion”, fungsi dan teksturnya menunjukkan bahwa jati diri si Gokujyun ini sesungguhnya benar-benar hydrating toner.

Serum


- The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% Shared Jar 10 ml (Rp 80.000)

 

Source: beautylish.com

 

Niacinamide alias vitamin B3 merupakan bahan yang mampu mengurangi jerawat dan mencegahnya kembali lagi serta meratakan dan mencerahkan warna kulit. Dari seluruh produk skincare saya, produk ini adalah yang PALING efektif menghadirkan hasil tersebut.

Oleh karena itu, saya berencana repurchase sebotol produknya sebanyak 30 ml, enggak shared jar lagi. Harganya Rp139.000. Wow, menang banyak si tukang shared jar kemarin itu.

Pelembab Pagi dan Malam


Ketika pecinta Korean skincare membedakan beberapa, bahkan seluruh produk di rutinitas skincarenya untuk pagi dan malam, saya cuma membedakan di lini pelembab ini saja. Sisanya sama-sama dipakai pagi dan malam.

- Pagi: The Body Shop Tea Tree Mattifying Lotion 50 ml (Rp189.000)

 

Source: Thebodyshop.com.my

Saya udah lama pakai produk ini karena sangat bisa menahan minyak di wajah agar tidak lebay mengucur dari pori-pori wajah. Bikin minyak di kulit gak gengges lagi. Jerawat pun jadi gak banyak keluar. Walaupun banyak orang bilang skincare dari The Body Shop gak recommended, buat saya seri Tea Tree itu lumayan banget, deh.

Minusnya, ia bisa terasa agak perih. Soalnya, memakai sesuatu dengan bahan tea tree di wajah seringkali berasa memakaikan minyak kayu putih, baik dari segi “kepedasan” maupun aroma. Selain itu, terasa pula kulit juga ini jadi berasa kering. Aneh, kan? Berminyak tapi sering terasa kering dan “ketarik”. Oleh karena itu saya akhir-akhir ini berusaha lebih melembabkan kulit, terutama dengan bantuan hydrating toner Hada Labo Gokujyun tadi.

- Malam: Pond’s White Beauty Night Cream 20 gr (Rp23.000)

 

Source: tokopedia.com

 

Sekali lagi, saya enggak ada maksud pingin bikin kulit terlihat lebih putih. Saya lebih menjaganya agar tidak jadi kusam aja. Nah, ternyata bahan aktif di krim malam satu ini adalah vitamin B3 alias niacinamide. Beda penyebutan, tingkat ke-fancy-annya jadi berkurang, ya? Harganya juga murah banget, hahaha. Jadi, selain mencerahkan kulit, saya juga percaya produk ini mampu melembabkan kulit saya di malam hari dan mencegah jerawat datang meradang.

SPF


Salah satu beauty writer favorit saya pernah bilang, semahal apapun skincare kamu, semuanya enggak guna kalau kamu tidak mengakhirinya dengan SPF. Saya udah membuktikannya dengan sebenar-benarnya kalau sinar matahari adalah musuh besar utama nan nyata. Kulit saya berbeda jauh kabarnya ketika masih ngantor dan ketika kerja di rumah. Padahal, saya di jalan ke kantor di pagi hari cuma selama setengah jam setiap harinya. Ya, mungkin ada juga andil polusi pengotor wajah yang mengenai kulit saya ketika saya pulang kantor setiap malamnya. Maklum, anak motor beb.

Oleh karena itu, pencarian SPF ini adalah pencarian skincare yang paling drama. Bayangkan, saya sudah berniat invest ingin pilih produk Korea asli saking pentingnya SPF ini. Saya beli The Face Shop Clean Face Oil Free Sun Cream Sunblock SPF 35 PA++ seharga Rp180.000an tapi tidak cocok, jerawatan parah karena mungkin formulanya terlalu kental sehingga menyumbat pori-pori. Kemudian, saya beli Laneige Suncare Sunblock Supreme SPF 50 PA+++ seharga Rp240.000an yang lebih ringan, tapi tetap tidak cocok.

Bayangkan betapa sakit hatinya sudah membuang-buang duit dengan dua jenis SPF tersebut, ketika akhirnya yang cocok di kulit adalah…(bandingkan harganya)

- Emina Sun Protection SPF 30 PA+++ 60 ml (Rp24.000)

 

 
Source: tokopedia.com

Produk lokal inilah yang akhirnya cocok di kulit saya dalam artian tidak menyebabkan jerawat dan bisa menjaga warna kulit jadi tidak kusam. Saat masih bekerja kantoran, wajah saya normal kondisi warnanya. Namun, ketika saya kerja di rumah, ternyata warna kulit tetap jadi lebih baik. Bahkan ketika saya tidak mengenakan SPF ini. Yaa, saya kan cuma pakai SPF kalau keluar rumah.

Jadi, saya berasumsi kalau SPF ini belum tentu maksimal juga hasilnya. Dia cuma mengurangi saja dampak cahaya matahari tersebut ke kulit kita, bukan memblok seluruhnya. Jadi, kalau tidak pingin terkena dampak sinar matahari secara berlebihan, tidak ada cara lain di samping berusaha menghindari sinar matahari langsung bagaimanapun caranya.

Tambahan Seminggu Sekali


Innisfree Super Volcanic Clay Mask 100 ml (Rp155.000)

 

Source: innisfreeworld.com

 


Masker clay dan mud memang cocok dipakai siapa saja yang kulitnya berminyak. Kemarin-kemarin, ada produk yang namanya Glamglow Supermask Clearing Treatment. Mahal banget coy, satu pcsnya sampai 900 ribu! Gila banget, kan? Akhirnya saya beli versi sampelnya saja seharga Rp250.000 dengan klaim penjual “Bisa untuk 5 kali pakai”. Saya pakai tipiiiis banget di muka. Jadi bisa pakai 7 kali hahaha. Memang bagus sih, tapi mahal. Gak bisa akutu.

Lalu, ada orang yang mereview dupe-nya Glamglow Supermud bernama Innisfree Super Volcano Clay Mask. Kebetulan pula teman kantor ada yang pingin beli. Jadilah saya titip ke dia. Hasilnya memuaskan banget karena selain murah, hasil yang diberikan itu sama dengan Glamglow Supermud. Wah, cinta deh sama produk ini.

Saya pakai seminggu sekali saja. Masker ini teksturnya jauh lebih berat daripada Glamglow Supermud jadi pakainya bisa dicampur rose water dulu. Tapi, saya suka langsung pakai aja dengan kuas masker. Ingat, pakai masker clay itu gak boleh sampai kering banget. 10 menit langsung cuci aja. Lebih dari itu, muka dijamin mengkeret karena kelembabannya ketarik semua.

