Tuesday, August 14, 2018

Kopi Panas



Nampaknya hari ini adalah hari pertama saya pergi sendirian ke mall setelah sekian lamanya ada yang bersedia menemani ke mana-mana. Dahulu, saya pernah, kok, mengalami masa-masa anti bersosialisasi yang membuat kesendirian terasa normal dan menyenangkan. Sekarang, kembali ke masa itu, kok, rasanya jadi sepi sekali, ya?

Sebagai anak kota, mall adalah tempat yang paling menyenangkan buat saya. Saya bukan anak alam, tidak hobi traveling pula. Bahkan, ada kawan yang pernah bergurau bahwa Gandaria City adalah rumah kedua saya saking saya hafal seluk-beluknya. Tapi, akhir-akhir ini saya lagi suka ke Mall Pondok Indah.

Ini adalah sebuah tempat yang sebenarnya nostalgic buat saya. Sekitar sepuluh tahun lalu, setiap siang, mall ini dipenuhi anak-anak SMA dengan jaket almamater berwarna-warni. Noraknya bukan main. Waktu SMP dan masih berlangganan majalah remaja, saya dan kawan-kawan kerap kali bermain dress up sekeren mungkin. Tentunya bajunya minjem teman karena dulu duit jajan saya sedikit. Lalu, ketika selesai, keluarlah celetukan bloon:

“Nah, udah gaul banget, nih, buat ke PIM!”

Sepuluh tahun kemudian, nggak ada yang tahu kalau mall tersebut justru jadi tempat yang hitungannya sepi banget. Dan akhirnya saya pilih juga untuk belajar lagi menikmati kesendirian saya. Tadinya, hari ini saya ke sana cuma buat ke Starbucks di Street Gallery, nongkrong di luar, area smoking. Duduk-duduk sambil seruput kopi.

Jakarta lagi gerah-gerahnya. Tapi suasana hati saya lagi dingin-dinginnya.

Eh, malah pergi cari bedak, lah. Cari baju, lah.

Dua tahun ini, saya benar-benar jarang sekali beli-beli baju. Ada untungnya punya adik dan ibu yang selera pakaiannya mirip saya. Jadilah saya sering meminjam baju. Minggu lalu saya baru sadar, saya hanya punya 5 potong baju pergi dan 3 buah celana yang proper.

Saya sampai enggak tahu lagi harus cari baju di mana sampai saya teringat kantung-kantung belanja  bertuliskan Stradivarius punya adik saya. Maka ke sanalah saya melangkah.

Sayangnya, kebetulan ini adalah bulan Agustus dan lagi musim panas di belahan utara sana sehingga semua pakaian nampak sangat cerah. Tidak ada satu pun pakaian yang cocok dengan saya. Semuanya berbahan mirip chiffon. Terlalu mengembang.

Di kamar pas, hari ini, akhirnya saya jadi mengenali lagi bentuk tubuh saya. Saya nggak cocok pakai baju yang berbahan ringan. Harus agak berat dan kaku sehingga tidak membuat tubuh saya terlalu besar, tetapi tetap bisa enggak terlalu mengikuti bentuk tubuh.

Baju seperti ini nggak ada di summer collection-nya Stradivarius. Lagipula, ternyata yang belanja di sana memang kaum instagram pada umumnya. Cakep-cakep banget sih nih orang-orang? Nggak ada yang bentukannya simpel aja seperti saya.

Sebagai perempuan berumur 25 tahun (yang kayaknya, sih, bukan target market Stradivarius), akhirnya saya berusaha untuk nggak sok muda dan melangkah ke toko pakaian yang agak sepi, Et Cetera. Ternyata lebih mudah cari pakaian di sana. Lebih klasik tapi nggak terlalu plain. Cuma butuh waktu setengah jam untuk mencari dua lembar pakaian. Satunya sweater, satunya blus tapi bahannya mirip kaos. Semuanya berwarna monoton. Tapi, saya nyamannya pakai yang seperti itu.

Saya kembali memasuki kamar pas. Kembali melihat-lihat bentuk tubuh saya. Saya baru ngeh, bentuk tubuh saya maskulin sekali. Bahu saya sangat lebar. Soalnya, dari kecil saya suka berenang. Saya jadi bingung harus mencari pakaian seperti apa. Di kamar pas ini, saya jadi paham kenapa saya sebel betul beli-beli baju.

Lima menit mematung, saya pun berpikir, “ah, fuck it, my shoulder’s awesome”, dan langsung menuju ke meja kasir.

Hari ini, saya jadi tahu, saya harus selalu beli baju di Et Cetera saja. Dan nomor baju saya adalah 8. Demi mempermudah hidup dan mempersingkat waktu, lebih baik seperti ini. Efisien.

Setelah membeli baju, saya melangkah ke drugstore. Soalnya bedak tabur saya habis. Lantas, saya langsung menuju ke konter sebuah merk kosmetik yang identik dengan kata halal itu. Merk kosmetik yang harusnya jadi bahan penelitian para feminis. Kulit saya ini nggak gelap-gelap amat, kok. Tapi kenapa saya harus selalu membeli dempul muka yang shade warnanya paling gelap di sini?

Tangan saya dengan cepat menyentuh bedak yang biasa saya beli, tapi hari ini saya lagi kepingin sesuatu yang beda. Alih-alih membeli bedak tabur, saya membeli bedak compact. Tetap, shadenya paling gelap.

Dasar, merk bule-sentris. Atau arab-sentris? Karena cocok dan murah, tetap saya beli juga, akhirnya.

Dari sana, saya berniat menunaikan keinginan hari ini. Beli kopi sambil nongkrong-nongkrong di luar Starbucks. Dua minggu terakhir, saya semacam punya nafsu makan yang ekstrim. Entah ingin makan banyak banget, atau enggak pingin makan sama sekali. Hari ini kebetulan lagi berada di opsi kedua. Hanya ingin ngopi.

Sayangnya, asam lambung nggak mengizinkan. Lagi-lagi, saya melangkah ke tempat lain. Sebuah restoran Jepang yang kayaknya murah, gitu. Masak, ada gyudon mozzarella, harganya cuma 30 ribuan?

Saya duduk di sana, menikmati makanan itu sendirian. Saat itu, saya baru sadar kalau seenak apapun makanannya, memang lebih enak kalo dinikmati bareng orang lain. Sumpah, makanan itu secara cita rasa enak banget.

Namun, nggak ada yang duduk di samping saya sambil ngomong betapa enaknya rasa makanan itu. Lebih parahnya lagi, saya nggak tahu sebenarnya sosok seperti ini apa yang saya inginkan menemani saya makan waktu itu. Saya cuma kangen ditemani makan oleh orang yang saya sayang. Saya juga kangen dirangkul dan diusap-usap punggungnya.

Bloonnya, saya nggak tahu harus kangen sama siapa. Ini perasaan yang nggak enak banget sehingga saya terpaksa menghabiskan makanan itu cepat-cepat dan menghabiskan minumannya cepat-cepat juga.

Brengsek, ocha-nya dingin banget. Es semua. Lagian, ocha apaan warnanya cokelat begitu? Saya makin pingin minum kopi. Sudahlah hati dingin, muka juga ikutan dingin. Kaki saya cepat melangkah ke luar restoran gyudon yang saya lupa namanya itu. Ingin cepat-cepat bertemu dengan singgasana kebanggaan saya, bangku luar Starbucks, area smoking.

Hari itu, baristanya ternyata baru. Orangnya sangat ramah dan well-mannered. Cantik dan bersih pula. Nampaknya dia adalah mahasiswa yang lagi cari uang tambahan.

Saya sangat jarang membeli kopi panas. Namun, setelah macam-macam hal yang berkecamuk di hati saya yang lagi dingin-dinginnya itu, kopi panas adalah hal yang satu-satunya saya inginkan di hari itu. Rasa-rasanya, kalau saya mati setelah membeli kopi panas itu, kayaknya saya bakalan ikhlas dan nggak gentayangan.

Kembalilah saya ke singgasana kebanggaan saya itu. Sekali lagi, hari itu gerah banget dan kopi saya panas banget. Suhu paling tepat untuk membuat espresso adalah suhu yang paling dekat dengan 96 derajat Celsius dan saya yakin Starbucks adalah coffee shop yang cukup proper untuk menerapkan kaidah itu.

Jadi, kopi panas yang saya beli itu tentunya nggak bisa langsung saya minum.

Saya bengong sejenak memikirkan diri saya sendiri. Ada apa, sih, dengan diri saya? Kenapa, sih, hari ini saya baru sadar, saya enggak kenal-kenal amat dengan diri saya sendiri. Saya ini maunya apa, sih?

Apakah jawabannya adalah steady relationship? Hal itu kayaknya akan membuat saya merasa aman dengan masa depan saya. Hubungan yang kuat kayaknya juga akan membuat saya merasa nyaman dengan diri saya di pertengahan umur 25 ini, ketika teman-teman satu per satu mulai menikah dan punya anak.

Eh, tapi sialnya saya enggak suka dengan komitmen, tuh. Saya juga baru sadar, komitmen kepada seseorang dan percaya kepada institusi pernikahan yang entah kenapa harus banget saya jalani di masa depan inilah yang bikin saya enggak kenal lagi dengan diri saya sendiri. Kenapa, sih, saya harus banget mempedulikan orang lain? Memangnya, orang itu bakalan peduli sama saya juga?

Setelah ketemu apa masalahnya, saya kembali seruput kopi saya. Kopinya udah nggak terlalu panas. Lidah saya juga nggak terbakar. Pelan-pelan saya teguk kopi yang sudah berada di rongga mulut saya itu. Hangatnya sampai dada. Kayaknya satu masalah ini terpecahkan.

Mau nggak mau, saya harus nyaman dan selesai dengan diri saya sendiri. Pria itu ada banyak. Seperti layaknya pakaian yang saya beli tadi, semua orang punya target market sendiri.

(What the fuck? Did I just positioned myself as a commodity?)

Lalu saya sempat curhat pula dengan circle teman perempuan saya. Ternyata, ada pula salah satu teman yang kira-kira mengalami masalah yang mirip-mirip dengan saya. Nampaknya, masalah dia lebih berat. Namun, ketika dipikir-pikir lagi, masalah semua teman-teman saya di circle itu memang lebih berat daripada masalah saya.

Somehow, mereka masih bisa semacam menaklukkan dunia. Untuk berpikiran positif, memang harus dekat-dekat dengan orang yang either positif banget. Atau, kalau enggak positif banget, ya lucu banget.

Saya jadi mikir, saya enggak boleh, nih, kalah sama hidup. Saya nggak boleh cengeng.

Di situ saya mensyukuri adanya teman-teman saya. Bukan cuma yang ada di circle itu, tapi juga circle-circle lainnya. Saya nggak pernah sendirian. Sambil meminum kopi lagi, saya jadi pengen gebuk diri sendiri atas ketidakbersyukuran hari ini. Pingin saya siram ke muka aja itu kopinya.

Lantas, saya coba buka lagi satu-satu apa yang saya inginkan dalam hidup kalau pada akhirnya saya benar-benar akan sendiri secara hubungan percintaan. Ada banyak, ternyata. Saya mau jadi dosen karena saya merasa mau sekolah di mana pun, pada akhirnya dosen-lah yang banyak membentuk pemikiran kita. Pendidikan S1. Mau selesai atau tidak, dosen tampak punya wisdom yang bikin kita patut merasa harus mendengarkannya. Jadi, kalau saya mau bikin negara yang fucked up ini jadi sedikit lebih baik, saya harus jadi dosen.

Selama ini, saya berpendapat kalau saya harus membuat nusa dan bangsa ini berguna buat saya. Namun, pada akhirnya saya sadar kalau saya nggak mau tumbuh jadi sampah. Saya harus berguna juga buat nusa dan bangsa.

