Saturday, December 28, 2013

Review - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

*spoiler alert, tapi berhubung ini adaptasi buku, mari berharap kita sebagai generasi pemuda pemudi harapan bangsa ini udah baca Hamka.*

Di musim-musim liburan, biasanya banyak film-film bagus. Dari kemarin-kemarin juga banyak film bagus entah itu film lokal maupun interlokal. Film yang satu ini, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebenarnya saya tonton dengan ekspektasi yang gak tinggi-tinggi amat. Saya penasaran pingin nonton ini karena  adegan-adegan di trailernya yang sangat mirip dengan The Great Gatsby dan juga pemandangannya yang spektakuler. Mirip-mirip dengan alasan kemarin nonton 5 cm, makanya ekspektasinya biasa aja.

Tapi ternyata film ini benar-benar bagus. Bagus banget.

Judul film ini, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebenarnya udah spoiler sendiri. Si kapal pasti tenggelam. Udah ketahuan. Tapi...film ini bukan film tentang kapal. Tetooot. Berarti yang bilang filmnya ngikutin Titanic: 1) Yakeleus, ini karyanya Hamka yak. 2) Kaga nonton filmnya apa???

Jadi, kisah ini adalah kisah dua sejoli di tanah Batipuh, Sumatera Barat. Si lelaki, bernama Zainuddin (Herjunot Ali) adalah keturunan Minang-Makassar yang dibuang dari tanah kelahirannya di Makassar sejak orangtuanya meninggal. Ia merantau ke Sumatera Barat untuk melihat tanah kelahiran bapaknya sekaligus belajar agama Islam. Ketika menuntut ilmu, lelaki polos ini jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Hayati (Pevita Pearce) seorang yatim piatu yang jadi bunga desa (anyway, sapo la yang dak jatuah cinta liat Pevita @__@)

Karena beda suku, mereka gak boleh nikah, bahkan Zainuddin harus angkat kaki dari Batipuh. Kemudian ia belajar agama ke Padang Panjang. Di sana deh ia ketemu dengan Muluk (Randi Nidji) seorang parewa a.k.a preman yang jadi sahabat eratnya. Hayati sendiri dikawinkan dengan kakak dari Ijah sahabat karibnya, Aziz (Reza Rahardian), pemuda asli Minang yang tajir dan garis keturunannya bagus. Ironisnya, Hayati ini ketemu sama Aziz pas dia ke Padang Panjang demi ketemuan sama Zainuddin yang terusir dari Batipuh. Arrggghh... Zainuddin yang patah hati, nyaris gila, kemudian bekerja sangat giat hingga jadi orang berpunya. Apakah yang kemudian terjadi? Silakan ditonton.

Dari segi akting, Junot ini bagus banget aktingnya sampai-sampai Pevita agak kebanting. Gak ngerti memang disengaja apa enggak karena yang menonton pastinya tahu bahwa Zainuddin ini hatinya teguh banget, sampai-sampai untuk mencinta pun teguh banget hatinya. Sedangkan, Hayati ini nurut-nurut aja berhubung dia hanya perempuan yatim piatu yang hidupnya ditentukan kepala-kepala adat. Yah, ke-kebanting-an Pevita ini kelihatan banget di adegan perpisahannya. Pevita...mengapa suaramu begitu datar? Sebenernya akting Pevita bagus kok, tapi Junot itu watak banget, jadi Pevita terlihat biasa aja. Junot hebat lah.

Di lain sisi, Junot ini, saking berekspresinya jadi lucu. Di beberapa bagian yang seharusnya gak lucu, jadinya lucu karena cara dia membawakan dialognya dan wajahnya yang sangat-sangat polos dan alim khas pemuda kampung. Nah, kalo untuk lucu-lucuan yang disengaja, yang mencuri perhatian ini adalah Randi Nidji. Perannya sebagai sahabat si Junot ini segar dan sangat pantas diacungi jempol mengingat ini akting perdananya dia.

Untuk Reza Rahardian, berhubung dia selalu keren, saya jadi gak bisa komen apa-apa lagi karena di sini dia memang keren. Perannya sebagai Aziz, suami Hayati yang pemabuk, tukang selingkuh, dan hobi judi ini dibawakan dengan benar. Benar dalam artian manusiawi sih, dia ga benar-benar jahat. Jadi yang bikin santai itu nontonnya gak bikin hati gondok walaupun filmnya lama bener yeh, 2 jam 45 menit aja coy.

Dari segi visual, ah bagus banget. Mending ditonton aja deh. Gimana yah. Nonton 5 cm itu visualnya bagus kan? Tapi ceritanya kacrut bangau. Kalau ini tuh bagus bangeeeeet. Cerita bagus yang didukung oleh visual yang mantap = asoy. Tema tempo dulu di Sumatera Barat, Jakarta, dan Surabaya itu niat banget dibikinnya. Untuk urusan kostumnya pun. Om Samuel Wattimena (sok akrab) emang jago banget deh.

Yang kece juga adalah adegan dansa-dansa di rumah Zainuddin saat doi udah kaya dan gak mau lagi dipanggil Zainuddin. Tsah ilah, belagu bangat, maunya dipanggil Tuan Shabir. Harus pake "tuan". Saya juga mau lah pas udah sukses dan punya rumah sendiri macem si Tuan Shabir itu dipanggil Nyonya. Nyonya Tofler *lah*.

Dan entah kenapa setiap adegan itu bisa memotret kecantikan, ketampanan, keseksian, keluguan, kelucuan tiap aktor dan aktris dengan cemerlangnya. Men, Reza Rahardian itu keren banget pas dia merokok cerutu. Sayah mau jadi cerutunyaaaa. Adegan Pevita di dalam air pun bagus banget, cantik banget. Keluguan Zainuddin dan Muluk pas masih kere juga lucu banget. Adoooh Randi lucu banget deh ah. Bener-bener jatuh cinta banget sama aktingnya Randi yang bener-bener kayak aktor beneran. Lucunya setingkat Lukman Sardi di film XL.

Soundtracknya sendiri, yang diisi oleh Nidji, juga berhasil menambah tingkat kedramatisan film ini. Nidji katanya membuat 4 lagu di sini. Untuk soundtrack yang beredar dan ada di trailer, Sumpah dan Cinta Matiku, ini paling sering nongol di adegan-adegannya. Emang bagus dan benar-benar mendramatisasi sampai-sampai berhari-hari humming "sumpah mati sumpah sumpah sumpah...". Ya lagian liriknya diulang-ulang :| Tapi bagus kok.

Minusnya sih, hampir gak ada yah selain Junot dan Pevita yang agak-agak kurang tadi itu. Etapi dari segi make up ada yang gengges banget sih. Intinya ada yang luka di film itu, dan lukanya, yang macemnya dibuat dari plester bergambar luka, ngablak aja dong ujungnya :| Adoooh padahal itu ada di bagian yang kedua paling dramatis setelah perpisahan Junot dan Pevita itu. Ahahaha nonton aja deh.

Pokoknya terlepas dari macam-macam itu, film ini sangat layak ditonton. Walaupun post ini terlambat dipublish karena susah dapet internet, pokoknya harus nonton. Harus. Jarang film Indonesia dibikin seniat dan selama ini.

No comments:

Post a Comment