Ya, itulah daftar skincare yang biasa saya kenakan. Phew! Gak berasa ngumpulin skincare, ternyata saya punya banyak. Pegel juga nulisnya. Kenapa saya baru berani review-review skincare saya, itu karena baru sekarang inilah saya merasa kalau aneka skincare ini memberikan dampak yang baik di kulit. Cerah, tapi gak putih. Lembab, tapi gak berminyak banget. Halus, tapi manusiawi lah ya kadang tetap ada jerawat satu-satu saat PMS walau gak ganggu banget. Kulit manusia, sih, bukan kulit porselen.

Ketika kulitmu udah lumayan baik, kamu jadi pede keluar rumah tanpa pakai makeup di kulit wajah. Saya enggak pernah lagi bedakan kecuali saat kondangan. Dengan pinsil alis, eyeliner, dan lipstik saja, udah siap banget go show deh. Makeup saya cuma ada tiga, pinsil alis Etude, eyeliner Lakme, dan lipstik matte Purbasari no. 83. Udah, itu aja. More skincare, less makeup. Beneran jadi ga niat beli-beli makeup.

Jadi, buat teman-teman, ternyata prinsip less is more itu enggak ada ceritanya di skincare. Kita memang harus telaten demi punya kulit yang sehat. Selamat mencoba!

Friday, November 17, 2017

My Life Since Freelancing

Buat para pekerja kantoran yang ingin memutuskan untuk freelance, boleh banget nih dibaca pengalaman saya...My Life Since Freelancing! Asik deh. Kalo kata mas Dimas (Alumni SEO Kompas GOM yang sekarang murtad ke E-Commerce), keyword harus ada di judul dan paragraf pertama. Berhubung keywordnya sejudul-judul, ya udah tetep ada di paragraf pertama.

Oke, let's talk beneran.

Saya lulus Desember 2013. Pertama kali dapet kerja itu Maret 2014. Lama ya jadi pengangguran? Tiga bulan. Kebetulan waktu itu nyari kerja asal-asalan aja di Jobstreet. Apa aja saya masukin deh lamarannya. Mulai dari marketing garmen India, ODP Bank, Frontliner Bank, sampai ke beberapa media. Inget hampir tiap hari interview tapi enggak dapet-dapet kerja. Rasanya pingin gantung diri di stek-an pohon singkong.

Mungkin karena berpengalaman magang (kemauan sendiri gak disuruh kampus!) di sebuah media yang cukup besar di Bandung, keterimalah saya di sebuah media. Namanya Foodservice Today. Sekarang udah enggak ada. Soalnya bukan rahasia kalau yang namanya print media suatu saat akan punah, berganti semua ke online. Ketika rame-rame media cetak tutup, Foodservice Today ikutan tutup. Tapi enggak rame beritanya karena bukan majalah gede. Hehe.

Sejak saat itu, saya pindah-pindah kerja terus selama dua kali. Maklum millenial. Pengalaman kerja kedua itu di Restobazaar tapi bentar doang. Setelah itu keterima di Jakarta Post tapi enggak diambil. Soalnya hasil medical check up kurang bagus dan enam bulan kemudian harus medical check up lagi. Lalu kalau masih enggak bagus, saya harus cabut. Dan enggak yakin akan bagus karena kehidupan cub reporter di Jakarta Post itu luar biasa dedikasinya.

Tapi alhamdulillah setelah itu saya dapet kerja lagi di tempat yang paling bikin kaya secara mental, sajiansedap.grid.id, Kompas GOM.

Kerja di sini menyenangkan banget. Pertama saya semacam masuk ke divisi digital. Seluruh reporter di berbagai media dalam Kompas GOM digabungin di satu ruangan. Di sinilah kami belajar yang namanya SEO (Halo, Mas Dimas) dan cara bikin tulisan online yang dilihat orang. Lalu beberapa bulan kemudian, kami semua dikembalikan ke media masing-masing.

Waktu itu rasanya lucu banget. Pertama masuk kan di divisi digital, jadi malah enggak kenal sama sekali sama anak-anak SaSe (SajiSedap). Pengen nangis saat pindah. Apalagi imej Sedap di GOM itu adalah media yang strict banget sama peraturan dengan para karyawan yang beda umurnya cukup jauh dengan saya.

Tapi ternyata enggak loh. Setelah saya masuk, seminggu kemudian datanglah anak SocMed yang caur banget. Namanya Dea. Sering nongol di IG Stories anak-anak SaSe. Kemudian muncul lagi reporter online yang segenerasi lah ya, Nci. Lalu ada penulis resep yang ternyata hampir seumuran juga, Kak Riyo. Lalu ada anak magang cenayang, Lisa. Lalu ada anak dapur yang resenya sejenis, Aldo. Ada reporter cetak, Dian. Ada desainer galau, Bella. Ada juga uploader resep, Blek. LAH MALAH JADI PUNYA SISTERS FOR LIFE <3

Life was so good. It was so good. Sampai pada akhirnya saya putus cinta dan kehilangan gadun. HAHAHA. Enggak deng. Intinya, saya jadi nerima beberapa freelance dan mulai keteteran. Gak bisa atur waktu, tapi duit juga enggak cukup. Bukan gaji di sini kecil ya, tapi ritme hidup saya aja yang udah keatur begitu. Bisa nabung, tapi enggak cukup untuk kehidupan-kehidupan selanjutnya. Soalnya sempat investasi di reksadana, tapi enggak ngerti caranya. Malah rugi banyak.

Walaupun SaSe sangat menyenangkan dan mengajarkan banyak hal, insting survive kayaknya menang. Berat hati, resign-lah saya untuk mengambil kerjaan freelance di beberapa tempat. Oh, iya. Saya juga ngajar bahasa Inggris akhirnya.

Nih...sampe sini nih...berat kehidupan. Kalau saya boleh ngasih saran, lebih baik jangan resign dan freelance kalau tabungan kamu enggak bisa mencukupi kamu untuk hidup tiga bulan ke depan. Sebulan pertama rasanya kayak nerakaaaaaaa.

Saya freelance di rumah aja. Soal orangtua, apalagi kalau mereka cukup tradisional, mereka mungkin enggak bisa menerima keputusan anak untuk kerja di rumah karena kamu mungkin dikira pengangguran :))

It happens to me beberapa saat lamanya. I had to alternate my works and...doing chores. Ngangkat jemuran, beberes, cuci piring, dan lain-lain. Karena tabungan enggak cukup, pikiran saya yang juga masih kekanak-kanakan mikirnya "ya udah lah ini mah jadi ART dibayar pake makanan". Sempat kzl dan menolak makan di rumah. Bahkan sempat kepikiran untuk ngekos. Tapi melihat saldo tabungan...boro-boro ngekos. Makan mekdi aja mikir.

Lalu saya melihat, ada yang enggak beres kalau saya enggak bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari sembari mengerjakan kerjaan-kerjaan saya. Belajar apa aja di SaSe kemarin? Toh di SaSe saya juga belajar multitasking. Mengerjakan kuota artikel harian, mengerjakan advertorial, membuat skrip video, ngajarin anak magang walaupun gak lama, dan makan-makan + ngemil-ngemil di kantin? Masa enggak bisa, sih, begini doang.