(Apaan, sih? Kenapa diksi yang dipilih sama buku-buku Kemendikbud buat mencuci otak anak-anak harus nusa dan bangsa, coba? Klise banget. Kadang-kadang suka ditambahkan agama, pula.)

Sudah, lah. Intinya saya harus jadi orang yang berguna.

Lalu, apa langkah selanjutnya? Saya harus ingat lagi gimana caranya nulis academic paper. Gimana caranya membuat diri saya ini peka dan pinter lagi setelah 5 tahun lamanya terbiasa menulis yang ringan-ringan saja.

Sembari lanjut mengurai masalah, saya makin sadar kalau inilah yang harus saya taklukkan. Diri saya sendiri. Ini caranya buat bikin diri sendiri merasa aman. Saya mesti percaya kalau dalam hidup ini, yang harus steady itu bukan relationship percintaan, tapi kedua kaki saya sendiri.

Pelan-pelan kopi saya habis. Saya pesan ojek online. Lalu saya turun ke bawah. Melewati drugstore tempat saya beli bedak tadi untuk pergi ke pintu keluar yang masih buka. Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kebanyakan pintu keluar sudah ditutup.

Sembari saya melewati drugstore itu, saya baru sadar ada yang lupa saya beli. Nail polish. Kuku saya sudah lama kosong.

Iya, nail polish. Hari ini, saya lagi haid hari kedua.

Saturday, January 27, 2018

Selamat Ulang Tahun untuk Saya

Beberapa tahun ini, Januari selalu jadi bulan yang berat untuk saya. Seringkali bulan tersebut saya jalani sambil menangisi isi dompet karena habis hura-hura di bulan Desember. I hate January, walaupun di bulan tersebut, saya merayakan ulang tahun.

Hari ini saya berulang tahun ke 25. Sebuah umur yang sangatlah sakral buat banyak orang. Umur 25, angka cantik yang menandakan bahwa seseorang mencapai umur 1/4 abad, juga jadi tonggak bahwa ia telah menjalani 1/3 hidupnya (ya, kalau 75 jadi tolak ukur harapan hidup manusia). Pada dasarnya, umur ini sering dijadikan sebuah milestone.

Apalagi kalau cewek. "Umur 25 mesti nikah! Umur 25 mesti punya anak!" dll dsb.

Sayangnya, ulang tahun enggak pernah saya anggap penting. Pada dasarnya, semua perayaan itu enggak penting buat saya, kecuali perayaan resign ha ha ha. Toh kalau berbicara goals atau milestone, sebenarnya saya enggak pernah benar-benar punya mimpi yang tinggi. Semuanya konkrit tapi receh. Misalnya:

- bulan segini harus punya sepatu A.
- gajian ke sekian harus makan di restoran B.
- tanggal segini harus punya duit sejumlah C.
- liburan nanti harus pergi ke D.
- job E harus saya kejar dan pepet terus sampai dapat.

dsb dst. Itu juga kalo enggak kesampaian ya sudah, enggak misuh atau nesu. Yaa enggak semuanya harus tercapai lah ya. Emangnya eug siapa? Hitler? Anak raja?

(Indonesia mestinya membasmi populasi manusia kurang pencapaian kayak saya gini nih, nanti enggak maju-maju.)

Seringkali saya menganggap diri saya ini butiran debu, enggak penting-penting amat di dunia ini. Lagi-lagi pada dasarnya, saya memang menganggap semua manusia itu sama enggak pentingnya sih buat dunia. Tau kaaan, teori yang menyamakan peran manusia untuk bumi itu sama saja seperti peran virus untuk tubuh manusia. Jadi, buat apakah pencapaian?

(Sampai sini kamu pasti menganggap saya nih manusia enggak punya tujuan hidup dan enggak pantes dapat apa-apa. Ya sebenarnya saya juga punya anggapan yang sama buat diri saya sendiri sih).

Sayangnya, di detik-detik menuju umur 25 tahun ini, ada seorang manusia bernama Muhammad Hurairah Gilang Permato Yoza yang menyuguhkan sesuatu, membuat saya berpikir kalau semua pemikiran saya itu mungkin saja salah.

Dimulai dari tanggal 26 Januari 2018 pukul 4 sore, di mana pintu kamar kerja saya diketuk dan pas dibuka, datanglah manusia ini tapi tidak sendirian. Dia membawa sebuah pickup bersama 2 laki-laki lainnya, lengkap dengan isian pickupnya. Seperangkat meja kantor dan kursi kantor, barang-barang yang saya idamkan.Sebuah perwujudan akan harapannya agar saya lebih bisa produktif, bukan bekerja lebih keras melainkan lebih cerdas.

Saya memberikan pelukan hangat. Kami ngobrol dan makan bersama. Seperti biasa, tapi dengan tatapan tidak percaya dari saya. Sampai-sampai rasanya saya ingin sekali mengganti harga seperangkat alat kantor ini. Barang-barang yang mestinya saya beli sendiri, tapi laki-laki ini super keukeuh ingin memberikannya.

Setelah itu dia pulang sekitar pukul 8 malam karena ada meeting di suatu daerah di bilangan Jakarta Selatan. Saya bilang, lebih baik langsung pulang saja setelahnya. Gak usah pulang lagi ke rumah saya.

(Di hari itu saya sendirian di rumah dan jujur rada takut. Entah kenapa di hari itu adik-adik saya pergi semua, enggak ada yang menemani saya. Aseum. Orangtua juga lagi pulang kampung.)

Tapi, pukul 12 malam, tiba-tiba dia menelepon saya lewat video call. Kembali ke depan rumah saya lagi.

"Happy birthday," katanya sambil memberikan kado. Lantas dia memakaikan saya helm dan menyuruh saya menggendong tasnya sambil menghadap ke luar rumah macam orang bodoh saja. Katanya hukuman karena saya lama membuka pintu.

Saat menghadap belakang, adik-adik saya dan dia sudah siap dengan kue dan lilin. Klasik banget ha ha ha. Kapan juga adik saya beli kuenya. Enggak jelas.
Saat meniup lilin, saya menghaturkan doa-doa bukan kepada diri saya, melainkan kepada mereka. Semoga Tasya naik IPKnya sampai cum laude, semoga Nadia masuk ITB/UGM/Unbraw, semoga Gilang lancar rezekinya.

Tidak berapa lama, orangtua pulang dari Medan. Gilang masuk kamar kerja saya untuk meminjam laptop. Dugaan saya, itu digunakan untuk mengurusi hasil meeting tadi. Kasian punya pacar ga ada laptop.

Ternyata dia menunjukkan sesuatu, yakni video yang dia buat bersama temannya. Isinya ucapan dari sahabat-sahabat saya dan sahabat-sahabat dia. Sampai sini pecah tangis saya. Pecah tangis karena:

- kok manusia ini secinta ini sama saya sampai mau-maunya melakukan hal ini?
- ucapan dari teman-teman tersayang yang membuat saya berpikir ternyata eksistensi saya lumayan menghibur buat mereka.

Percayalah, kalau kamu melihat video itu tanpa mengenal saya, kamu pasti berkesimpulan atau bertanya-tanya, manusia macam apakah saya ini?

Berikut adalah ucapan mereka yang saya rangkum.

- "Semoga enggak kerdus lagi. Udah ah males kasih wishnya" Fransisca, sahabat dari SMA.
- "Panjang umur dan sukses," Mardial, temannya Gilang, salah satu musisi/meme maker favorit saya. Obviously enggak kenal saya dilihat dari wishnya yang baik.
- "Semoga kuat menghadapi pertanyaan 'kapan?'. Semoga semua makin jelas," Laura Dame, mak comblang saya dan Gilang.
- "Semoga di tahun ANJING ini lo melangkah ke jejak yang lebih serius sama si Bapak (-ini maksudnya si Gilang-)," Amadea Hasmirna, SocMed Specialist slash sister di kantor lama.
- "Semoga lo gak kerdus lagi" ucapan anti kerdus kedua oleh Riyo Jatika, recipe writer di kantor lama.
- "Semoga dodo mimi cepat lahir," oleh Bella, desainer grafis kantor lama. (Dodo Mimi adalah nickname buat lemak perut saya yang berlipat. Kenapa Dodo dan Mimi? Karena saya suka Indomi.)
- "Semoga gw cepat sampai rumah," Cik Virny, editor di kantor lama, sudah jelas terlalu banyak bekerja.
- "Semoga makin itulah," Sabrina Alisa, habis diancam Amadea Hasmirna supaya enggak bilang semoga panjang umur.
- "Kurangi sidejob supaya enggak migren," Maulina, writer IdeaOnline slash temen zumba.
- "Perbanyak blowjob", Idho Nugroho, sobat cantikku yang sedikit tidak benar.
- "HBD WYATB APTB BPJS. Lo yang tau lah doa lo sendiri, semoga terkabul. Keren gak gw bikin video sambil jalan gini? " Erwin Ardiansyah sobs ens ku yang jaketnya selalu bagus.
- "Semoga cepat dihalalin," Novy, sahabat dari SMP.
- "Sukses selalu, makin berkah, panjang umur, banyak rejeki, cepet nikah, sekalian doain kita juga," Ashad dan Grace pasangan double date sahabat-sahabat Gilang semua.
- "Semoga ke depannya sukses terus, cepat nikah", Mama
- "Semoga cepat nikah dan beranak 30," Annisa, adik pertama.
- "Semoga tiap bulan kirim duit," Tasya, adik kedua.
- "Semoga cepat nikah" Nadin, adik bungsu.
- "Happy birthday," Bapak, not the most talkative person in the world.
- "..." kucing saya si Shadow, entah kenapa cukup syaraf buat mintain ucapan happy birthday dari seekor kucing.

Ya banyaknya orang-orang di video itu, belum lagi ucapan-ucapan dari kawan lainnya di pagi hari, membuat saya lumayan berpikir kalau kayaknya saya bukannya enggak penting-penting amat, tapi memang diri saya sendiri saja yang menganggap diri ini tidak penting.

At least di umur 25 ini, lagi-lagi saya kembali dengan harapan-harapan yang biasa saja. Semoga ucapan-ucapan baik dikabulkan dan berbalik ke diri sendiri yang mengucapkan. Karena sambil melihat video itu, saya sadar kalau saya memang gak suka-suka banget sama manusia karena memang gak hidup sama manusia. Mereka yang ada di video itu, orang-orang kesayangan di sekitar saya, adalah malaikat.

Termasuk kamu, Gilang, malaikat saya juga walau kalau lagi kambuh ya devil-devil juga tapi nga papa aq kuat.

Monday, January 1, 2018

Recap 2017 Soal Hubungan Terhadap Sesama Manusia

Mengawali 2017 dengan berkumpul bersama keluarga, rasanya cukup hangat, ya. Akhir-akhir ini saya lagi suka kumpul bareng mereka, tentunya dengan agenda melekatkan apa yang seharusnya lekat tapi ternyata tidak terlalu.

Funfact: beranak jangan banyak-banyak nantinya, satu atau dua aja.

Funfact lagi: Jadi orangtua itu berat. Rata-rata orangtua itu lebih baik daripada orangtuanya sendiri, tapi itu selalu enggak cukup bagi anaknya. Anak itu asshole.

Making up my assholeness in the past, rasanya saya kepingin jadi anak yang lebih berbakti. Tapi itu sulit ya.

Yang mana kepingin juga enggak tinggal lagi di rumah, udah mau umur 25 tahun. Tapi adat timur my ass, keluar dari rumah nanti disangka sakit hati sama orangtua ya ga si.

***

Semua keluarga itu disfungsional. Lucu banget rasanya di tahun 2017 kemarin pernikahan diglorifikasi di mana-mana. Saya juga udah ga punya harapan lagi soal visi misi menikah atau apalah itu.

