Thursday, April 19, 2012

Review: Nasi Kalong, Bandung.


Penuh pengunjung di malam apapun!
sumber: http://kulinerbdg.com/index.php/component/content/article/1-restoran-cafe/13-nasi-kalong

Dengan letaknya yang sangat strategis, Di Jl. Riau no. 57, tempat ini memang jadi pusat perhatian bagi manusia-manusia malam yang kelaparan. Itulah kenapa tempat makan ini dinamakan Nasi Kalong. Bukanya memang pas malam hari. Kira-kira, pukul 19.00 sampai pukul 03.00. 

Makanannya sendiri, menurut saya enak banget. Worth it, lah, dengan harga 29 ribu sudah sama minuman (teh botol). 

Sistem makannya sepertinya prasmanan, sekali ambil, tapi all you can eat. Padahal, waktu saya googling, orang-orang pada bilang sistemnya prasmanan, dan bayarnya seharga apa-apa yang kita ambil. Tapi waktu saya ke sana, saya ambil 5 lauk, terus teman saya, Kak Ajeng, ambil 3 lauk, harganya sama aja. Makanya, kalau benar sistemnya begitu, rugi kalau gak ambil banyak :) Soalnya enak! Sayang makanannya gak saya foto. Gelap banget. Kan outdoor gitu makannya. Kalau hujan ya nasib.

Ini bukan punya saya. Tapi, idealnya sekalian banyak gini ngambilnya. Ambil aja secara kurang ajar :))
Sumber: http://nguliner.com/wp-content/uploads/2011/08/Nasi-Kalong.jpg

Nasinya cantik banget ya warnanya? Ini dia daya tariknya. Nasinya sendiri terbuat dari beras merah dan kluwek. Saya pun kemarin iseng menggugling resep nasi kalong, dan ada ajalah yang iseng ngepost -___-. Jadi konon katanya, menurut apa yang saya gugel, nasinya pakai sedikit havermut juga. Beras merah + havermut + bumbu kluwek = sehat! Iya, nasi ini memang lebih berserat. Makanya, ambil nasi sedikit aja pun bisa kenyang.

Buat menemani nasinya, ini dia 5 lauk yang saya ambil dan saya rekomendasikan. Soalnya, lima-limanya enak semua.
1. Ayam goreng madu. Dari namanya udah ketahuan lah kalau cita rasanya manis-manis begitu. Selain itu, ada rasa gurihnya juga. Entah bagaimana buatnya, kulit tepungnya begitu pas renyahnya walaupun agak lembab karena berlumur bumbu dan dagingnya lembut banget. Sayang, ukurannya kecil. Tapi ini dia juara lauknya.
2. Buncis bakar. Sebenarnya, ini terlihat seperti tumis buncis, namun entah kenapa namanya buncis bakar. Si kokinya bisa banget bikin warna buncisnya terlihat indah dan masih renyah saat digigit. Rasanya segar banget lagi. Dari rasanya manisnya yang khas, buncis ini dimasak dengan bumbu madu.
3. Kentang mustopa. Fresh from the penggorengan. Karena itu kentangnya masih crunchy. Rasanya pun gak terlalu pedas, malah cenderung manis dan gurih.
4. Oncom leunca. Leuncanya masih renyah, walaupun oncomnya dikit banget. Lauk yang lumayan menyenangkan untuk sekedar digigit-gigit.
5. Tahu kecap. Yang ini standar sih. Tapi lumayan lah.

Selain itu, kalau memang sistemnya all you can eat, ada dua lauk lagi yang bikin saya penasaran dan nyesel karena gak ngambil, yaitu udang tempura dan otak-otak goreng. Otak-otaknya ini lumayan terkenal. Konon rasa gurihnya pas banget, ga amis, dan di dalamnya ada ranjau cabe rawitnya. Kalau tempuranya sih, ya karena saya memang suka udang aja. Apalagi kelihatan renyah. Ah..

No comments:

Post a Comment