Akhirnya saya keluar dengan solusi: mulai bekerja ketika semua orang enggak ada di rumah atau tidur. Saya bangun tidur, enggak pake disuruh saya beberes rumah dulu. Ketika nyokap dan adek-adek keluar rumah (nyokap kan ibu rumah tangga, bersosialisasilah beliau di sekolah, jadi bisa spare waktu cukup lama buat saya sendiri di rumah), baru saya bekerja. Terkadang saya jemput mereka, lalu mereka sama-sama punya waktu luang yang berarti saya juga bisa kerja, nah saya bekerja di situ. Eh enggak juga deng, kadang-kadang ngikut mereka tidur siang. HAHAHA.

Ketika hujan turun, badan bergerak sendiri untuk berhenti melakukan segala hal, dan lari ke halaman untuk mengangkat jemuran. Setelah itu saya kerja lagi. Di waktu magrib, nyokap akan otomatis manggil saya untuk nemenin beliau nonton telenovela Turki favoritnya, di sana saya juga akan berhenti bekerja dan nemenin nyokap. Mindblown anjir, ternyata sinetron Turki itu bagus-bagus :))

Beres itu, saya lanjut kerja. Saat semua orang tidur, saya juga bekerja. Eh, enggak semua. Adek saya lagi persiapan masuk universitas dan cukup aktif di organisasi kampus. Jadi kami kerap barengan. Dia belajar atau mengerjakan PR atau mengurusi organisasinya, entah proposal atau surat atau apaan yang saya enggak ngerti karena dulu enggak aktif berorganisasi. Di situ saya juga bekerja. Tapi ketika dia tidur, saya juga lanjut kerja, sih.

Waktu-waktu di mana saya harus keluar rumah untuk meliput sesuatu juga saya manfaatkan. Sehabis liputan atau ketemu orang atau ketemu klien, saya enggak pulang ke rumah, tapi nongkrong di mana dulu gitu, sambil kerja.

Ritme kerja pun teratur. Bahkan beberapa kerjaan bisa selesai sebelum waktunya karena saya jadi belajar memanfaatkan waktu. Buruan kerjain semuanya, tulisan naik kan bisa dischedule. 

Kemudian hal yang paling bikin hati hangat pun datang...entah bagaimana caranya, semua klien bayar di saat yang sama. Tiba-tiba tabungan penuh, sekian kali lipat gaji di kantor lama. Bapak saya terharu banget....waktu itu saya aja ampe pingin nangis :") Datanglah momen-momen OKB di mana saya jadi sering ngafe dan beli ini itu. Kampay emang. Aku jadi sangat mengerti perasaan Anisa Hasibuan.

Tapi ternyata ritme kerja yang efektif dan menghasilkan tersebut enggak sehat. Bokap adalah yang paling memperhatikan saya. "Kok Dina enggak mau sih ngatur waktu kerja biar enggak sampe malem-malem begini?" kata beliau. Terbukti, sih. Enggak lama setelahnya, I have a massive backpain di mana sampai bikin sensasi vertigo ringan gitu lah, pala muter-muter ngefly tapi enggak enak, karena sakit sepunggung-punggung.

Datanglah saya ke dokter syaraf. Waktu itu saya pikir vertigo, tapi ternyata enggak. Cuma tegang otot aja tapi parah. Penyebabnya, saya emang enggak kerja di meja. Duduk di mana aja mangku laptop. Selain itu, jam tidur saya juga enggak jelas. Di sana, saya dikasih obat dengan instruksi: berhenti minum kalau udah enggak sakit. Tapi ternyata sakitnya enggak hilang-hilang. Ketika obatnya enggak diminum, saya tetap sakit. Habis lah itu obat semuanya. Dan enggak sembuh. Lah, duitnya malah habis buat obat kalau gini caranya.

Setelah itu saya tanya ke salah satu grup pertemanan di WA, ada yang tau enggak sih solusi sakit ini? Lalu teman yang pacaran dengan seorang dokter bedah tulang menyarankan saya fisioterapi dan renang. Dia juga bilang kalau resep obat saya itu sebenarnya udah tinggi banget kandungan painkillernya. Tapi itulah, painkiller sahaja. Tanpa menyembuhkan.

Waktu itu duit yang udah seuprit-uprit ternyata enggak memungkinkan saya buat fisioterapi. Akhirnya saya mulai berenang, deh, yang murah meriah. Enggak hanya itu, saya juga jadi kepikiran untuk bikin ruangan kerja sendiri di rumah agar bisa kerja dengan lebih benar dan sehat.

Ruangan tersebut tadinya adalah gudang. Saya ambil duit 300 rebu, beli kipas angin yang saya rakit sendiri dari nol (karena kalo beli AC enggak mampu hahahaha #KYZMIN) dan roll kabel panjang karena di gudang ini colokan cuma ada satu dan di pojok banget. Semua barang saya pinggirin. Saya ngambil karpet yang kayaknya udah enggak kepake, pinjem dua bantal sofa yang gede-gede banget untuk jadi sandaran punggung dan pantat, dan, yah, jadilah ruang kerja :)

Soal ritme, karena mulai olahraga lagi, kayaknya jadi mulai teratur sih ya? Kuncinya adalah maksain diri untuk enggak ketiduran siang-siang. Ketika ngantuk, MANDI.

Saya berani nulis ini sekarang karena untuk pertama kalinya, saya merasa kalau saya sekarang udah melakukan sesuatu yang benar. Ternyata, dengan keluar dari zona nyaman saya di kantor, dengan sedikit ganjelan-ganjelan di depan, pada akhirnya, hidup saya jadi lumayan bener.

Saya jadi lebih bisa dekat dengan orangtua, bisa main dengan adik ketika dia pulang sekolah, bisa punya waktu di awal hari (saya enggak bilang pagi hari karena saya bangunnya siang hahaha) untuk berolahraga, bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan walaupun yaa belom pinter-pinter banget ngatur duitnya berkat OKB moment kapan tau itu. Yaa semoga bulan depan udah bisa nabung. Selain itu, saya bisa melatih public speaking juga karena saya mulai mengajar. Bisa enggak kecapean pula  di akhir minggu untuk les Bahasa Spanyol (saya habis lulus kelas Inicial 1!).

Wait for it... My next project is: Start a Family. Doakan, ya.

(setelah bisa ngatur waktu akhirnya bisa nonton-nonton vlog lagi. Instead of watching vlog generasi micin, I watch some family vlog. Kayaknya berkeluarga tidak semengerikan yang saya pikir. And babies, especially bayi-bayi nanggung yang udah lewat umur 9 bulan, are amazing.)

NB: oh iya, buat yang pengen tau saya freelance apa, saya ngerjain content writing, translating, editing, ngadmin social media, dan bisa ngajar Inggris juga. All inquiry goes to dinavionetta@gmail.com, yaaaa (sekalian promosi)

Thursday, September 21, 2017

Nuris di Kampung Orangtua Sendiri, Kota Medan yang K.E.R.A.S

Maret lalu, saya dan keluarga pergi ke Medan untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu saya. Iya, ini #latepost banget. Hehe. Pengalaman saya, selama ini pergi ke Medan bolak-balik mudik, kami enggak pernah benar-benar jalan-jalan mengeksplor kota Medan beserta landmark-landmarknya.

Bareng keluarga besar, kami biasanya jalan ke luar kotanya entah itu ke Sembahe (dataran tingginya mirip Puncak) atau Percut (tempat makan seafood enak, macem Muara Karang). Sementara itu, di kota Medannya, palingan ngemall dan wisata kuliner.

Saya dan Nadia (adik saya) pun memutuskan buat nyisain satu dari tiga hari selama kami di Medan buat keliling kota, lalu makan-makan dan jalan-jalan di tempat yang touristy.

Yok, simak kami jalan ke mana aja.

Masjid Raya Al Mashun

 

Masjid Raya
Masjid yang berada di tengah-tengah Kota Medan pol ini cakep bukan main. Namun percaya gak percaya, selama 24 tahun hidup dan hampir tiap tahun mudik, saya enggak pernah ke sini. Shalat idul fitri pun biasanya di masjid atau musholla dekat rumah.

Oleh karena itu, awal petualangan kami di Kota Medan ini dimulai dari shalat dzuhur di Masjid Raya Al Mashun. (Iya, mulainya siang-siang. Kami pemalas) (Iya, masjid. Kami religiyus #tapibohong wkwk).

Tujuan utamanya sebenarnya adalah tentu saja mengagumi arsitektur Melayu yang katanya kental di masjid ini. Yang mana sebenarnya kami-kami ini enggak ada yang ngerti what the heck is arsitektur Melayu.

Masjidnya memang bagus dan besar banget. Bagian luarnya banyak warna kehijauan sesuai dengan warna favorit nabi. Bagian dalamnya didominasi warna emas seperti rumahnya Anniesa Hasibuan. Banyak ukiran rumit yang cantik.

Sayangnya, di teras masjid banyak pengemisnya. Kami yang sejujurnya parno sama orang Medan siapapun itu karena beneran barbar terpaksa ngasih biarpun dese sehat. Wk!




Rujak Kolam Takana Juo

 


Rujak Kolam

Tempat ini pernah didatangi Bondan Wienarno ketika beliau wisata kuliner ke Medan. Letaknya di Kolam Deli seberang Masjid Raya Al Mashun. Jadi, kami cukup jalan kaki habis sholat ke sana. Ekspektasinya sih enak gitu, kan? Hati adem habis sholat, panas bentar jalan kaki, langsung dihajar deh sama segarnya rujak. Namun pada kenyataannya, perjalanan kami dari Masjid Raya ke Rujak Kolam walaupun dekat itu berasa banget jauhnya.

TIPS! Buat cewek-cewek yang jalan kaki di Medan, kalau bisa berusahalah untuk jelek biarpun aslinya cakep. Kalau enggak, dijamin disuit-suitin digodain sepanjang jalan walaupun KERUDUNGAN. Sediiih, kota ini enggak aman banget :(


Jangan suit-suitin adek, bang :(

Balik lagi ke rujak, rasanya cukup menyegarkan. Buah favorit saya di sini dan entah kenapa jumlahnya banyak banget dibandingkan buah-buah lainnya plus potongannya juga geday banget adalah nanas. Saya perhatikan, di Medan nih nanasnya juicy, empuk, dan banyak airnya. Makin segar lagi saat dinikmati dengan segelas es teh manis atau es lengkong (cincau).

Soal bumbunya, itu mantap dari segi tekstur. Soalnya, enggak semua kacang digiling halus. Ada potongan kacang tanah yang bikin krenyes-krenyes saat digigit. Maknyus deh. Soal rasa, buat lidah saya kurang rasa gula merah plus keenceran. Mungkin karena buahnya, terutama nanas, mengeluarkan air yang banyak dan nyampur ke bumbu. Jatuhnya jadi kayak kuah.


Kuil Shri Maha Mariamman

 

Kuil Shri Maha Mariamman

Landmark satu juga cantik sekali dilihat dari luar. Kuil Shri Maha Mariamman adalah kuil yang dibangun di akhir abad 19 untuk memuja Dewi Mariamman yakni Dewi Durga dalam wujud apaaaa gitu. Kuil Hindu ini dekat sekali dengan mall favorit warga kota Medan yakni Sun Plaza (Grand Indonesianya Medan).

Sayangnya, kami nggak masuk, soalnya memang gak tau kalau boleh masuk. Lagian rasanya kurang etis jilbab-jilbaban gini masuk rumah ibadah orang buat wisata aja. Konon katanya bagian dalamnya lebih bagus lagi. Kami mampir saja mengagumi dari luar...karena memang tujuannya mau pergi ke Sun Plaza, sih. Enggak kuat, Medan panas banget. Kami butuh AC.

Nah, itulah kisah petualangan kami jadi turis di kota kelahiran ayah dan ibunda yang ternyata tidak menarik untuk dieksplor. Tapi, bolehlah untuk dicoba. Next time, memang lebih enak jalan ramai-ramai sama keluarga biarpun ke situ-situ aja. Adem naik mobil dan aman karena tidak digodain abang-abang.



Bonus ide buat yang mau wiskul di Medan

1. Bihun Tom Yum Seafood Kinley Thai Bistro Sun Plaza







Enaknya parah, dijamin enggak menyesal. Kuahnya pedas asam segar gurih kental, seafoodnya berlimpah, plus tambahan bihun kenyal dan gemas bikin kita kenyang seharian. Habis makan ini, hajar dengan segarnya soda lemon madu.


2. Durian Si Bolang



Mungkin foto tidak terlalu mewakilkan, namun akan sulit rasanya menemukan tempat makan durian se-fancy ini.



Blenger blenger deh tuh makan durian. Udah tau kan kalau di Medan harga durian itu murah? Rasanya juga maknyus. Bisa pilih mau yang manis berlemak atau pahit beralkohol.

Bonus lagi! Foto di nikahan kakak sepupu eike.


Didandanin teman nyokap. Suka banget.



Nikahan si cantik Kak Lia. Maaf bang AJ yang nongol jenggotnya ajah.

Nikahan yang sangat sangat sangat menyenangkan. Tapi lumayan wadaw karena sebagian suvenirnya yang handmade dibikinin tante saya itu tadinya dialokasikan buat nikahan saya yang enggak jadi karena putus. Nah di sana saya volunteer pula bagi-bagiin suvenirnya ke tamu-tamu. Kurang kuat apa lagi hati adek, bang?

YAK! Namun dari situlah saya kuat dan let go dan siap menata hidup baru. I deserve happiness too. Wakakak.

Ciao! Thanks for reading!
Dina

Saturday, February 11, 2017

Hal-Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Kamu Remehkan di Usia 24 Tahun


Tepat dua minggu saya berumur 24 tahun (horeee, saya belum tua walau mukanya sudah), rasanya saya masih belum merasa matang. Makin ke sini juga rasanya semakin egois dalam artian, saya engga pingin ngapa-ngapain lagi selain menyenangkan diri sendiri dan orang-orang yang saya sayang.

Dalam mewujudkan keinginan seperti itu, terkadang ada banyak hal yang, carelessly, tidak kita anggap penting sehingga pada akhirnya kita seperti kena karma dalam artian, kenal jegal oleh hal-hal yang kita remehkan. Ya, ternyata itu adalah hal yang HQQ. Lain kali jika ingin menganggap receh sesuatu, pastikan hal itu benar-benar nggak penting, ya.

Untuk itu, saya persembahkan, aneka hal yang boleh dan tidak boleh kamu remehkan di usia 24 tahun.


Politik? Boleh

 





ngambil dari askideas.com

Menjelang pilkada, saya memperhatikan makin banyak orang yang jadi bermusuhan karena berbeda pandangan politik. Karena itulah saya nggak benar-benar terbuka menjawab saya bakal milih siapa. Ketika ditanya, seringkali saya menjawab akan golput saja.

Mengapa menurut saya politik itu hal yang receh? Soalnya buat saya enggak ada gunanya juga menunjukkan siapa pilihan kita di luar hari pilkada tersebut. Jika kita berbicara mengenai hal tersebut di depan orang yang pilihannya sama dengan kita, kita cuman bakal saling menyetujui dan tos-tosan doang. Sementara itu, jika kita berbicara tentang hal itu dengan orang yang berbeda pandangan sama kita, kita bakalan dijudge habis-habisan.

Sebagai orang yang males mikir, saya mulai menerima kalau hari gini, kita enggak bisa berdiskusi lalu pulang dengan kepala dingin. Kita enggak bisa berdiskusi lalu membawa bekal hal positif yang bisa kita ambil dari pandangan orang yang berbeda. Kita enggak bisa lagi melihat hal yang berbeda sebagai suatu hal yang memperkaya cara pandang kita. Itu kenyataan yang pahit, tapi mesti kita terima.

Mesti deh, ada yang menang dan kalah terus dua-duanya sewot. Ih, kurang makan deh.




Managemen Waktu? Engga

 

ngambil dari pinterest

Sebenarnya, orang bodoh pun tahu hal ini enggak boleh diremehkan. Namun, sampai hari ini, hal tersebut masih jadi kelemahan saya. Buat make up hal tersebut, saya berusaha buat mengerjakan sesuatu dengan jauh lebih cepat. Artinya, saya memaksa diri saya buat melakukan sesuatu tidak sesuai kapasitasnya. Kerjaannya beres? Iya sih beres. Tapi kemeng. Matanya siwer. Ehehehe.

Waktu itu adalah satu hal yang enggak bisa kita tawar. Seiring pertambahan umur sel, kemampuan tubuh kita juga gak makin prima. Cara mengatur waktu lah yang harus kita kendalikan alih-alih memaksakan sesuatu buat memperbaiki hal tersebut. Toh, waktu itu ada 24 jam. Bisa diatur. *menulis hal ini sambil meragukan diri sendiri*


Memikirkan Hal yang Telah Berlalu? Boleh Iya Boleh Engga

 



As cliche as it is, hidup itu adalah pilihan. Ketika sesuatu sudah berlalu, let it go. Masa lalu terdiri dari banyak komponen nan kompleks. Terkadang kita harus duduk diam sejenak lalu membongkar kenangan-kenangan tersebut seperti mengurek-urek puzzle gambar pot kembang yang pecah karena kena bola yang ditendang anak tetangga.

Simpan bagian gambar kembang dan pupuknya buat nyeneng-nyenengin diri sendiri dan menyuburkan pikiran kita. Buang pot pecahnya, balikin bolanya ke anak tetangga yang punya, terus lempar-lemparin deh tanahnya ke rumah bapaknya. Wekkk...


Menabung? Engga

 

ngambil dari mirror.co.uk

Seringkali kita berpikir kalau kerjaan begitu membuat lelah lalu merasa kita pantas mereward diri sendiri dengan membuang-buang hasil keringat kita buat hal yang fancy. Bapak saya sih memang pernah bilang seperti itu. “Kerja yang keras. Kalau lelah kalau ingin menyerah reward diri sendiri dengan makan yang enak sampai puas”. Sesekali sih itu benar. Tapi jangan sampai besar pasak dari tiang.

Banyak hal-hal yang memaksa diri kita buat ngeluarin banyak duit karena keadaan. Contohnya kecelakaan atau sakit tapi pengen manja,terus pengen upgrade kamar rumah sakit VIP. Nah, di situlah secuil dua cuil hasil keringat yang kita sisihkan bakal membantu hal tersebut.

Kaget liat biaya nikahan yang besar banget itu bisa diminimalisir dengan lihat angka tabungan kita yang juga besar, lho, nantinya. Tapi nanti, ya? Jangan cepet-cepet kalau masih ragu ntar malah gagal loh ahahahaha.


Keinginan buat Traveling ke Tempat Fancy? Boleh

 



Kita bisa mendapatkan kedamaian dengan duduk di kedai kopi favorit sambil baca novel lama yang dulu dosen kita suruh baca sampe habis pas kuliah tapi kita malah memilih liat ringkasannya di sparknotes (anak sastra jangan pura-pura engga tau. Kita juga bisa jalan-jalan liat lukisan di museum sambil ngangguk-ngangguk pura-pura ngerti atau mikir bodoh gimana cara maling koleksi harta karun emas yang dipajang. Makan rujak kikil porsi jumbo tapi harganya 7000 perak doang di antah berantah pas enggak sengaja nyasar juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Ngeliatin dedek-dedek telanjang yang bahagia dengan caranya sendiri saat nyebur di genangan air jorok di pelosok negara kita ini juga bisa bikin kita lebih bersyukur.

Damai versi saya saat ini adalah saat entah pergi kemana terus menemukan kolam dengan bunga teratai yang mekar. Di Ubud atau di restoran Talaga Sampireun Bintaro yang selemparan kolor doang, alhamdulillah damainya sama. Jalan dengan orang-orang kesayangan pun bahagia setengah mati.

Sebaliknya, mungkin aja kamu enggak bahagia sama sekali di Paris kalo masuknya ke Lafayette doang sambil liat-liat tas mahal tapi enggak mampu belinya. Mungkin aja kamu senang liat salju di pegunungan di Swiss, tapi ga kuat sama dinginnya. Mungkin kamu pernah nginjekin kaki di Timbuktu, tapi biasa aja malah pingin pulang karena ga nyambung sendiri dengan teman-teman travelingnya.

Happiness and peace are states of mind, cieeeh...


Social Life? Engga

 

ngambil dari ravishly.com

Hal ini bergantung, sih, kepada cara kamu bersosialisasi. Saya sih sebenarnya introvert, tapi masih doyan haha hihi dan punya fetish sama hal-hal yang terlalu receh/aneh/rusak. Jadinya alhamdulillah masih punya kehidupan sosial. Pun kalau saya udah klik sama orang, saya bakalan sayang banget dan mempedulikan mereka. Makanya temen saya dikit banget dan itu-itu aja tapi selalu di hati. Ududududu...

Pastikan orang-orang yang kamu sayang itu tau pasti kalau kamu sayang sama mereka. Baik itu keluarga, teman, atau someone special, mungkin?

Oh, terkadang kamu juga boleh punya sikap, pastikan orang-orang yang kamu sebelin itu tau kamu juga sebel sama mereka. Jangan pereus jadi orang bahahaha. Kalau mau dipanjangin lagi, hangan sampe orang yang kamu sebel gak tau kamu sebel sama mereka. Apalagi kalo orang yang kamu sebel, nggak tau siapa kamu. Mendingan gak usah sebel. Nah, itu berkaitan dengan poin pandangan politik.

Btw, ada banyak orang yang introvert terus menganggap hal tersebut jadi alasan buat enggak berusaha mendekatkan diri atau peduli dengan hal-hal di sekitar kita. Buat saya hal itu bahaya, soalnya kita tinggal di tempat  yang menganggap orang ekstrovert lebih superior daripada orang introvert. Fake it till you make it because life is never fair. Tertanda, extroverted introvert.


Bikin List Tentang Hal-Hal yang Boleh Kamu Remehkan dan Enggak Boleh Kamu Remehkan? Terserah

 

Penting nga eaaaa?

Karena blog enggak boleh dianggurin, ehehehe. Capek juga, ya, ngetiknya.

Selamat berakhir pekan, teman-teman. Semoga kalian selalu bahagia.

Much love,

Dina Vionetta

Thursday, August 11, 2016

Kesan-Kesan Habis Baca The Picture of Dorian Gray

*Disclaimer: ini bukan resensi, review , atau apalah itu, ya. Hanya ingin menunjuk hal-hal yang menarik bagi ogut saja supaya engga lupa kalau pernah baca buku ini. Maklum, akhir-akhir ini suka jadi pelupa.*


The Picture of Dorian Gray merupakan satu-satunya novel karya Oscar Wilde. Walaupun banyak orang (di internet) bilang kalo buku ini adalah mahakarya dia, penulis Irish ini justru terkenal karena berbagai naskah drama yang dia tulis. Oscar Wilde merupakan penulis yang menjunjung gerakan Aestheticism. Apa itu aestheticism, nanti aja bahasnya belakangan.

Saya membeli buku ini sebenarnya karena nggak sengaja. Simply karena terdampar di bandara beberapa jam, dan akhirnya malah jadi random ke toko buku. Walau sempat dilema mau beli apa enggak, tapi akhirnya saya beli sajalah. Alasannya, satu, ngga enak kalo mejeng berjam-jam di toko buku buat namatin novel. Kedua, harganya paling murah di antara buku lainnya *receh* dan yang ketiga, buku ini buku anak Sastra Inggris bangeeet #pretensius.

Ceritanya sih cukup simpel tapi enak buat dibaca. Problem mahasiswa itu adalah kalau suatu hal udah jadi kewajibannya, maka itu jadi nggak asik lagi. Nah begitulah pandangan saya pas kuliah tentang buku-buku sastra. Padahal pas lulus, pas ulik-ulik lagi, wah ternyata asyik.

Ada seorang pelukis bernama Basil Hallward. Dia membuat sebuah mahakarya, yaitu lukisan potret anak muda nan tampan bernama Dorian Gray. Dorian ini baik dan polos. Makanya Basil memuja Dorian.

Dipuja-puja sama Basil ternyata gak bikin Dorian balik memuja Basil. Dorian lebih milih temenan sama Lord Henry Wotton, teman dari Basil Hallward yang kemudian jadi mentornya. Hal yang dia mentorkan ini bisa dibilang enggak bener juga, yaitu gaya hidup hedon.

Lama-kelamaan, sifat Dorian jadi boros, jahat, dan neko-neko. Mistisnya, selama belasan tahun memelihara jiwa yang busuk, wajah Dorian Gray tetap muda dan ganteng. Berbeda dengan wajah dia di lukisan Basil yang justru jadi buruk, tua, tambah jelek, sesuai dengan jiwanya.

***

Balik lagi ke gerakan Aestheticism, gerakan ini merupakan gerakan yang menekankan sisi estetika atau keindahan dibandingkan nilai moral atau politis pada suatu karya. Gerakan ini menarik karena masyarakat di zaman Victorian itu menjunjung tinggi nilai moral. Nah Oscar Wilde ini berani menggebraknya, dia berpendapat kalau yang dijunjung tinggi dari karya seni ya keindahan aja. Nilai-nilai lainnya jadi ga berarti.

Nah sebagai contoh, kita lihat dari penokohan dulu deh. hubungan pertemanan Basil dan Dorian ini terlihat terlalu unyu dan penuh puja-puji. Bertepuk sebelah tangan, lagi. Padahal, di masa itu, ketika moral dijunjung tinggi banget, masyarakat antipati sama hubungan sesama jenis. Hukumannya juga berat.

Ketika Oscar Wilde dikritik, dese ngeles aja. Karya dia ya karya dia. Orang yang mengerti gerakan dia tentu akan fokus pada keindahahan kata-katanya. Sementara orang yang mentingin moral, pasti otaknya bakal suuzon mulu sama karyanya.

Kalau dari pilihan kata-katanya, ya jelas juga sih berbunga-bunga walau nilai pencerahannya nggak ada-ada banget. Ada satu bagian yaitu chapter 11 yang menggambarkan petualangan Dorian mengejar hal-hal yang keduniawian banget. Dia berpindah-pindah pekerjaan. Mempelajari banyak hal yang sebenarnya dangkal. Ngeracik parfum lah, apa lah. Tapi bagian ini digambarkan dengan pilihan kata-kata yang cantik.

Yang berlebihan ternyata ga selamanya oke. Buat saya, hal indah itu jadi terlalu bertele-tele sih sehingga banyak yang jadi di-skim dan di-skip aja bacanya. Walaupun begitu, bagian ini menghibur juga. Lumayan menambah wawasan tentang hal-hal cetek di zaman Victorian. Panjang banget dan rinci.

Akan tetapi, kalau mau dibilang pure banget Oscar Wilde ini mentingin keindahan di atas otak, moral, dan lain-lain, sebenarnya rada kontradiktif sih. Jadi, Dorian Gray ini kan ceritanya tumbuh jadi orang yang hedon banget. Itu semua berkat andil Lord Henry Wotton (Harry) yang membentuk dia menjadi orang yang seperti itu.

Nah kalau ditarik lagi, jadi sebenarnya Dorian Gray ini terpesona sama otaknya Harry kan, bukan sama keindahan? Padahal mah, kalau mau sama yang indah-indah, temenan aja terus sama Basil. Jelas, lah. Seniman gitu lho.