Gak berarti saya punya hubungan percintaan yang tragis-tragis amat, ya. My boyfriend is an amazing man biarpun seringkali kumat gilanya (enggak, ga gila beneran. cuma lebay ini). I want to be with him but I don't want to get married.

Pernikahan itu kayak tuman, tau ga sih? Everything good about a relationship will be destroyed on the second people said "SAH" and baca doa bareng-bareng.

***

Ya, awali tahunmu dengan rasa pesimis. Pesimis akan pernikahan mungkin enggak apa-apa. Asal gak pesimis dengan hubungan pribadi dengan pasangan yang luar biasa. 2018 ini, ga usah pada kayak bedebah minta-minta dinikahin, ya, guys?

Everytime I saw "kapan aku mau dihalalin" in social media, a cat dies.

***

Boyfriend. Hari pertama 2018 diwarnai dengan saya curhat ke pacar seperti orang gila tapi lah dia yang nangis seperti bayi. Panjang lebar tinggi dalam curhatan ini diakhiri dengan puja-puji dia ke saya. Gantian saya yang nangis terharu.

Ada orang yang memberi rasa penghargaan setinggi itu ke saya, rasanya enggak percaya. I thought all this time I am just a whiny bitch. 2017, tahun penuh kegelapan buat keluarga, jungkir balik soal kerjaan, teman lama berubah menjadi tai, ya berat juga ya. I'm glad I survive.

***

The past is indeed painful, but our future should not. Cheers and I love you. Ayo kita minum vodka!

Friday, December 8, 2017

Kuncinya adalah Respek, Bukan Komunikasi

Merupakan sebuah klise membaca atau mendengar bahwa kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Saya sendiri agak merasa berat untuk membahas ini karena saya juga merasa kalau kegagalan hubungan saya yang lalu juga karena kurangnya komunikasi.

Pada suatu hari yang cerah dan sebenarnya tidak gabut walau digabut-gabutin, saya membaca di suatu media sosial tentang wawancara terhadap beberapa pasangan tua yang awet bertahun-tahun. Menurut mereka, komunikasi itu overrated. Apa yang membuat mereka bertahan adalah rasa respek.

Perihal respek dan komunikasi ini kalau dilihat sekilas seperti gak ada hubungannya, padahal ada.

Nih, kalau menganggap komunikasi adalah kunci, di hubungan kita, niscaya semuanya isinya obrolan.

Gimana kalau kita/pasangan lagi ada masalah, lalu enggak pingin ngobrol dan pingin diam sejenak mengurai benang-benang kusut yang ada di kepala, tapi pasangan/kita yang menggenggam prinsip "komunikasi adalah koentji", kebelet nanya, "ada apa, sih?" "cerita, dong"?

Kelar! Hooooi...obrolin yang penting-penting aja, sik!

***

Kegagalan hubungan saya yang paling pahit tentu saja hubungan yang sudah berjalan hampir 6 tahun itu. Walaupun saya sudah hampir 1 tahun bersama pacar yang sekarang, rasanya masih ada yang menghantui.

(Untung saya terbuka aja ya ngomongin masalah ini kalau sama pacar. Maklum, sama-sama produk dari hubungan yang gagal. Kadang saya curiga kami ini pelarian dari mantan pasangan masing-masing.)

Dulu, saya menganggap hubungan saya dan mantan pacar saya berakhir karena gagalnya komunikasi. Saya enggak tau, sih, kalau dia menganggapnya bagaimana. Tapi, saya udah nyaman dengan status pacaran, dan takut untuk menikah.

Ih, aneh banget ya, ada cewek takut menikah? Ha ha ha.

Saya takut dengan perubahan. Ketika menikah nanti (yang ternyata batal hahaha), ternyata saya diharapkan untuk jadi seorang ibu dan istri betulan. Visi masa depan kami benar-benar enggak pernah digambarkan sebelumnya. Saya jadi overwhelmed, kaget, panik, apalagi selama proses menyiapkan pernikahan (yang enggak jadi itu), saya merasa dibiarkan sendirian.

Saya jadi mikir, apa nanti di masa depan saya akan seperti ini? Mengerjakan semuanya sendiri mulai dari menjaga api di dapur tetap nyala, terima uang dari suami, mengurus anak sendiri, juga kerja yang asal terima duit aja tanpa memikirkan karier saya, karena yang penting adalah karier dia? Ikut dia kemana-mana sebagai pajangan tanpa dia peduli perasaan saya, apakah saya ngantuk, lapar, atau sebenarnya ingin bersama dia berdua saja?

Intinya saya merasa gagal berkomunikasi. Gagal banget. Selama 6 tahun kemarin, ngapain aja ya, kok enggak ada visinya? Kok yang begini-begini enggak pernah diobrolin? Kok kayak buang-buang waktu banget sih jadinya?

Seharusnya selama 6 tahun itu kami berkomunikasi dengan baik tentang masa depan. Fokus memperbaiki diri masing-masing. Bukan berusaha menerima apa adanya terus kok ujung-ujungnya wakwaw.

Ah, terlalu banyak "seharusnya kami..." terlalu banyak "what if..." yang bikin hati terenyuh kalau dijabarkan satu-satu.

*lalu OST La La Land "Epilogue" berkumandang kencang sekali di dalam kepala sampai mau pecah*

***

Sebenarnya, komunikasi dan respek itu bisa berjalan beriringan. Kita bahkan enggak harus berusaha berkomunikasi berlebihan kalau punya respek terhadap pasangan masing-masing.

Mungkin hubungan yang lalu itu bisa aja gak kandas kalau kami ini respek satu sama lain.

Saya respek ke dia dan aneka proyeknya.
Dia respek ke saya dengan tidak menjadikan saya aksesoris saja. Mengerti kalau saya ini manusia.

Tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu, ya. Kan saya udah punya penggantinya juga. Toh, setelah berpisah masing-masing, terbukti malah jadi lebih baik secara personal masing-masing. Dia jadi tidak terganggu oleh melancholic bitch macam saya, saya juga jadi lebih baik karena jadi tahu mau ngapain ke depannya (berkat mati-matian coba menghidupi diri sendiri karena akhirnya tahu kalau terlalu menggantungkan diri ke orang ya bisa mati beneran). Lalu akhirnya saya punya pasangan yang menganggap saya ini manusia.

***

Buat hubungan saya yang ini, saya benar-benar menganggap kami ini sama-sama berawal dari tanah dan coba berevolusi jadi manusia (iya saya percaya teori evolusi, tapi kali ini biarkan saya menggambarkannya dari agama, ya. Soalnya enggak enak kalau saya nulis "kami ini berasal dari neanderthal").

Yang jelasnya, kami tadinya sama-sama hancur, sama-sama enggak jelas mau ngapain. Tapi kami coba untuk sama-sama membangun diri jadi lebih baik lagi, secara personal ataupun hubungan. Dari yang enggak jelas mau ngapain, ujungnya saling membersihkan kanvas yang kotor sampai putih lagi, lalu coba dikasih warna yang diinginkan sama-sama.

Mudah? Enggak! Kami berantem besar kayaknya satu kali setiap sebulan ataupun dua bulan. Mudah banget keluar kata "putus" dari mulut saya. Entah itu karena dia yang terobsesi sama "komunikasi" tadi dan takut gagal lagi atau karena saya yang terlalu terobsesi mencari orang yang langsung "klik" sama saya dan masa depan ideal yang saya rancang sendiri di kala patah hati waktu itu.

***

Sejak tahu konsep "respek" itu, saya jadi ingin lebih mengaplikasikannya di hubungan ini.

Saya belum bilang ke dia, sih. Soalnya ingin saya tulis saja buat catatan pribadi. Dia kayaknya juga enggak baca blog ini hahaha.

Kayaknya saya harus lebih respek ke dia dengan cara membangun komunikasi seperti yang dia inginkan. Dia juga harus lebih respek ke saya dengan membiarkan saya yang seringkali pindah ke "silent mode" menguraikan hal yang njelimet di kepala dan enggak pingin ngapa-ngapain selain diam dan kerja.

Saya juga harus lebih respek ke dia dengan enggak sedikit-sedikit ingin "lari". Dia juga harus lebih respek ke saya dengan memperbaiki tabiatnya karena dia tahu sedikit-sedikit saya pinginnya "lari".

Lah, ternyata respek ujung-ujungnya ke komunikasi juga, ya? Tapi komunikasi yang lebih benar dan sehat. Ujung-ujungnya, semua soal mengubah persepsi aja.

Cobain, ah.

***

Haaah...sesungguhnya saya kepingin blog ini isinya hal-hal receh seperti dahulu kala. Life is getting harder, but we are getting tougher, no? Semoga, ya.

Wednesday, December 6, 2017

My Cheap Korean(ish) Skincare Routine Lately

Orang Korea berhasil “menjajah” cewek-cewek Indonesia dalam hal perawatan wajah alias skincare. Bravo banget. Bahkan cewek yang tergolong cuek seperti saya jadi ikut-ikutan. Sejak mengikuti Korean(ish) skincare routine dengan lumayan telaten, keadaan wajah saya jadi serba pas mulai dari warna, kelembaban, sampai teksturnya. Di dompet juga pas karena produk yang oke ternyata gak harus mahal.



Source: pixabay.com


(Tapi enggak langsung jadi cantik banget apa gimana sih, soalnya dikasih Tuhan segini aja tampangnya hahahaha)

Bukannya Orang Korea Cantik Berkat Operasi?


Bukan rahasia memang kalau kecantikan wajah cewek Korea banyak yang berasal dari operasi plastik. Oleh karena itu, hal ini sering jadi dalih orang malas (termasuk saya tadinya), buat ikut-ikutan perawatan wajah ala mereka.

Padahal, keadaan kulit itu sepertinya gak mesti berkat andil operasi plastik. Bolehlah mereka punya hidung mungil tapi mancung, bibir merah sehat, juga tulang rahang yang halus bentuknya. Namun, kulit yang sehat berasal dari perawatan yang baik, bukan dari operasi plastik.

Berhubung saya enggak suka ke salon untuk facial atau perawatan wajah lainnya, apalagi ke dokter kulit karena takut ketergantungan seperti jaman dahulu, opsi merawat kulit di rumah dengan produk-produk tertentu saya rasa masuk akal. Saya enggak pingin cantik yang gimana banget, sih. Saya cuma gak pingin ketika tua nanti, kulit muka rusak dan keriput enggak karuan. Maunya ketika tua nanti ya seperti Nigella Lawson (loh, kok bukan orang Korea goalsnya).

Perkara Cara, Bukan Produk


Alasan saya menyebut skincare routine ini Korean tapi pake embel-embel “-ish” adalah karena saya enggak banyak pakai produk Korea. Yang saya ikuti adalah routine-nya saja. Cewek Korea terkenal dengan perawatan muka berlapis-lapis yang banyak makan waktu. Namun, setelah riset kecil-kecilan dan langsung pakai ke muka, semuanya jadi masuk akal. Mereka mengaplikasikan 7 sampai 10 produk perawatan ke wajahnya setiap hari, pagi dan malam.

Cara ini yang saya tiru, walaupun stepnya enggak sebanyak itu.

Berikut ini adalah produk-produk yang saya pakai dan cukup efektif. Perlu teman-teman tahu bahwa skincare dan kulit kita itu jodoh-jodohan, jadi skincare ini juga belum tentu cocok di kulit kalian. Tujuan saya cuma ingin berbagi aja kalau ternyata harga dan nama besar produk belum tentu berbanding lurus dengan fungsinya.

Jadi, jangan cepet kemakan kata-kata beauty blogger dan selebgram yang diendorse sana-sini, oke?

Double Cleansing (Micellar Water dan Face Wash)


- Corine de Farme Purity Micellar Water 500 ml (Rp190.000)

 

Source: femaledaily.com

 

Karena kulit saya berminyak, saya jadi lebih memilih micellar water alih-alih cleansing oil. Agak enggak pede rasanya pakai produk yang oil-based ketika kulit sendiri udah seperti kilang minyak. Alasan memakai produk ini adalah harganya yang masuk akal dibandingkan dengan Bioderma Micellar Water dan hasilnya sama aja.

Kalau semua soal harga, kenapa enggak pakai micellar water yang low-end sekalian? Alasan pribadi saya itu kalau udah pake kata “water” ya teksturnya harus benar-benar berasa air di muka. Sementara itu, micellar water yang low-end masih terasa licin. Huuu tepu-tepu, nih.

- Pond’s Antibacterial Facial Scrub with Herbal Clay 100 gr (Rp24.000)

 

Source: tokopedia.com

 

Facial wash ini bisa kamu temukan di mana saja sampai ke warung kecil banget di pelosok. Harganya juga murah. Beres cuci muka dengan facial wash ini, segala minyak dan hinyai dijamin hilang tuntas walau jadi berasa agak kering. Kalau kamu jerawatan parah, lebih baik pakai produk lain yang enggak ada scrub-nya. Saya masih bisa pakai produk ini karena kini jerawat saya udah berkurang banyak dibandingkan saat dahulu kala muda bergelora.

Double Toning (Exfoliating dan Hydrating Toner)


- Pixi Glow Tonic 250 ml (Rp485.000)

 

Source: asos.com

Wow, mahal banget! Hahaha. Itulah akibat mendengarkan kata-kata beauty blogger yang tajir dari lahir. Namun, produk ini bagus, sih. Muka jadi berkurang gradakannya.

Kandungan aktif di dalam produk ini adalah glycolic acid 5%. Gunanya untuk mengeksfoliasi kulit alias mengangkat sel kulit mati secara kimiawi. Sayangnya, karena mahal banget, saya akan segera berpindah ke lain hati yakni kepada…

- The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution 240 ml (Rp177.000)

 

Source: theblondesalad.com

 

Belum bisa direview karena masih PO, but I expect the same, even better result. Soalnya kandungan aktifnya lebih tinggi tapi enggak terlalu tinggi. Rasanya kulit masih bisa menahan “kekerasan” bahan ini.

- Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Lotion 100 ml (Rp38.500)

 

Source: blibli.com

 

Walaupun kulit berminyak, kita enggak boleh enggak pakai pelembab kulit atau hydrating toner. Tujuan pelembab adalah menahan air di kulit, bukannya minyak. Hal itu diperlukan semua jenis kulit. Ketika kadar air di wajahmu kurang, kulit justru akan memproduksi lebih banyak minyak untuk melembabkannya. Bahaya, kan? Walaupun produk ini bertitel “lotion”, fungsi dan teksturnya menunjukkan bahwa jati diri si Gokujyun ini sesungguhnya benar-benar hydrating toner.

Serum


- The Ordinary Niacinamide 10% + Zinc 1% Shared Jar 10 ml (Rp 80.000)

 

Source: beautylish.com

 

Niacinamide alias vitamin B3 merupakan bahan yang mampu mengurangi jerawat dan mencegahnya kembali lagi serta meratakan dan mencerahkan warna kulit. Dari seluruh produk skincare saya, produk ini adalah yang PALING efektif menghadirkan hasil tersebut.

Oleh karena itu, saya berencana repurchase sebotol produknya sebanyak 30 ml, enggak shared jar lagi. Harganya Rp139.000. Wow, menang banyak si tukang shared jar kemarin itu.

Pelembab Pagi dan Malam


Ketika pecinta Korean skincare membedakan beberapa, bahkan seluruh produk di rutinitas skincarenya untuk pagi dan malam, saya cuma membedakan di lini pelembab ini saja. Sisanya sama-sama dipakai pagi dan malam.

- Pagi: The Body Shop Tea Tree Mattifying Lotion 50 ml (Rp189.000)

 

Source: Thebodyshop.com.my

Saya udah lama pakai produk ini karena sangat bisa menahan minyak di wajah agar tidak lebay mengucur dari pori-pori wajah. Bikin minyak di kulit gak gengges lagi. Jerawat pun jadi gak banyak keluar. Walaupun banyak orang bilang skincare dari The Body Shop gak recommended, buat saya seri Tea Tree itu lumayan banget, deh.

Minusnya, ia bisa terasa agak perih. Soalnya, memakai sesuatu dengan bahan tea tree di wajah seringkali berasa memakaikan minyak kayu putih, baik dari segi “kepedasan” maupun aroma. Selain itu, terasa pula kulit juga ini jadi berasa kering. Aneh, kan? Berminyak tapi sering terasa kering dan “ketarik”. Oleh karena itu saya akhir-akhir ini berusaha lebih melembabkan kulit, terutama dengan bantuan hydrating toner Hada Labo Gokujyun tadi.

- Malam: Pond’s White Beauty Night Cream 20 gr (Rp23.000)

 

Source: tokopedia.com

 

Sekali lagi, saya enggak ada maksud pingin bikin kulit terlihat lebih putih. Saya lebih menjaganya agar tidak jadi kusam aja. Nah, ternyata bahan aktif di krim malam satu ini adalah vitamin B3 alias niacinamide. Beda penyebutan, tingkat ke-fancy-annya jadi berkurang, ya? Harganya juga murah banget, hahaha. Jadi, selain mencerahkan kulit, saya juga percaya produk ini mampu melembabkan kulit saya di malam hari dan mencegah jerawat datang meradang.

SPF


Salah satu beauty writer favorit saya pernah bilang, semahal apapun skincare kamu, semuanya enggak guna kalau kamu tidak mengakhirinya dengan SPF. Saya udah membuktikannya dengan sebenar-benarnya kalau sinar matahari adalah musuh besar utama nan nyata. Kulit saya berbeda jauh kabarnya ketika masih ngantor dan ketika kerja di rumah. Padahal, saya di jalan ke kantor di pagi hari cuma selama setengah jam setiap harinya. Ya, mungkin ada juga andil polusi pengotor wajah yang mengenai kulit saya ketika saya pulang kantor setiap malamnya. Maklum, anak motor beb.

Oleh karena itu, pencarian SPF ini adalah pencarian skincare yang paling drama. Bayangkan, saya sudah berniat invest ingin pilih produk Korea asli saking pentingnya SPF ini. Saya beli The Face Shop Clean Face Oil Free Sun Cream Sunblock SPF 35 PA++ seharga Rp180.000an tapi tidak cocok, jerawatan parah karena mungkin formulanya terlalu kental sehingga menyumbat pori-pori. Kemudian, saya beli Laneige Suncare Sunblock Supreme SPF 50 PA+++ seharga Rp240.000an yang lebih ringan, tapi tetap tidak cocok.

Bayangkan betapa sakit hatinya sudah membuang-buang duit dengan dua jenis SPF tersebut, ketika akhirnya yang cocok di kulit adalah…(bandingkan harganya)

- Emina Sun Protection SPF 30 PA+++ 60 ml (Rp24.000)

 

 
Source: tokopedia.com

Produk lokal inilah yang akhirnya cocok di kulit saya dalam artian tidak menyebabkan jerawat dan bisa menjaga warna kulit jadi tidak kusam. Saat masih bekerja kantoran, wajah saya normal kondisi warnanya. Namun, ketika saya kerja di rumah, ternyata warna kulit tetap jadi lebih baik. Bahkan ketika saya tidak mengenakan SPF ini. Yaa, saya kan cuma pakai SPF kalau keluar rumah.

Jadi, saya berasumsi kalau SPF ini belum tentu maksimal juga hasilnya. Dia cuma mengurangi saja dampak cahaya matahari tersebut ke kulit kita, bukan memblok seluruhnya. Jadi, kalau tidak pingin terkena dampak sinar matahari secara berlebihan, tidak ada cara lain di samping berusaha menghindari sinar matahari langsung bagaimanapun caranya.

Tambahan Seminggu Sekali


Innisfree Super Volcanic Clay Mask 100 ml (Rp155.000)

 

Source: innisfreeworld.com

 


Masker clay dan mud memang cocok dipakai siapa saja yang kulitnya berminyak. Kemarin-kemarin, ada produk yang namanya Glamglow Supermask Clearing Treatment. Mahal banget coy, satu pcsnya sampai 900 ribu! Gila banget, kan? Akhirnya saya beli versi sampelnya saja seharga Rp250.000 dengan klaim penjual “Bisa untuk 5 kali pakai”. Saya pakai tipiiiis banget di muka. Jadi bisa pakai 7 kali hahaha. Memang bagus sih, tapi mahal. Gak bisa akutu.

Lalu, ada orang yang mereview dupe-nya Glamglow Supermud bernama Innisfree Super Volcano Clay Mask. Kebetulan pula teman kantor ada yang pingin beli. Jadilah saya titip ke dia. Hasilnya memuaskan banget karena selain murah, hasil yang diberikan itu sama dengan Glamglow Supermud. Wah, cinta deh sama produk ini.

Saya pakai seminggu sekali saja. Masker ini teksturnya jauh lebih berat daripada Glamglow Supermud jadi pakainya bisa dicampur rose water dulu. Tapi, saya suka langsung pakai aja dengan kuas masker. Ingat, pakai masker clay itu gak boleh sampai kering banget. 10 menit langsung cuci aja. Lebih dari itu, muka dijamin mengkeret karena kelembabannya ketarik semua.

Ya, itulah daftar skincare yang biasa saya kenakan. Phew! Gak berasa ngumpulin skincare, ternyata saya punya banyak. Pegel juga nulisnya. Kenapa saya baru berani review-review skincare saya, itu karena baru sekarang inilah saya merasa kalau aneka skincare ini memberikan dampak yang baik di kulit. Cerah, tapi gak putih. Lembab, tapi gak berminyak banget. Halus, tapi manusiawi lah ya kadang tetap ada jerawat satu-satu saat PMS walau gak ganggu banget. Kulit manusia, sih, bukan kulit porselen.

Ketika kulitmu udah lumayan baik, kamu jadi pede keluar rumah tanpa pakai makeup di kulit wajah. Saya enggak pernah lagi bedakan kecuali saat kondangan. Dengan pinsil alis, eyeliner, dan lipstik saja, udah siap banget go show deh. Makeup saya cuma ada tiga, pinsil alis Etude, eyeliner Lakme, dan lipstik matte Purbasari no. 83. Udah, itu aja. More skincare, less makeup. Beneran jadi ga niat beli-beli makeup.

Jadi, buat teman-teman, ternyata prinsip less is more itu enggak ada ceritanya di skincare. Kita memang harus telaten demi punya kulit yang sehat. Selamat mencoba!

Friday, November 17, 2017

My Life Since Freelancing

Buat para pekerja kantoran yang ingin memutuskan untuk freelance, boleh banget nih dibaca pengalaman saya...My Life Since Freelancing! Asik deh. Kalo kata mas Dimas (Alumni SEO Kompas GOM yang sekarang murtad ke E-Commerce), keyword harus ada di judul dan paragraf pertama. Berhubung keywordnya sejudul-judul, ya udah tetep ada di paragraf pertama.

Oke, let's talk beneran.

Saya lulus Desember 2013. Pertama kali dapet kerja itu Maret 2014. Lama ya jadi pengangguran? Tiga bulan. Kebetulan waktu itu nyari kerja asal-asalan aja di Jobstreet. Apa aja saya masukin deh lamarannya. Mulai dari marketing garmen India, ODP Bank, Frontliner Bank, sampai ke beberapa media. Inget hampir tiap hari interview tapi enggak dapet-dapet kerja. Rasanya pingin gantung diri di stek-an pohon singkong.

