Tuesday, January 14, 2014

YKS dan segelintir masyarakat yang over sensitif

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan di sebuah blog. Isi tulisan tersebut, yaaah, bisa dibilang anti mainstream lah. Intinya tulisan tersebut mendukung YKS tetap ada dan dijalankan. Loh YKS kan bisa dibilang mainstream banget, kenapa tulisan tersebut dibilang anti-mainstream? Menurut saya, tulisan tersebut anti mainstream dibandingkan dengan opini masyarakat kelas menengah yang menjadi mayoritas pengguna internet.

Opini masyarakat yang lagi hot-hotnya adalah petisi yang meminta dibubarkannya YKS.  YKS adalah suatu acara hiburan, yang kalau saya jahat, bisa dibilang adalah hiburan masyarakat kelas bawah. Isi petisi itu mengelaborasi alasan YKS tidak pantas berada di tivi. Konten YKS tidak mendidik, saya katakan ya, saya setuju. Host tidak sopan, kasar, dan memalukan, ya, saya setuju. Parahnya lagi, ada anak SD di Lampung yang melakukan kegiatan asusila goyang Cesar sambil membuka celana gara-gara YKS. Bangsat betul bukan YKS itu? iya betul, saya setuju. Tapi apa saya setuju dengan usaha pemboikotan YKS dengan petisi ini? Saya katakan sejujur-jujurnya, saya benar-benar tidak setuju.

Saya membagi tulisan tersebut di facebook saya. Muncullah komen-komen yang setuju dan tidak setuju. I'm fine, really. I'm okay with that. Saya diajarkan bahwa adalah sebuah hal yang wajar kalau gak semua orang setuju sama kita. Orang semulia Nabi Muhammad SAW aja dulunya dihina-hina. Tapi setelah memperhatikan komen-komen yang masuk di FB saya, saya melihat kalau masalah di masyarakat ini adalah sikap masyarakat itu sendiri, bukan konten acara yang dinilai makin sampah.

Dari frasa "konten acara yang makin buruk" saja saya sudah tidak setuju. Kalau ada suatu hal yang benar-benar gak ada lagi di muka bumi, itu adalah originalitas yang murni. Udah gak ada lagi hal yang original. Apa yang sekarang kita tonton, makan, baca, itu adalah pengulangan dari apa-apa yang sudah ada, namun dipoles dengan gaya yang berbeda. Rainbow cake kekinian? Dari dulu udah ada yang namanya kue pepe dari Betawi. Personal Literature yang Raditya Dika-ish itu in banget? Baca aja The Diary of Anne Frank. YKS, acara yang buruk rupa amit-amit itu menunjukkan degradasi kualitas acara kekinian? Hmm, bisa agak panjang membahas ini.

Pertama, lagu buka sitik jos itu bukan suatu hal yang original. Inget gak pas masih kecil, di hari libur, di pagi hari, ada acara lagu dangdut? Saya ingat betul itu lagu Cucak Rowo yang dinyanyikan Didi Kempot. Ibu saya adalah orang yang sangat-sangat-super-duper strict saat saya masih kecil (tapi jadi sangat cuek pas saya udah agak gedean). Tapi, beliau gak marah saat saya terpaksa tahu lagu itu. Beliau cukup memberi tahu saya kalau itu lagu tentang alat kelamin laki-laki, karena keluarga Batak umumnya terbuka. Setelah itu saya benar-benar sadar kalau menyanyikan lagu itu di depan umum adalah suatu hal yang salah. Jadi, kalau ada hal yang membuat anak kecil melakukan hal yang ada di tivi itu, menurut saya bukan salah YKS, tapi salah orangtua atau wali si anak tersebut, karena YKS jelas-jelas udah pasang logo Parental Guide. Kenapa di jam-jam mengulang pelajaran, anak sekolah diijinkan orangtuanya untuk nonton YKS?

Dulu ibu saya bilang, anak nakal itu sebenarnya kasian. Mereka adalah anak yang membutuhkan cukup perhatian orang di sekitarnya. Jika seorang anak merasa cukup (dalam arti gak kurang dan gak lebih) akan hal tersebut, insya Allah dia gak akan aneh-aneh. Memang saya belum merasakan susahnya jadi orangtua. Tapi, menjadi orangtua memang suatu hal yang sulit. Mestinya mereka harus siap memberikan yang baik-baik dan melindungi anak dari yang buruk-buruk. Masalahnya, baik dan buruk itu gak pernah jadi soal hitam dan putih. Di sini orangtua harus selektif. Seorang anak gak boleh dibiarkan gak punya pegangan atau panutan. Makanya, jangan cepat-cepat jadi orangtua lah kalau anda belum siap secara mental. Saya melihatnya jadi yang salah siapa yang diboikot jadi siapa gitu. Kan lucu.