Tapi saya bisa mengerti Dorian juga. Mungkin dia males juga dipandang sebagai objek sama Basil, jadi karya seni doang. Kalau kita perhatikan lagi, gak pernah tuh Basil bilang Dorian "handsome" yang walaupun main gender, tapi jelas, yang ditunjuk hampir pasti orang. Dia selalu bilang "beautiful", yang terlalu umum. Bisa buat nyebut apa aja termasuk bunga di taman, baju diskonan, kemeja bapakmu, dan sebagainya.

Yang paling saya suka dari novel ini sih tentu aja endingnya. Dari halaman 100an sampai ketika wajah Dorian di lukisan berubah-ubah jadi makin seram dan jelek, jelas lah ya kalau ini rada horor. Akan tetapi, ga nyangka aja kalau endingnya bakal ngasih kesan sekuat ini. Yah, efeknya sama seperti ketika kita baca karya-karyanya Edgar Allen Poe yang kayaknya emang sakit deh.

Terlepas dari pendapat-pendapat saya, secara keseluruhan The Picture of Dorian Gray ini asik kok buat hiburan. Cukup ringan lah buat bacaan di kala stres. Nggak usah didalamin, dinikmatin aja. Ingat, keindahan di atas segalanya.

***

Pusing ga sih bacanya? Aku nulisnya juga pusing. Hahaha. Udah ah. Bye.

Monday, July 25, 2016

Cara Menabung dengan Gaji yang Pas-Pasan

Saat lulus kuliah, gak pernah saya menyangka beberapa tahun kemudian saya akan men-share hal receh (literally) seperti cara menabung dengan gaji yang pas-pasan di blog saya beberapa tahun kemudian. Biasa lah, namanya juga mahasiswa lulusan universitas negeri. Merasa paling pinter sedunia

Kasian deh kamuh. Kirain setelah beberapa tahun kerja, bakalan langsung kaya. *tabok.

Harsh truth: bekerja di perusahaan besar gak ngejamin gajinya besar juga. Tapi para pejuang belantara beton Jakarta pastinya udah tau kenyataan ini tanpa harus saya kasih tau.

Jangan sedih, jangan gundah. Kunci hidup bahagia adalah hati yang lapang, bukan? (bukaaan...). Ya tapi jangan songong juga. Kalau sudah tau gaji pas-pasan, jangan dipaksa ngegaul berlebihan. Apalagi kalau kamu nasibnya sama kayak saya yang lagi butuh ngumpulin duit banyak buat melakukan sesuatu.

Agar lebih membantu kamu dalam mengatur keuangan, berikut ini, saya hadirkan Cara Menabung dengan Gaji yang Pas-Pasan ala Cewek Unorganized Pengen Kaya 2017. Selamat mengikuti!

Autodebet is lyfe

Apa kamu kesulitan mendisiplinkan diri dalam menabung? Kalau iya, berarti kita senasib. Saya memiliki dua rekening tabungan. Rekening A saya gunakan untuk menabung, sementara itu rekening B saya gunakan untuk menerima gaji dan keperluan sehari-hari.

Teorinya: hal ini akan membantu dalam menabung lebih cepat.
Faktanya: saya sering gak disiplin sehingga uang tabungan di rekening A terambil juga.

Hasilnya? Tentu saja fatal banget. Uang tabungan saya menyusut 40% dari target. Pacar saya yang notabene Padang totok pun memutuskan buat menyeret saya ke jurang reksadana autodebet. Akhirnya saya bikin akun reksadana di Bareksa.com yang merupakan... kantor pacar saya juga sih. *terbujuk rayu.

Persentase duit yang saya alokasikan buat reksadana ini cukup bikin engap, 56,25% dari gaji saya. Ini adalah kompensasi sih, dari kebiasaan foya-foya kemarin. Buat nutupin si 40% yang hilang itu :(


Jajanin adek > Zakat

Sungguh saya gak ngerti dan pingin jedot-jedotin kepala ketika teman-teman saya mulai berzakat sementara saya sendiri belom wajib zakat harta. Zzz. Harta kita wajib dizakatkan ketika mencapai nisab tertentu. Dilihat dari nisab emas, berarti ketika tabungan kita mencapai 20 dinar atau 85 gram emas (kira-kira 50 juta rupiah). Harta tersebut juga udah harus dimiliki selama setahun.

Berhubung saya belum pernah nabung duit segitu banyak, jadi saya belom merasa wajib zakat. *jangan ditiru.

Agar saya merasa lapang, saya merasa lebih baik ngasih duit jajan ke adik-adik saya. Ikhlas apa enggaknya saya gak tau, karna jujur, tiap ngasi duit saya ngarepin timbal balik, yaitu muka seneng mereka pas dikasih duit. Duh, hilang capek kakak, dik. *tapi boong* *minta pijitin*.

Oh iya, untuk keperluan ini, saya menyisihkan 12,5% dari gaji saya.


Duit makan + bensin

Inget atau tahu artikel buzzfeed tentang generasi millenial yang kelaperan, ga punya duit, tapi maksa ngikutin tren? Artikel itu cukup nampar sih karena "gue banget" walaupun saya gak separah itu, gak sampe kelaperan dan gak punya ongkos. Tapi jujur, saya banyakan nyisihin duit buat jalan-jalan dan belanja daripada duit makan dan bensin sehari-hari.

Alhamdulillah, hal ini gak jadi masalah karena gaya hidup weekdays saya ditunjang oleh kantin murah dan bensin pertalite. Hidup receh! Perharinya saya cuma sangu Rp20,000. Perminggunya cuma isi bensin Rp 20,000. Pos ini cuma menghabiskan 12%-15% dari gaji saya. Ihik. Itu udah kenyang banget loh. Alhamdulillah gak sampe kelaperan atau pulang jalan kaki kayak di artikel itu.


Foya-Foya + Pulsa

Pada akhirnya, kita semua butuh hiburan. Di sini saya menghabiskan 16,25%-19,25% dari gaji saya. Biasanya uang ini saya pake beli paket internet, nonton, nyobain makanan baru, ikut paket tur/open trip murah, juga beli baju. Duit tak terduga pun saya diambil dari pos ini. Tapi biaya ga terduga bulanan itu ga banyak. Palingan buat tambal ban motor kalo bocor.


Nah, itulah cara saya menabung dengan gaji yang pas-pasan secara ekstrem. Cara mengatur keuangan ini sebenarnya cukup penuh penyesalan karena gak nabung dari dulu-dulu. Penyesalannya, kalo dari dulu saya udah kenal sistem autodebet dan cuma autodebet 25-30% gaji pun, sekarang ini saya udah mampu beli paket tur ke Iceland dan tetap bisa foya-foya TT__TT.

Makanya dik, ketahuilah ya. Menyisihkan 30% gajimu buat ditabung (tips dan standar menabung paling standar di seluruh dunia) itu ga pernah salah. Kalau bisa, dari gaji pertama saat first job pun udah harus dilakuin, deh.

Lalu, ingatlah bahwa 30% ini ga boleh diutik-utik sama sekali kecuali kalo kamu mau nikah, beli rumah, atau beli mobil. Kalo mau beli barang mewah atau paket trip mahal, ya kamu harus punya tabungan sendiri di luar si 30% itu.

Dengan melakukan hal tersebut, kamu akan terhindar dari kejadian yang saya alami sekarang ini. Ha ha ha. Tapi gak papa juga sih. Lumayan seru, deg-degan.


Selamat menabung, teman-teman!

Adios,
Dina

Monday, October 19, 2015

Lombok Day 6: Dari Pasir Pink Tangsi hingga Oleh-Oleh khas Mataram

Baca rekomendasi saya mengenai tempat wisata kuliner oke di Gili Trawangan pada tautan ini.

***


Hari keenam ini merupakan hari kami bertolak dari Gili Trawangan untuk kembali ke daratan Lombok. Tujuan kami kali ini adalah Mataram buat beli oleh-oleh. Akan tetapi, karena masih banyak waktu, kami pun memutuskan buat menyambangi Pink Beach dahulu.

Perjalanan dari pelabuhan speedboat kami di Bangsal menuju ke Pink Beach membutuhkan waktu sekitar empat jam. Memang lama, namun jalanannya gak seekstrim perjalanan ke Sembalun atau Senaru. Pun banyak diisi dengan tidur mangap-mangap sepanjang jalan.

Selama perjalanan, saya memperhatikan kalau banyak banget yang jualan semangka. Baru tahu kalau di Lombok ini banyak kebunnya. Rasanya pun sangat manis. Ibu saya yang ga tahan liat sesuatu yang harganya murah pun membeli banyak buah ini. Ketika ga habis, tebak dong siapa yang dijejali?

Di perjalanan, saya terpesona sekaligus kasihan melihat keadaan Lombok. Kelihatannya kering dan meranggas banget, herannya kolam renang di hotelnya gede-gede. Tapi jujur sepertinya malah kekeringan Lombok ini yang bikin alamnya eksotis. Banyak bukit hijau meranggas dengan motif cokelat dan abu-abu dari tanah merah kering dan batu, yang mana kalau difoto bikin warnanya keren. Hijau kecokelatan yang earthy sekali.


Cantik-cantik meranggas

Jika anda menemukan banyak pohon seperti foto di atas, tandanya anda sudah dekat dengan Pink Beach. Jalanannya di sini pun sepi sehingga saya dan adik-adik memanfaatkan momen ini buat ganti baju di dalam mobil. Dari niat foto-foto doang karena udah lelah di Gili, tiba-tiba mau berenang karena panas dan gersang sekali.

Tak lama kemudian, sampailah kami di Pink Beach. Tak perlu berpanjang tutur kata, berikut ini saya hadirkan penampakannya.


Pantai cantik yang lumayan sepi


Niatnya galau ala-ala candid, tapi kok stupid juga ngadep tebing begitu


Ibu saya yang berpakaian lengkap karena tidak suka main di pantai


Kapal yang siap membawa kita ke pulau-pulau kecil


Pantai Pink yang lebih akrab disapa penduduk dengan Pantai Tangsi ini sebenarnya gak terlalu pink, melainkan cenderung ke tan. Jika dilihat lebih seksama, butiran pasir berwarna merah itu akan terlihat. Pasir unik ini terbentuk dari mikroorganisme berwarna merah yang bersimbiosis dengan karang pantai.

Suasana pantai ini jauh lebih sepi daripada pantai-pantai di Gili. Warna air yang jadi berwarna toska bikin kami jadi semangat nyebur. Walaupun matahari lagi terik-teriknya, kami cuek berenang berbekal olesan sunblock tiap setengah jam.

Di pantai ini, saya melepaskan hasrat berenang di pantai Lombok yang sedihnya baru tercapai di hari tersebut. Sejauh ini, memang Pink Beach lah yang paling aman direnangi. Pantai curam Senggigi bikin kami hanya bisa susur pantai dari ujung ke ujung sementara pantai di Gili beraksesoris karang kecil-kecil nan tajam, pun kapal yang lagi parkir.

Berenang di Pink Beach ini memang bikin bahagia. Di bibir pantai, kita akan menginjak banyak pecahan karang. Berjalan sedikit lebih jauh, kaki pun bertemu hamparan pasir yang lembut dengan sedikit suluran rumput laut. Makin ke tengah, tentunya dengan kedalaman yang pelan-pelan bertambah, suhu air makin menurun. Sedap! Di sinilah kalau bisa saya gak mau menyembulkan kepala sama sekali, soalnya suhu air yang sejuk sangat kontras dengan suhu udara yang menyengat.

Puas berenang, saya dan adik pun harus membilas badan. Sayangnya, fasilitas umum benar-benar tidak memadai, bahkan toilet pun tidak ada. Hanya terdapat bilik bambu tipis dengan ember-ember air untuk sekedar membilas. Tentunya kita harus tau diri untuk ga buang air di sini. Warga pengelola bilik mandi mengenakan biaya 10.000 rupiah tiap satu ember air yang kita habiskan. Embernya sendiri cukup besar. Kalau mandinya ga heboh, duit ceban itu cukup untuk bayarin dua orang mandi.

Setelah puas main di sini, kami pun menuju Mataram. Tempat kami menginap adalah Lombok Raya Hotel. Hotel ini punya dua bagian, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Kamar yang kami pesan ada di bangunan lama sehingga rasanya malam hari cukup menyeramkan. Sebaliknya, restoran dan kolam renang berada di bangunan baru yang desainnya jauh berbeda. Jika tak ingat kalau besok adalah hari terakhir perjalanan dan semua baju sudah harus kering, pasti saya pengen banget nyebur.


Penampakan si hotel. Photo Courtesy of pegipegi.com

Di Mataram ini pula, saya akhirnya menyambangi McDonalds. Memang ga penting dan ga sehat sih, tapi ini udah kayak tradisi sendiri di mana ada satu hari yang didedikasikan untuk McD selama kami tamasya sekeluarga. Lol.

Di malam hari ini, kami berburu oleh-oleh. Jika kamu gak punya banyak waktu, saya merekomendasikan pusat oleh-oleh Sasaku buat beli buah tangan. Produk utamanya adalah kaos berbahan bagus dengan motif khas Lombok, tapi di sini banyak pula oleh-oleh lain seperti camilan khas Lombok, kain, celana bermotif, tas, bahkan kotak lipstik. Letaknya di pusat kota dan alamatnya bisa dilihat di bawah ini.


Photo Courtesy of TheDaysofYayang

Buntelan oleh-oleh sebanyak satu kardus penuh mengakhiri tamasya singkat kami di Mataram. Rasanya masih banyak sekali tempat yang ingin dikunjungi. Seandainya satu hari itu lebih dari 24 jam... *sigh*