Mungkin karena berpengalaman magang (kemauan sendiri gak disuruh kampus!) di sebuah media yang cukup besar di Bandung, keterimalah saya di sebuah media. Namanya Foodservice Today. Sekarang udah enggak ada. Soalnya bukan rahasia kalau yang namanya print media suatu saat akan punah, berganti semua ke online. Ketika rame-rame media cetak tutup, Foodservice Today ikutan tutup. Tapi enggak rame beritanya karena bukan majalah gede. Hehe.

Sejak saat itu, saya pindah-pindah kerja terus selama dua kali. Maklum millenial. Pengalaman kerja kedua itu di Restobazaar tapi bentar doang. Setelah itu keterima di Jakarta Post tapi enggak diambil. Soalnya hasil medical check up kurang bagus dan enam bulan kemudian harus medical check up lagi. Lalu kalau masih enggak bagus, saya harus cabut. Dan enggak yakin akan bagus karena kehidupan cub reporter di Jakarta Post itu luar biasa dedikasinya.

Tapi alhamdulillah setelah itu saya dapet kerja lagi di tempat yang paling bikin kaya secara mental, sajiansedap.grid.id, Kompas GOM.

Kerja di sini menyenangkan banget. Pertama saya semacam masuk ke divisi digital. Seluruh reporter di berbagai media dalam Kompas GOM digabungin di satu ruangan. Di sinilah kami belajar yang namanya SEO (Halo, Mas Dimas) dan cara bikin tulisan online yang dilihat orang. Lalu beberapa bulan kemudian, kami semua dikembalikan ke media masing-masing.

Waktu itu rasanya lucu banget. Pertama masuk kan di divisi digital, jadi malah enggak kenal sama sekali sama anak-anak SaSe (SajiSedap). Pengen nangis saat pindah. Apalagi imej Sedap di GOM itu adalah media yang strict banget sama peraturan dengan para karyawan yang beda umurnya cukup jauh dengan saya.

Tapi ternyata enggak loh. Setelah saya masuk, seminggu kemudian datanglah anak SocMed yang caur banget. Namanya Dea. Sering nongol di IG Stories anak-anak SaSe. Kemudian muncul lagi reporter online yang segenerasi lah ya, Nci. Lalu ada penulis resep yang ternyata hampir seumuran juga, Kak Riyo. Lalu ada anak magang cenayang, Lisa. Lalu ada anak dapur yang resenya sejenis, Aldo. Ada reporter cetak, Dian. Ada desainer galau, Bella. Ada juga uploader resep, Blek. LAH MALAH JADI PUNYA SISTERS FOR LIFE <3

Life was so good. It was so good. Sampai pada akhirnya saya putus cinta dan kehilangan gadun. HAHAHA. Enggak deng. Intinya, saya jadi nerima beberapa freelance dan mulai keteteran. Gak bisa atur waktu, tapi duit juga enggak cukup. Bukan gaji di sini kecil ya, tapi ritme hidup saya aja yang udah keatur begitu. Bisa nabung, tapi enggak cukup untuk kehidupan-kehidupan selanjutnya. Soalnya sempat investasi di reksadana, tapi enggak ngerti caranya. Malah rugi banyak.

Walaupun SaSe sangat menyenangkan dan mengajarkan banyak hal, insting survive kayaknya menang. Berat hati, resign-lah saya untuk mengambil kerjaan freelance di beberapa tempat. Oh, iya. Saya juga ngajar bahasa Inggris akhirnya.

Nih...sampe sini nih...berat kehidupan. Kalau saya boleh ngasih saran, lebih baik jangan resign dan freelance kalau tabungan kamu enggak bisa mencukupi kamu untuk hidup tiga bulan ke depan. Sebulan pertama rasanya kayak nerakaaaaaaa.

Saya freelance di rumah aja. Soal orangtua, apalagi kalau mereka cukup tradisional, mereka mungkin enggak bisa menerima keputusan anak untuk kerja di rumah karena kamu mungkin dikira pengangguran :))

It happens to me beberapa saat lamanya. I had to alternate my works and...doing chores. Ngangkat jemuran, beberes, cuci piring, dan lain-lain. Karena tabungan enggak cukup, pikiran saya yang juga masih kekanak-kanakan mikirnya "ya udah lah ini mah jadi ART dibayar pake makanan". Sempat kzl dan menolak makan di rumah. Bahkan sempat kepikiran untuk ngekos. Tapi melihat saldo tabungan...boro-boro ngekos. Makan mekdi aja mikir.

Lalu saya melihat, ada yang enggak beres kalau saya enggak bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari sembari mengerjakan kerjaan-kerjaan saya. Belajar apa aja di SaSe kemarin? Toh di SaSe saya juga belajar multitasking. Mengerjakan kuota artikel harian, mengerjakan advertorial, membuat skrip video, ngajarin anak magang walaupun gak lama, dan makan-makan + ngemil-ngemil di kantin? Masa enggak bisa, sih, begini doang.

Akhirnya saya keluar dengan solusi: mulai bekerja ketika semua orang enggak ada di rumah atau tidur. Saya bangun tidur, enggak pake disuruh saya beberes rumah dulu. Ketika nyokap dan adek-adek keluar rumah (nyokap kan ibu rumah tangga, bersosialisasilah beliau di sekolah, jadi bisa spare waktu cukup lama buat saya sendiri di rumah), baru saya bekerja. Terkadang saya jemput mereka, lalu mereka sama-sama punya waktu luang yang berarti saya juga bisa kerja, nah saya bekerja di situ. Eh enggak juga deng, kadang-kadang ngikut mereka tidur siang. HAHAHA.

Ketika hujan turun, badan bergerak sendiri untuk berhenti melakukan segala hal, dan lari ke halaman untuk mengangkat jemuran. Setelah itu saya kerja lagi. Di waktu magrib, nyokap akan otomatis manggil saya untuk nemenin beliau nonton telenovela Turki favoritnya, di sana saya juga akan berhenti bekerja dan nemenin nyokap. Mindblown anjir, ternyata sinetron Turki itu bagus-bagus :))

Beres itu, saya lanjut kerja. Saat semua orang tidur, saya juga bekerja. Eh, enggak semua. Adek saya lagi persiapan masuk universitas dan cukup aktif di organisasi kampus. Jadi kami kerap barengan. Dia belajar atau mengerjakan PR atau mengurusi organisasinya, entah proposal atau surat atau apaan yang saya enggak ngerti karena dulu enggak aktif berorganisasi. Di situ saya juga bekerja. Tapi ketika dia tidur, saya juga lanjut kerja, sih.

Waktu-waktu di mana saya harus keluar rumah untuk meliput sesuatu juga saya manfaatkan. Sehabis liputan atau ketemu orang atau ketemu klien, saya enggak pulang ke rumah, tapi nongkrong di mana dulu gitu, sambil kerja.

Ritme kerja pun teratur. Bahkan beberapa kerjaan bisa selesai sebelum waktunya karena saya jadi belajar memanfaatkan waktu. Buruan kerjain semuanya, tulisan naik kan bisa dischedule. 

Kemudian hal yang paling bikin hati hangat pun datang...entah bagaimana caranya, semua klien bayar di saat yang sama. Tiba-tiba tabungan penuh, sekian kali lipat gaji di kantor lama. Bapak saya terharu banget....waktu itu saya aja ampe pingin nangis :") Datanglah momen-momen OKB di mana saya jadi sering ngafe dan beli ini itu. Kampay emang. Aku jadi sangat mengerti perasaan Anisa Hasibuan.

Tapi ternyata ritme kerja yang efektif dan menghasilkan tersebut enggak sehat. Bokap adalah yang paling memperhatikan saya. "Kok Dina enggak mau sih ngatur waktu kerja biar enggak sampe malem-malem begini?" kata beliau. Terbukti, sih. Enggak lama setelahnya, I have a massive backpain di mana sampai bikin sensasi vertigo ringan gitu lah, pala muter-muter ngefly tapi enggak enak, karena sakit sepunggung-punggung.

Datanglah saya ke dokter syaraf. Waktu itu saya pikir vertigo, tapi ternyata enggak. Cuma tegang otot aja tapi parah. Penyebabnya, saya emang enggak kerja di meja. Duduk di mana aja mangku laptop. Selain itu, jam tidur saya juga enggak jelas. Di sana, saya dikasih obat dengan instruksi: berhenti minum kalau udah enggak sakit. Tapi ternyata sakitnya enggak hilang-hilang. Ketika obatnya enggak diminum, saya tetap sakit. Habis lah itu obat semuanya. Dan enggak sembuh. Lah, duitnya malah habis buat obat kalau gini caranya.

Setelah itu saya tanya ke salah satu grup pertemanan di WA, ada yang tau enggak sih solusi sakit ini? Lalu teman yang pacaran dengan seorang dokter bedah tulang menyarankan saya fisioterapi dan renang. Dia juga bilang kalau resep obat saya itu sebenarnya udah tinggi banget kandungan painkillernya. Tapi itulah, painkiller sahaja. Tanpa menyembuhkan.

Waktu itu duit yang udah seuprit-uprit ternyata enggak memungkinkan saya buat fisioterapi. Akhirnya saya mulai berenang, deh, yang murah meriah. Enggak hanya itu, saya juga jadi kepikiran untuk bikin ruangan kerja sendiri di rumah agar bisa kerja dengan lebih benar dan sehat.

Ruangan tersebut tadinya adalah gudang. Saya ambil duit 300 rebu, beli kipas angin yang saya rakit sendiri dari nol (karena kalo beli AC enggak mampu hahahaha #KYZMIN) dan roll kabel panjang karena di gudang ini colokan cuma ada satu dan di pojok banget. Semua barang saya pinggirin. Saya ngambil karpet yang kayaknya udah enggak kepake, pinjem dua bantal sofa yang gede-gede banget untuk jadi sandaran punggung dan pantat, dan, yah, jadilah ruang kerja :)

Soal ritme, karena mulai olahraga lagi, kayaknya jadi mulai teratur sih ya? Kuncinya adalah maksain diri untuk enggak ketiduran siang-siang. Ketika ngantuk, MANDI.

Saya berani nulis ini sekarang karena untuk pertama kalinya, saya merasa kalau saya sekarang udah melakukan sesuatu yang benar. Ternyata, dengan keluar dari zona nyaman saya di kantor, dengan sedikit ganjelan-ganjelan di depan, pada akhirnya, hidup saya jadi lumayan bener.

Saya jadi lebih bisa dekat dengan orangtua, bisa main dengan adik ketika dia pulang sekolah, bisa punya waktu di awal hari (saya enggak bilang pagi hari karena saya bangunnya siang hahaha) untuk berolahraga, bisa mengerjakan sesuatu yang menghasilkan walaupun yaa belom pinter-pinter banget ngatur duitnya berkat OKB moment kapan tau itu. Yaa semoga bulan depan udah bisa nabung. Selain itu, saya bisa melatih public speaking juga karena saya mulai mengajar. Bisa enggak kecapean pula  di akhir minggu untuk les Bahasa Spanyol (saya habis lulus kelas Inicial 1!).

Wait for it... My next project is: Start a Family. Doakan, ya.

(setelah bisa ngatur waktu akhirnya bisa nonton-nonton vlog lagi. Instead of watching vlog generasi micin, I watch some family vlog. Kayaknya berkeluarga tidak semengerikan yang saya pikir. And babies, especially bayi-bayi nanggung yang udah lewat umur 9 bulan, are amazing.)

NB: oh iya, buat yang pengen tau saya freelance apa, saya ngerjain content writing, translating, editing, ngadmin social media, dan bisa ngajar Inggris juga. All inquiry goes to dinavionetta@gmail.com, yaaaa (sekalian promosi)

Thursday, September 21, 2017

Nuris di Kampung Orangtua Sendiri, Kota Medan yang K.E.R.A.S

Maret lalu, saya dan keluarga pergi ke Medan untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu saya. Iya, ini #latepost banget. Hehe. Pengalaman saya, selama ini pergi ke Medan bolak-balik mudik, kami enggak pernah benar-benar jalan-jalan mengeksplor kota Medan beserta landmark-landmarknya.

Bareng keluarga besar, kami biasanya jalan ke luar kotanya entah itu ke Sembahe (dataran tingginya mirip Puncak) atau Percut (tempat makan seafood enak, macem Muara Karang). Sementara itu, di kota Medannya, palingan ngemall dan wisata kuliner.

Saya dan Nadia (adik saya) pun memutuskan buat nyisain satu dari tiga hari selama kami di Medan buat keliling kota, lalu makan-makan dan jalan-jalan di tempat yang touristy.

Yok, simak kami jalan ke mana aja.

Masjid Raya Al Mashun

 

Masjid Raya
Masjid yang berada di tengah-tengah Kota Medan pol ini cakep bukan main. Namun percaya gak percaya, selama 24 tahun hidup dan hampir tiap tahun mudik, saya enggak pernah ke sini. Shalat idul fitri pun biasanya di masjid atau musholla dekat rumah.

Oleh karena itu, awal petualangan kami di Kota Medan ini dimulai dari shalat dzuhur di Masjid Raya Al Mashun. (Iya, mulainya siang-siang. Kami pemalas) (Iya, masjid. Kami religiyus #tapibohong wkwk).

Tujuan utamanya sebenarnya adalah tentu saja mengagumi arsitektur Melayu yang katanya kental di masjid ini. Yang mana sebenarnya kami-kami ini enggak ada yang ngerti what the heck is arsitektur Melayu.

Masjidnya memang bagus dan besar banget. Bagian luarnya banyak warna kehijauan sesuai dengan warna favorit nabi. Bagian dalamnya didominasi warna emas seperti rumahnya Anniesa Hasibuan. Banyak ukiran rumit yang cantik.

Sayangnya, di teras masjid banyak pengemisnya. Kami yang sejujurnya parno sama orang Medan siapapun itu karena beneran barbar terpaksa ngasih biarpun dese sehat. Wk!




Rujak Kolam Takana Juo

 


Rujak Kolam

Tempat ini pernah didatangi Bondan Wienarno ketika beliau wisata kuliner ke Medan. Letaknya di Kolam Deli seberang Masjid Raya Al Mashun. Jadi, kami cukup jalan kaki habis sholat ke sana. Ekspektasinya sih enak gitu, kan? Hati adem habis sholat, panas bentar jalan kaki, langsung dihajar deh sama segarnya rujak. Namun pada kenyataannya, perjalanan kami dari Masjid Raya ke Rujak Kolam walaupun dekat itu berasa banget jauhnya.

TIPS! Buat cewek-cewek yang jalan kaki di Medan, kalau bisa berusahalah untuk jelek biarpun aslinya cakep. Kalau enggak, dijamin disuit-suitin digodain sepanjang jalan walaupun KERUDUNGAN. Sediiih, kota ini enggak aman banget :(


Jangan suit-suitin adek, bang :(

Balik lagi ke rujak, rasanya cukup menyegarkan. Buah favorit saya di sini dan entah kenapa jumlahnya banyak banget dibandingkan buah-buah lainnya plus potongannya juga geday banget adalah nanas. Saya perhatikan, di Medan nih nanasnya juicy, empuk, dan banyak airnya. Makin segar lagi saat dinikmati dengan segelas es teh manis atau es lengkong (cincau).

Soal bumbunya, itu mantap dari segi tekstur. Soalnya, enggak semua kacang digiling halus. Ada potongan kacang tanah yang bikin krenyes-krenyes saat digigit. Maknyus deh. Soal rasa, buat lidah saya kurang rasa gula merah plus keenceran. Mungkin karena buahnya, terutama nanas, mengeluarkan air yang banyak dan nyampur ke bumbu. Jatuhnya jadi kayak kuah.


Kuil Shri Maha Mariamman

 

Kuil Shri Maha Mariamman

Landmark satu juga cantik sekali dilihat dari luar. Kuil Shri Maha Mariamman adalah kuil yang dibangun di akhir abad 19 untuk memuja Dewi Mariamman yakni Dewi Durga dalam wujud apaaaa gitu. Kuil Hindu ini dekat sekali dengan mall favorit warga kota Medan yakni Sun Plaza (Grand Indonesianya Medan).

Sayangnya, kami nggak masuk, soalnya memang gak tau kalau boleh masuk. Lagian rasanya kurang etis jilbab-jilbaban gini masuk rumah ibadah orang buat wisata aja. Konon katanya bagian dalamnya lebih bagus lagi. Kami mampir saja mengagumi dari luar...karena memang tujuannya mau pergi ke Sun Plaza, sih. Enggak kuat, Medan panas banget. Kami butuh AC.

Nah, itulah kisah petualangan kami jadi turis di kota kelahiran ayah dan ibunda yang ternyata tidak menarik untuk dieksplor. Tapi, bolehlah untuk dicoba. Next time, memang lebih enak jalan ramai-ramai sama keluarga biarpun ke situ-situ aja. Adem naik mobil dan aman karena tidak digodain abang-abang.



Bonus ide buat yang mau wiskul di Medan

1. Bihun Tom Yum Seafood Kinley Thai Bistro Sun Plaza







Enaknya parah, dijamin enggak menyesal. Kuahnya pedas asam segar gurih kental, seafoodnya berlimpah, plus tambahan bihun kenyal dan gemas bikin kita kenyang seharian. Habis makan ini, hajar dengan segarnya soda lemon madu.


2. Durian Si Bolang



Mungkin foto tidak terlalu mewakilkan, namun akan sulit rasanya menemukan tempat makan durian se-fancy ini.



Blenger blenger deh tuh makan durian. Udah tau kan kalau di Medan harga durian itu murah? Rasanya juga maknyus. Bisa pilih mau yang manis berlemak atau pahit beralkohol.

Bonus lagi! Foto di nikahan kakak sepupu eike.


Didandanin teman nyokap. Suka banget.



Nikahan si cantik Kak Lia. Maaf bang AJ yang nongol jenggotnya ajah.

Nikahan yang sangat sangat sangat menyenangkan. Tapi lumayan wadaw karena sebagian suvenirnya yang handmade dibikinin tante saya itu tadinya dialokasikan buat nikahan saya yang enggak jadi karena putus. Nah di sana saya volunteer pula bagi-bagiin suvenirnya ke tamu-tamu. Kurang kuat apa lagi hati adek, bang?

YAK! Namun dari situlah saya kuat dan let go dan siap menata hidup baru. I deserve happiness too. Wakakak.

Ciao! Thanks for reading!
Dina

Saturday, February 11, 2017

Hal-Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Kamu Remehkan di Usia 24 Tahun


Tepat dua minggu saya berumur 24 tahun (horeee, saya belum tua walau mukanya sudah), rasanya saya masih belum merasa matang. Makin ke sini juga rasanya semakin egois dalam artian, saya engga pingin ngapa-ngapain lagi selain menyenangkan diri sendiri dan orang-orang yang saya sayang.

Dalam mewujudkan keinginan seperti itu, terkadang ada banyak hal yang, carelessly, tidak kita anggap penting sehingga pada akhirnya kita seperti kena karma dalam artian, kenal jegal oleh hal-hal yang kita remehkan. Ya, ternyata itu adalah hal yang HQQ. Lain kali jika ingin menganggap receh sesuatu, pastikan hal itu benar-benar nggak penting, ya.

Untuk itu, saya persembahkan, aneka hal yang boleh dan tidak boleh kamu remehkan di usia 24 tahun.


Politik? Boleh

 





ngambil dari askideas.com

Menjelang pilkada, saya memperhatikan makin banyak orang yang jadi bermusuhan karena berbeda pandangan politik. Karena itulah saya nggak benar-benar terbuka menjawab saya bakal milih siapa. Ketika ditanya, seringkali saya menjawab akan golput saja.

Mengapa menurut saya politik itu hal yang receh? Soalnya buat saya enggak ada gunanya juga menunjukkan siapa pilihan kita di luar hari pilkada tersebut. Jika kita berbicara mengenai hal tersebut di depan orang yang pilihannya sama dengan kita, kita cuman bakal saling menyetujui dan tos-tosan doang. Sementara itu, jika kita berbicara tentang hal itu dengan orang yang berbeda pandangan sama kita, kita bakalan dijudge habis-habisan.

Sebagai orang yang males mikir, saya mulai menerima kalau hari gini, kita enggak bisa berdiskusi lalu pulang dengan kepala dingin. Kita enggak bisa berdiskusi lalu membawa bekal hal positif yang bisa kita ambil dari pandangan orang yang berbeda. Kita enggak bisa lagi melihat hal yang berbeda sebagai suatu hal yang memperkaya cara pandang kita. Itu kenyataan yang pahit, tapi mesti kita terima.

Mesti deh, ada yang menang dan kalah terus dua-duanya sewot. Ih, kurang makan deh.




Managemen Waktu? Engga

 

ngambil dari pinterest

Sebenarnya, orang bodoh pun tahu hal ini enggak boleh diremehkan. Namun, sampai hari ini, hal tersebut masih jadi kelemahan saya. Buat make up hal tersebut, saya berusaha buat mengerjakan sesuatu dengan jauh lebih cepat. Artinya, saya memaksa diri saya buat melakukan sesuatu tidak sesuai kapasitasnya. Kerjaannya beres? Iya sih beres. Tapi kemeng. Matanya siwer. Ehehehe.

Waktu itu adalah satu hal yang enggak bisa kita tawar. Seiring pertambahan umur sel, kemampuan tubuh kita juga gak makin prima. Cara mengatur waktu lah yang harus kita kendalikan alih-alih memaksakan sesuatu buat memperbaiki hal tersebut. Toh, waktu itu ada 24 jam. Bisa diatur. *menulis hal ini sambil meragukan diri sendiri*


Memikirkan Hal yang Telah Berlalu? Boleh Iya Boleh Engga

 



As cliche as it is, hidup itu adalah pilihan. Ketika sesuatu sudah berlalu, let it go. Masa lalu terdiri dari banyak komponen nan kompleks. Terkadang kita harus duduk diam sejenak lalu membongkar kenangan-kenangan tersebut seperti mengurek-urek puzzle gambar pot kembang yang pecah karena kena bola yang ditendang anak tetangga.

Simpan bagian gambar kembang dan pupuknya buat nyeneng-nyenengin diri sendiri dan menyuburkan pikiran kita. Buang pot pecahnya, balikin bolanya ke anak tetangga yang punya, terus lempar-lemparin deh tanahnya ke rumah bapaknya. Wekkk...


Menabung? Engga

 

ngambil dari mirror.co.uk

Seringkali kita berpikir kalau kerjaan begitu membuat lelah lalu merasa kita pantas mereward diri sendiri dengan membuang-buang hasil keringat kita buat hal yang fancy. Bapak saya sih memang pernah bilang seperti itu. “Kerja yang keras. Kalau lelah kalau ingin menyerah reward diri sendiri dengan makan yang enak sampai puas”. Sesekali sih itu benar. Tapi jangan sampai besar pasak dari tiang.

Banyak hal-hal yang memaksa diri kita buat ngeluarin banyak duit karena keadaan. Contohnya kecelakaan atau sakit tapi pengen manja,terus pengen upgrade kamar rumah sakit VIP. Nah, di situlah secuil dua cuil hasil keringat yang kita sisihkan bakal membantu hal tersebut.

Kaget liat biaya nikahan yang besar banget itu bisa diminimalisir dengan lihat angka tabungan kita yang juga besar, lho, nantinya. Tapi nanti, ya? Jangan cepet-cepet kalau masih ragu ntar malah gagal loh ahahahaha.