Saya jadi ingat karya eksistensialisme Dostoyevsky. Karya-karya tersebut umumnya punya tokoh orang yang penyendiri, punya masalah dengan kehidupan sosialnya, namun tokoh-tokoh tersebut gak sadar punya masalah sosial karena mereka sibuk menyalahkan kehidupan di luar kepompong yang menyelimuti kehidupan mereka sendiri. Ini benar-benar memotret manusia masa kini. Hmm...sekarang saya jadi tahu gunanya baca Dostoyevsky dan Albert Camus.

Kedua, jika dibilang konten acara jaman dahulu lebih mendidik dan terjadi degradasi di konten acara televisi jaman sekarang, itu cuma masalah pola pikir aja. Oke, jaman dahulu anak kecil menonton video klip sesama anak kecil, bukannya nonton acara yang lalalala yeyeyeye itu. Tapi, setelah menonton ulang video klip anak-anak itu di VCD bajakan bersama Nadine, adik saya yang berumur 6 tahun, saya geleng-geleng sendiri. Kayaknya walaupun lagu-lagu tersebut liriknya cukup appropriate bahkan mendidik (lagu Burung Papa Sakit gak appropriate sih), agak heboh juga goyangan anak-anak tersebut. Jadi, kalau anak kecil goyang Cesar, Oplosan, Buka Sitik Jos, apalah itu, apa bedanya dengan anak kecil niruin goyangan centil yang dilakukan oleh anak kecil lainnya? Semua orang bisa menggoyangkan pinggulnya. Yang jadi masalah adalah, gak semua orang bisa mengendalikan otaknya. Masalah goyangan itu sama aja dari dulu. Dulu Inul sempet diprotes oleh Camelia Malik karena goyang Ngebornya. Tapi Camelia Malik itu penari Jaipong yang sama sama menggoyangkan pinggul kan? Mungkin kalau saya waktu itu udah ngerti nulis, saya bakal nulis tentang hal itu.

Saya pun bakal tanda tangan di petisi itu kalau benar-benar gak ada alternatif acara yang mendidik di jam yang sama dengan jam tayang YKS. Masalahnya, di jam segitu banyak acara yang lebih appropriate. Gak usah di TV berbayar. Di TV lokal pun ada. Edu TV? Sepanjang hari menayangkan acara yang edukatif. Kompas TV? Acara ter"sampah"nya aja (dalam artian lebih ke arah entertaining bukan ke arah educating) modelan stand up comedy. Kurang "berbudaya" apa coba? (bukan sarkas...bukan sarkas...). Metro TV? Sepanjang hari menayangkan berita yang aktual. Kalau masyarakat memboikot YKS karena ingin mempunyai alternatif acara yang lebih mendidik, atuhlah, remote control TV sepenuhnya berada di bawah kuasa mereka. Kalau benar-benar gak ada, matikan aja tivinya.

Kenapa memboikot hanya satu acara yang mengganggu dan bilang butuh alternatif acara yang lebih mendidik padahal alternatif acara tersebut benar-benar ada?

Ingat, sekarang kita punya kemewahan yang namanya logo Parental Guide (Bimbingan Orangtua). Pas saya masih kecil, logo tersebut kelihatannya belum pakem aturannya. Atau malah gak ada? Ada alasan alay-alay YKS yang ikut nonton ada di range umur remaja hingga dewasa, karena memang itu bukan tontonan anak kecil.

Ketiga, masih tentang nyanyi-nyanyian. Masyarakat sekarang sangat menyayangkan nyanyian semacam Buka Sitik Jos itu. Well, tadinya saya gak tau lagunya adalah Buka Sitik Jos. Kedengerannya Asik-Asik Jos aja. Okay, forgive my ignorance. Walau petisi tersebut secara spesifik ditujukan ke YKS, petisi tersebut secara gak langsung menyinggung nyanyian anak jaman sekarang. Bayangan saya langsung mengarah ke Coboy Junior dan band sejenisnya dengan lagu cinta-cintaannya. Kalau dibilang ini adalah fenomena baru yang menyesatkan, saya geleng-geleng kepala lagi. Tau The Jackson Five? Vokalisnya adalah Michael Jackson pas masih kecil banget. Isinya cinta-cintaan juga. Ini bukan hal yang baru. Semuanya hanyalah pengulangan. Jadi, yang jadi masalah adalah, anak kecil harus dididik agar tahu mana hal yang bagus buat dia dan mana yang enggak, harus tahu mana panutan yang baik dan buruk. Kalau gak ada yang jadi panutan, gak heran anak kecil bisa sampe nyanyi-nyanyi Buka Sitik Jos sambil buka celana. Berita tersebut gak berimbang karena kita gak tahu latar belakang anak tersebut. Orangtua, tetangga, atau orang terdekatnya gak diwawancara. Yah, emang agak sensitif sih mewawancara orang-orang itu karena membuka aib orang terdekat bukan hal yang baik kan di "budaya ketimuran" kita. Justru itu kita gak bisa serta merta mengecap bahwa YKS adalah satu-satunya faktor kemerosotan moral anak-anak.