Keinginan buat Traveling ke Tempat Fancy? Boleh

 



Kita bisa mendapatkan kedamaian dengan duduk di kedai kopi favorit sambil baca novel lama yang dulu dosen kita suruh baca sampe habis pas kuliah tapi kita malah memilih liat ringkasannya di sparknotes (anak sastra jangan pura-pura engga tau. Kita juga bisa jalan-jalan liat lukisan di museum sambil ngangguk-ngangguk pura-pura ngerti atau mikir bodoh gimana cara maling koleksi harta karun emas yang dipajang. Makan rujak kikil porsi jumbo tapi harganya 7000 perak doang di antah berantah pas enggak sengaja nyasar juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Ngeliatin dedek-dedek telanjang yang bahagia dengan caranya sendiri saat nyebur di genangan air jorok di pelosok negara kita ini juga bisa bikin kita lebih bersyukur.

Damai versi saya saat ini adalah saat entah pergi kemana terus menemukan kolam dengan bunga teratai yang mekar. Di Ubud atau di restoran Talaga Sampireun Bintaro yang selemparan kolor doang, alhamdulillah damainya sama. Jalan dengan orang-orang kesayangan pun bahagia setengah mati.

Sebaliknya, mungkin aja kamu enggak bahagia sama sekali di Paris kalo masuknya ke Lafayette doang sambil liat-liat tas mahal tapi enggak mampu belinya. Mungkin aja kamu senang liat salju di pegunungan di Swiss, tapi ga kuat sama dinginnya. Mungkin kamu pernah nginjekin kaki di Timbuktu, tapi biasa aja malah pingin pulang karena ga nyambung sendiri dengan teman-teman travelingnya.

Happiness and peace are states of mind, cieeeh...


Social Life? Engga

 

ngambil dari ravishly.com

Hal ini bergantung, sih, kepada cara kamu bersosialisasi. Saya sih sebenarnya introvert, tapi masih doyan haha hihi dan punya fetish sama hal-hal yang terlalu receh/aneh/rusak. Jadinya alhamdulillah masih punya kehidupan sosial. Pun kalau saya udah klik sama orang, saya bakalan sayang banget dan mempedulikan mereka. Makanya temen saya dikit banget dan itu-itu aja tapi selalu di hati. Ududududu...

Pastikan orang-orang yang kamu sayang itu tau pasti kalau kamu sayang sama mereka. Baik itu keluarga, teman, atau someone special, mungkin?

Oh, terkadang kamu juga boleh punya sikap, pastikan orang-orang yang kamu sebelin itu tau kamu juga sebel sama mereka. Jangan pereus jadi orang bahahaha. Kalau mau dipanjangin lagi, hangan sampe orang yang kamu sebel gak tau kamu sebel sama mereka. Apalagi kalo orang yang kamu sebel, nggak tau siapa kamu. Mendingan gak usah sebel. Nah, itu berkaitan dengan poin pandangan politik.

Btw, ada banyak orang yang introvert terus menganggap hal tersebut jadi alasan buat enggak berusaha mendekatkan diri atau peduli dengan hal-hal di sekitar kita. Buat saya hal itu bahaya, soalnya kita tinggal di tempat  yang menganggap orang ekstrovert lebih superior daripada orang introvert. Fake it till you make it because life is never fair. Tertanda, extroverted introvert.


Bikin List Tentang Hal-Hal yang Boleh Kamu Remehkan dan Enggak Boleh Kamu Remehkan? Terserah

 

Penting nga eaaaa?

Karena blog enggak boleh dianggurin, ehehehe. Capek juga, ya, ngetiknya.

Selamat berakhir pekan, teman-teman. Semoga kalian selalu bahagia.

Much love,

Dina Vionetta

Monday, December 19, 2016

Sebuah Diari Putus Cinta

Butuh waktu lama, mikir panjang, digampar bolak-balik sana sini buat akhirnya bisa menulis hal seperti ini. Tulisan ini gak saya maksudkan buat mendiskreditkan siapapun atau menjustifikasi kelakuan diri sendiri karena memang gak ada bagus-bagusnya. I just wanna hug myself, mengingatkan diri sendiri di masa depan biar ga kambuh lagi gilanya. Supaya bisa kembali menegakkan kepala dan bisa berkata, "ya udah lah ya, everything happens for a reason"


***


Di mata saya, pasangan yang berpacaran dalam waktu lama, lalu putus atau gagal nikah, adalah hal yang sangat klise. Banyak sekali kasusnya, yang kalau saya dengar, saya akan otomatis ngetok meja dan bilang "amit-amit ya Allah". Tiap datang ke kondangan, sebokek-bokeknya saya, pasti saya berusaha ngasih amplop yang cukup. Amplop penuh harapan agar pernikahan sang empunya hajat berjalan bahagia, juga penuh pamrih agar proses saya menuju jenjang pelaminan dilancarkan Tuhan YME.

Jadi, siapa sangka juga, akhirnya saya gak jadi nikah? Pun saya yang membatalkan. Lelah buat saya menjabarkan prosesnya di sini. Banyak penyesalan di sana sini. Walau kisahnya basi, sakitnya jangan ditanya. Di sisi lain, as Indonesian's nrimo-ness as it is, ada pula hikmah yang bisa diambil. Semoga dengan membacanya, kamu bisa belajar biar gak jatuh ke lubang yang sama.


***

Apa sih, yang (se)harus(nya) dipersiapkan sebelum menikah tapi gagal saya lakukan? 


Inilah hal yang seharusnya entah dari siapapun harus lakukan untuk menghindari kegagalan dalam melangkah ke jenjang yang lebih lanjut dari suatu hubungan. Semoga kalian semua nantinya ga ada yang merasakan pedihnya ngomong miris "bye, bye, pelaminan," ya.


Niat yang Datang dari Diri Sendiri

Menikah itu adalah suatu kerja keras, sebuah proses yang jauh berbeda dengan berpacaran. Evaluasi lagi niat diri apabila masih ada sedikit saja keraguan di dalam hati. Persiapan wedding itu memang indah dan bikin baper. Namun, konsentrasi kamu di sini harus penuh kepada persiapan marriage, hidup setelah acara kawinan.

Jika kamu pacaran dengan orang yang baik dan ga macem-macem, good for you. Selanjutnya, bayangkanlah menikah dengan orang tersebut. Maksudnya, bayangin cara hidupnya jangan ena-enanya he he.

Akan berubah sedrastis apa duniamu? Apa yang akan terjadi dengan keluargamu?

Poin tambahan: kecuali cita-citamu benar-benar menikah, ada baiknya kamu pikirin dahulu goals pribadi. Alasannya, ketika menikah nanti, kemungkinan akan gak sempet. Goals pribadi yang belum tercapai tentu bakal bikin hati kebat-kebit. Single aja gak kesampean, gimana nanti nikah?

Ini nih yang bakal terjadi ketika kamu menikah: nyicil KPR, nyicil mobil, biaya pendidikan anak, endebrey, bla bla bla. Mengobrol setiap hari dengan pasangan. Bagi tugas ini itu. Kalau kamu mulai dalam keadaan gak yakin nikah, semua itu bakal terasa jadi beban. Padahal, buat orang yang yakin mau maju ke pelaminan, semua itu bakal jadi petualangan baru yang mengasyikkan.


Tanggung Jawab

Buat yang merasa udah siap nikah dan berani ngajak orang nikah, tanggung jawab itu penting, lho. Bukan berarti siap menafkahi secara materi saja walau bagi perempuan-perempuan spesies tertentu terkadang materi saja sudah jadi alasan buat menikah. Hal yang lebih penting adalah mental.

Perhatikan pasangan Anda. Saat diajak menikah, seperti apa sih, mukanya dan reaksinya? Jika reaksinya senang, bahagia, gembira, oke lah. Jika reaksinya ragu dan takut terlebih dahulu saat bilang "oke deh, yuk", seharusnya sih kamu kerja agak keras.

Yakinkan dia kalau kamu sungguh-sungguh. Temani dan kuatkan dia. Kalau bisa, ngobrol tiap hari yang menyerempet ke arah pernikahan. Bangun imajinasi, bangun visi, bangun misi. Menurut saya yang ribet pola pikirnya, ini adalah proses yang harus dibina, tidak bisa mengalir begitu saja. Pastikan pasangan kamu benar-benar yakin bisa. Jangan cuma di "ayolah kamu pasti bisa"-in :))


Melihat Reaksi Orangtua

Ini adalah hal yang paaaling saya sesali. Ridho orangtua itu penting sekali, lho. Maju ke jenjang selanjutnya (tunangan atau nikah) meski orangtuamu merasakan adanya ganjalan sedikit saja adalah hal yang riskan untuk dilakukan. Kamu bukan Celine Evangelista. Kalau ingin menikah, orang yang pertama kali harus didekati dan dihargai adalah orangtua pasangan. Apabila orangtua siap maju, si anak mah tinggal nurut-nurut aja ya kan sama yang ngelahirin dia? Wkwk.

Walau terkesan maksa dan berat, ada pentingnya mencari calon teman hidup yang latar keluarganya mirip dengan keluarga kamu. Bukan masalah materi, melainkan cara dia memperlakukan orangtua dan keluarganya. Setiap anak punya naluri menyayangi dan melindungi keluarganya. Pastinya, kita ingin mempunyai pasangan yang bisa memperhatikan, menyayangi, melindungi, dan mengayomi keluarga kita sebagaimana kita melakukan hal tersebut ke mereka.

Mencari pendamping hidup = mencari anak baru untuk orangtuamu, mencari kakak untuk adikmu, mencari adik yang berbakti untuk kakakmu. Ingat dan camkan. Itu adalah prioritas. Kamu hidup bertahun-tahun dari keluargamu. Jika belum bisa kasih apa-apa, setidaknya kasih satu orang "bodyguard" buat mereka.


Berusaha Menjadi Setara

Poin ini adalah hal yang cukup sulit buat dilakukan karena saya agak enggak percaya sih dalam suatu hubungan, timbal baliknya bisa 50-50. Namun, ternyata menyetarakan diri itu penting juga. Walau yang satunya pasti lebih dominan dan yang satunya submisif, seenggaknya jangan timpang-timpang amat. 60-40 kek.

Befriend your partner. Di pernikahan, setidaknya kebanyakan pernikahan yang saya lihat, cinta itu bakalan habis, berganti jadi sesuatu yang lain yang saya gak tahu apa karena gak pernah ngerasain. Jika cintanya habis, penasaran gak, akan apa fungsimu buat pasanganmu?

Menikah itu adalah soal mencari partner mikir, partner ngobrol, partner hidup, partner curhat, dan di poin yang inilah kalau bisa ya bener-bener 50-50 timbal baliknya.


Memperkuat Komunikasi

Masih ada hubungan dengan poin yang sebelumnya sih. Komunikasi itu penting sekali. Minimalkan kode-kode yang kurang penting. Keluarin aja apa yang ada di kepala. Nah, jika sudah melewati fase pacaran penuh kode, berikan perhatian yang proper. Saat pasangan lagi curhat, langsung tanggap dan berempati.

Dengan berkomunikasi, sebenarnya semua masalah baik kecil maupun besar bisa diselesaikan bersama. Apabila melihat sesuatu yang kurang sreg tapi masih bisa diterima, sebenarnya bisa diomongin atau ditanyain juga. Langsung maklum, terus "ya udah lah...gue terima aja..." ternyata ada risikonya. Siapa tau itu di masa depan itu bisa jadi hal yang penting?

Soal ngobrol-mengobrol, itu ya harus sering-sering. Tukar pikiran, tukar pendapat. Kalau pait-paitnya kamu bego keterlaluan, dengan kata lain, kalau dicurhatin gak bisa ngasih solusi lah, kalau diajak ngobrol ga nyambung lah, setidaknya berikan seluruh perhatian dan usaha kamu di poin yang ini. Mengutip kata teman, dalam pernikahan itu, isinya hanya mengobrol seumur hidup sampai metongs.


Saling Tarik ke Dunia Masing-Masing

Seintrovert-introvertnya salah satu dari kamu sehingga gak punya teman banyak, seekstrovert-ekstrovertnya salah satu dari kamu sehingga kebanyakan teman banget, seharusnya sih mau saling ditarik ke dunia masing-masing. Maksudnya mau diperkenalkan dan ikut andil dalam dunia si pasangan. Sesedikit-sedikitnya itu, nunjukin effort penting, sih.

Poinnya adalah menunjukkan kalau kalian adalah tim yang kece yang bisa cool-cool aja baik dibawa ke pergaulan nan berfaedah maupun pergaulan nan receh. Melatih kemampuan adaptasi juga, sih. Nih, biarpun kamu merasa pergaulan kamu adalah pergaulan bermanfaat nan bergizi sehingga kamu merasa "wah. lebih baik gue menarik dia aja ke dunia gue, jelas bermanfaat," ada baiknya kamu mau melihat sedikit ke bawah, ke pergaulan pasangan kamu yang receh dan tak berguna, supaya kamu tahu aja kalau, "wah, orang freak inilah yang akan jadi pasanganku nanti. Apakah aku akan siap menerima jokes tante-tante senang seumur hidup?"

Sebaliknya juga, jika kamu merasa underachiever tak berguna yang pergaulannya terlalu selaw dan pasanganmu begitu dewa, setidaknya tunjukin effort yang bisa membawa kamu jadi orang yang mau belajar dari pergaulan tersebut. Siapa tahu menularkan kebaikan pada kepribadianmu.

Ya, kasarnya begitu, sih. Namanya saling mengisi, saling melengkapi. Saling menambah, saling mengurangi. Pengaruh kepribadian bisa dari lingkungan, bisa dari mana saja.


***


Melanjutkan Hidup



Jika sudah telanjur gagal a.k.a putus cinta, apa sih risikonya? 

Patah hati dan galau.

Apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghindari patah hati dan galau?

Ya jangan putus, wkwk.


Intinya, yang namanya putus cinta, apalagi putus tali "pertunangan" (walaupun belom benar-benar sampai di acara pertunangan) itu pasti penuh kegalauan. Bodohnya, ini dia nih yang antisipasinya kurang. Apalagi saya adalah tipe-tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Jarang galau sih, tapi sekalinya galau jadi enggak bisa ngapa-ngapain.

Beruntung, saya punya teman-teman yang bersedia ngegampar-gamparin saya. Yang jelas, mereka sih apes punya teman kayak saya. Both of you, you da real MVP. You know who you are.

Mengutip kata-kata salah satu dari teman saya itu, banyak hal yang gak bisa diundo di dunia ini. Sekali ambil keputusan, pantang nengok lagi ke belakang. Move on. Salah satunya lagi malah sempat bilang, kita gak akan bisa move on dari orangnya. Yang bisa kita lakukan adalah, pelan-pelan belajar hidup tanpa "dia".

Sulit? Jelas. Saat bersama "dia", kerap kali saya berpikir, saya enggak bisa hidup tanpa orang ini. Kini orang itu sudah bhay, ya sudah lah mau bagaimana lagi, mau enggak mau harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, emphasize di kata "sendiri". Kalau harus nangis ya nangis, tapi sialnya mesti ingat kapan harus berhenti (alias di jam berangkat kerja. nanti gak dapet gaji, galaunya dobel lagi, huh).

5,5 tahun bersama satu orang yang sama, pastinya sudah terbentuk suatu ritme hidup. Enak ngga enak ritme tersebut, saat berhenti pasti enggak nyaman. Ketidaknyamanan itu bernama kegalauan. Belum lagi memori-memori yang dibuat bersama. Semua itu terkadang bercampur-campur di otak dan membuat kepala mau pecah. Belum lagi perasaan bersalah sudah membuang-buang segitu banyak waktu hidup seseorang. Perasaan bersalah pada keluarga yang bersangkutan.

Cara paling ampuh, ya bebikinan ritme baru. Lebih produktif ke kerjaan. Lebih sering mengobrol bersama teman-teman. Review lagi goals-goals pribadi. Kalau hati sudah siap, ya jalan sama yang baru (warning: high risk). Namun, yang paling penting untuk dilakukan selain menata hati dan diri sendiri adalah mendekatkan diri dengan keluarga, setidaknya buat saya. Pasalnya, pas anak pacaran, orangtua belum tentu senang. Pas putus, orangtua niscaya ikut repot dan sedih. Anak durhaka pisan, bukan?


***


Akhir kata, buat kamu yang sampai sekarang gak siap saya temui lagi:

Terima kasih sudah ada bersama saya 5,5 tahun ini. Banyak sedihnya, lebih banyak senangnya. Yang jelas, banyak banget pelajarannya, setidaknya buat saya. Saya enggak tau kamu dapat apa dari saya, tapi saya belajar dan dapat banyak hal dari kamu. Semoga dari kegagalan, ada yang bisa kamu pelajari. Beribu maaf sudah buang-buang waktumu, but I gotta go. Someday we will meet, someday we will talk. I am so sorry.


***


Duh, drama deh *elap aer mata* *bersiap-siap cari duit*




Jakarta, 20 Desember 2016.
Ditulis sebulan setelah putus.

Thursday, August 11, 2016

Kesan-Kesan Habis Baca The Picture of Dorian Gray

*Disclaimer: ini bukan resensi, review , atau apalah itu, ya. Hanya ingin menunjuk hal-hal yang menarik bagi ogut saja supaya engga lupa kalau pernah baca buku ini. Maklum, akhir-akhir ini suka jadi pelupa.*


The Picture of Dorian Gray merupakan satu-satunya novel karya Oscar Wilde. Walaupun banyak orang (di internet) bilang kalo buku ini adalah mahakarya dia, penulis Irish ini justru terkenal karena berbagai naskah drama yang dia tulis. Oscar Wilde merupakan penulis yang menjunjung gerakan Aestheticism. Apa itu aestheticism, nanti aja bahasnya belakangan.

Saya membeli buku ini sebenarnya karena nggak sengaja. Simply karena terdampar di bandara beberapa jam, dan akhirnya malah jadi random ke toko buku. Walau sempat dilema mau beli apa enggak, tapi akhirnya saya beli sajalah. Alasannya, satu, ngga enak kalo mejeng berjam-jam di toko buku buat namatin novel. Kedua, harganya paling murah di antara buku lainnya *receh* dan yang ketiga, buku ini buku anak Sastra Inggris bangeeet #pretensius.

Ceritanya sih cukup simpel tapi enak buat dibaca. Problem mahasiswa itu adalah kalau suatu hal udah jadi kewajibannya, maka itu jadi nggak asik lagi. Nah begitulah pandangan saya pas kuliah tentang buku-buku sastra. Padahal pas lulus, pas ulik-ulik lagi, wah ternyata asyik.

Ada seorang pelukis bernama Basil Hallward. Dia membuat sebuah mahakarya, yaitu lukisan potret anak muda nan tampan bernama Dorian Gray. Dorian ini baik dan polos. Makanya Basil memuja Dorian.

Dipuja-puja sama Basil ternyata gak bikin Dorian balik memuja Basil. Dorian lebih milih temenan sama Lord Henry Wotton, teman dari Basil Hallward yang kemudian jadi mentornya. Hal yang dia mentorkan ini bisa dibilang enggak bener juga, yaitu gaya hidup hedon.

Lama-kelamaan, sifat Dorian jadi boros, jahat, dan neko-neko. Mistisnya, selama belasan tahun memelihara jiwa yang busuk, wajah Dorian Gray tetap muda dan ganteng. Berbeda dengan wajah dia di lukisan Basil yang justru jadi buruk, tua, tambah jelek, sesuai dengan jiwanya.

***

Balik lagi ke gerakan Aestheticism, gerakan ini merupakan gerakan yang menekankan sisi estetika atau keindahan dibandingkan nilai moral atau politis pada suatu karya. Gerakan ini menarik karena masyarakat di zaman Victorian itu menjunjung tinggi nilai moral. Nah Oscar Wilde ini berani menggebraknya, dia berpendapat kalau yang dijunjung tinggi dari karya seni ya keindahan aja. Nilai-nilai lainnya jadi ga berarti.

Nah sebagai contoh, kita lihat dari penokohan dulu deh. hubungan pertemanan Basil dan Dorian ini terlihat terlalu unyu dan penuh puja-puji. Bertepuk sebelah tangan, lagi. Padahal, di masa itu, ketika moral dijunjung tinggi banget, masyarakat antipati sama hubungan sesama jenis. Hukumannya juga berat.

Ketika Oscar Wilde dikritik, dese ngeles aja. Karya dia ya karya dia. Orang yang mengerti gerakan dia tentu akan fokus pada keindahahan kata-katanya. Sementara orang yang mentingin moral, pasti otaknya bakal suuzon mulu sama karyanya.

Kalau dari pilihan kata-katanya, ya jelas juga sih berbunga-bunga walau nilai pencerahannya nggak ada-ada banget. Ada satu bagian yaitu chapter 11 yang menggambarkan petualangan Dorian mengejar hal-hal yang keduniawian banget. Dia berpindah-pindah pekerjaan. Mempelajari banyak hal yang sebenarnya dangkal. Ngeracik parfum lah, apa lah. Tapi bagian ini digambarkan dengan pilihan kata-kata yang cantik.

Yang berlebihan ternyata ga selamanya oke. Buat saya, hal indah itu jadi terlalu bertele-tele sih sehingga banyak yang jadi di-skim dan di-skip aja bacanya. Walaupun begitu, bagian ini menghibur juga. Lumayan menambah wawasan tentang hal-hal cetek di zaman Victorian. Panjang banget dan rinci.

Akan tetapi, kalau mau dibilang pure banget Oscar Wilde ini mentingin keindahan di atas otak, moral, dan lain-lain, sebenarnya rada kontradiktif sih. Jadi, Dorian Gray ini kan ceritanya tumbuh jadi orang yang hedon banget. Itu semua berkat andil Lord Henry Wotton (Harry) yang membentuk dia menjadi orang yang seperti itu.

Nah kalau ditarik lagi, jadi sebenarnya Dorian Gray ini terpesona sama otaknya Harry kan, bukan sama keindahan? Padahal mah, kalau mau sama yang indah-indah, temenan aja terus sama Basil. Jelas, lah. Seniman gitu lho.

Tapi saya bisa mengerti Dorian juga. Mungkin dia males juga dipandang sebagai objek sama Basil, jadi karya seni doang. Kalau kita perhatikan lagi, gak pernah tuh Basil bilang Dorian "handsome" yang walaupun main gender, tapi jelas, yang ditunjuk hampir pasti orang. Dia selalu bilang "beautiful", yang terlalu umum. Bisa buat nyebut apa aja termasuk bunga di taman, baju diskonan, kemeja bapakmu, dan sebagainya.

Yang paling saya suka dari novel ini sih tentu aja endingnya. Dari halaman 100an sampai ketika wajah Dorian di lukisan berubah-ubah jadi makin seram dan jelek, jelas lah ya kalau ini rada horor. Akan tetapi, ga nyangka aja kalau endingnya bakal ngasih kesan sekuat ini. Yah, efeknya sama seperti ketika kita baca karya-karyanya Edgar Allen Poe yang kayaknya emang sakit deh.

Terlepas dari pendapat-pendapat saya, secara keseluruhan The Picture of Dorian Gray ini asik kok buat hiburan. Cukup ringan lah buat bacaan di kala stres. Nggak usah didalamin, dinikmatin aja. Ingat, keindahan di atas segalanya.

***

Pusing ga sih bacanya? Aku nulisnya juga pusing. Hahaha. Udah ah. Bye.