Teman gue, Adya, pernah menulis sebuah paper yang sangat menarik tentang Harrison Bergeron karya Kurt Vonnegut, sebuah cerita fiksi ilmiah satir tentang bagaimana nyaris semua orang di-handicap, diberikan semacam pasungan berupa setruman yang berbeda sesuai dengan tingkat kepintarannya. Tujuannya adalah membentuk masyarakat yang egaliter, yang homogen, sama semua otaknya. Satu hal yang diusung Adya dalam papernya adalah membentuk masyarakat yang homogen itu gak mungkin, karena satu-satunya usaha yang membuat masyarakat itu jadi homogen, yaitu pasungan tersebut, gak ada yang sama kadarnya. Oke tingkat kecerdasan masyarakat tersebut jadi sama, tapi kebutuhan akan banyaknya pasungan yang diterima orang tersebut justru makin bikin masyarakatnya gak sama, karena makin keliatan mana yang butuh pasungan banyak berarti dia tadinya cenderung lebih pintar. Mana yang butuh pasungan dikit berarti dia tadinya gak sepintar orang yang pasungannya banyak. Menurut gue, hal tersebut juga menyatakan kalau kebutuhan orang itu gak ada yang sama karena tiap orang berbeda-beda. Misalnya, gak bisa semua orang dikasih hal yang mendidik karena yang tua-tua tampaknya udah cukup terdidik kan? Butuhnya dihibur.

Intinya sih hal tersebut sama. YKS memberikan kebutuhan masyarakat yang haus dengan hiburan-hiburan tolol yang membumi dan gak bermutu, karena akuilah, hiburan kelas teri macam itu gak pake mikir dan lebih bikin ketawa lepas bukan? YKS ini ditujukan buat orang-orang yang lelah sama sulitnya hidup, yang butuh hiburan tanpa mikir. Yang bikin ketawa lepas. Ada pula masyarakat yang gak butuh YKS. Mungkin mereka lebih suka dengan hal yang lebih cerdas. Lebih suka stand up comedy lah, Mario Teguh lah, Metro Xin Wen lah, Laptop Si Unyil lah. Yang punya anak kecil bisa Space Toon (masih ada gak sih?), atau juga Edu TV. Kalau mau anaknya belajar kritis yang ajarin nonton berita (berita ringan aja, kalo berita kriminal nanti anaknya jadi psikopat lagi. Ngeboikot berita lagi). Kalau acara-acara tersebut dinilai masih kurang mendidik, pilihan yang paling bijaksana, dan memang pilihan ini paling bijaksana dibandingkan menonton acara apapun di TV, matikan TV. Ajak anak kecil baca buku cerita, menyanyi bareng, main anak-anakan, masak dan makan bareng. Apapun itu yang baik-baik karena sejatinya emang TV itu mematikan imajinasi.

Kalau mainnya udah boikot-boikotan, cabut-cabutan hak, apa bedanya sama jaman Soeharto? Yang bilang komunis itu buruk padahal sistem pemerintahan dia komunis banget. Cara dia mempropaganda masyarakat, termasuk lewat channel TV yang cuma TVRI agar masyarakat tunduk semua aja udah komunis banget. Tuh, kalau pingin semua hal mendidik, bener-bener lah kita balik ke jaman Soeharto. TVRI kan mendidik semua tuh isinya. Di jaman ini, gak semua hal itu ditujukan untuk mendidik. Ada hal yang memang pure hiburan karena memang hal tersebut benar-benar ditujukan untuk menghibur bukan buat mendidik. Lagian, kalau memang tayangan sampah berpengaruh pada kemunduran bangsa, coba lihat Amerika dengan American Dad, Family Guy, The Simpsons, dan sitkom-sitkomnya. Mundur kah mereka? Coba lihat Jepang dengan Benteng Takeshi dan acara masak-masakan yang dipandu cewek-cewek seksi di bawah umurnya? Mundur kah mereka? Coba lihat Korea dengan Running Man (versi sekarang) dan variety-variety show lainnya yang menawarkan fantasi aneh-aneh tentang fangirling dan fanboying secara gak sehat? Mundur kah mereka? Semua ini bergantung ke kebijakan tentang siapa penonton dan siapa yang bertanggung jawab dengan tontonannya.

Tampaknya mayoritas manusia memang pada dasarnya punya kecenderungan yang sama. Jiwa mudanya melawan yang tua. Yang kecil suka gak nurut sama yang tua. Waktu dewasa mereka merasa generasi mereka lebih baik dan generasi di bawahnya terdegradasi dibandingkan sama mereka. Lucunya, untuk hal yang terakhir, sekedar TV show macam YKS aja dipersalahkan. Sekarang coba lihat quote ini:

"The children now love luxury; they have bad manners, contempt for authority; they show disrespect for elders and love chatter in place of exercise. Children are now tyrants, not the servants of their households. They no longer rise when elders enter the room. They contradict their parents, chatter before company, gobble up dainties at the table, cross their legs, and tyrannize their teachers"

Malu gak sih kalau kita sebenarnya memang berada di jaman yang kebiasaannya berulang-ulang, stylenya aja yang berbeda, setelah kita tahu kalau quote tersebut berasal dari...Socrates.

2 comments: