Tuesday, September 30, 2014

UK? Hell Yeah Ujung Kulon It Is!

Di suatu hari yang tenang, dengan tujuan mulia, gosipin anak orang, tiba-tiba saya berkomunikasi lagi dengan teman dari zaman SMA, Erwin. Sekedar informasi, Erwin adalah kakak kelas saya, alumni malah, yang berbeda tiga angkatan dan dipertemukan di ekskul teater dulu. Selayaknya seorang alumni, mustinya dia menjaga wibawa. Tapi entah mengapa, seringnya dia justru jadi korban junioritas.

Pun hingga dia sekarang sudah jadi "artis ibukota", nasibnya masih sebelas-dua belas.

Di tengah-tengah gosip kami hari itu, dia mengabari saya, "Dina, minggu depan gue mau ke UK." yang saya timpali dengan "Tayiiii..."

Dalam hati saya udah siap-siap bangga, "ah apakah Erwin benar-benar akan melanglang buana dengan karirnya di majalah internesyenel itu atau dengan bandnya..." sampai ia lanjut membalas whatsapp saya "...UK, Ujung Kulon."

*tendang ke depan badak bercula*

Singkat kata, saya ikut pula ke Ujung Kulon mengingat perjalanan dengan sistem shared cost ini ini masih membutuhkan beberapa orang lagi demi membuat kuota penuh dan budget berkurang. Oh, dan tentunya yours truly ini pun sangat butuh jalan-jalan. So...here it begins, our trip to Ujung Kulon with some guys of BPI.


H-7 KopDar. (13 September 2014)


Kelabilan saya dalam memutuskan untuk ikut atau tidak dalam trip ini membuat kuota keburu penuh. Alhasil, saya dimasukkan ke dalam waiting list. Sebuah keberuntungan datang ketika tiba-tiba empat orang memutuskan cabut dari trip ini. Alhamdulillah, rejeki anak soleh...

Demi mengakrabkan diri dengan teman-teman baru, saya ikutan kopdar.

Sejujurnya, saya sempat deg-degan karena baru kali ini saya ikut backpacking, selebihnya dulu open trip saja. Apakah selama trip ini saya akan jadi anak yang menyebalkan dan manja? Ketakutan tersebut dibuktikan dengan pemikiran super cetek yang sempat menyambangi kepala ini: kira-kira nanti bisa bawa hair dryer gak ya?

KopDar berlangsung di warkop dekat JCC. Ternyata hanya enam orang yang mengikuti kopdar ini. Keenamnya adalah Yola (trip leader), Asthi, Yala, Erwin, Misdar, dan saya.

Di acara kopdar tersebut, kami, yaa tepatnya Yola, Asthi, dan Yala (yang memang sering ngetrip) mengatur itinerary perjalanan nanti. Saya membantu angguk-angguk dan ngomong iya-enggak aja daripada salah. Maklum newbie.

OK, looks like it's gonna be exciting. Untuk seseorang yang sudah melewati masa enam bulan bekerja dan belum sekalipun ngerasain jalan-jalan pakai duit sendiri, apa sih yang gak akan fun?


Hari-H (19 September 2014)


Sesuai itinerary, pukul 21.00 tepat kami diwajibkan ngumpul di Plaza Semanggi. Meeting point sendiri terletak di Dunkin Donuts, meeting point sejuta umat.

Hari pertama ini sempat diwarnai keribetan karena di hari yang sama, saya bertugas liputan di Hotel Allium Tangerang. Bagaimana kalau nanti bawa motor (liputan jauh-jauh ga bawa motor kan amsyong), nanti kalau bawa mau dititip di mana saat pergi ke UK, sebal sama kantor yang sulit ngasih voucher taksi, beserta tetek bengek keribetan-keribetan gak penting lainnya. Praduga tersebut berlalu melegakan karena liputannya pindah tempat di BSD, dekat rumah, yey! 

Sepulang kerja, saya bertemu Erwin di tukang nasi uduk Bendungan Hilir sekalian makan malam. Ternyata dia membawa carrier dengan ukuran lumayan besar. Lho, dia bawa apa aja? Saya sendiri hanya membawa baju dan sleeping bag di dalem tas Jansport abal-abal.

Siap makan, kami bergegas menuju ke meeting point di Atma Jaya. Saat bertemu dengan teman-teman lainnya, saya mendapati kalau mereka juga pada bawa carrier, setidaknya backpack yang agak besar. Lah.

Cuss, naik bis ke Taman Jaya.

(...sambil mikir, hmmm...tau gitu pinjem carrier orang aja, supaya bisa muat-muatin hair dryer di dalamnya *tetep*)


H+1 (20 September 2014)


Taman Jaya


Perjalanan menuju Taman Jaya berlangsung selama lebih kurang 8 jam. Pukul 06.30, kami tiba di Taman Jaya.

Photo Courtesy of Kamil

Anak panti yang capek duduk di bis memutuskan untuk duduk lagi, tapi di rerumputan.

Taman Jaya merupakan suatu desa yang terletak di bagian ujung paling Barat pulau Jawa. Desa ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon sehingga menjadi titik awal paling umum bagi turis untuk menyambangi Ujung Kulon.

Di titik ini, saya masih memakai baju kerja. Wajah masih tak berkilap karena masih sering ditepuk-tepuk kertas minyak. Ga potongan backpacker banget. 

Setelah menunggu Yola ketemu Pak Miskandi (guide kami semua, polisi hutan UK), kami pun briefing sebentar dan berdoa. Tak berapa lama, tujuan pertama, Pulau Peucang siap kami sambangi. Untuk menuju pulau ini, kami harus naik kapal lagi selama tiga jam. Oh...tak sampai-sampaaai...

Eh, tapi lumayan juga tiga jam itu dipakai tidur. Karena kegiatan di bis mayoritas diisi dengan sesi mengobrol dan gosipan bersama Erwin, rasa-rasanya memang masih sangat mengantuk.

Pulau Peucang


Tiga jam kemudian, tibalah kami di Pulau Peucang.

Pulau Peucang berada di Taman Nasional Ujung Kulon bagian timur. Terkenal dengan pantainya yang berpasir putih dan berair hijau kebiruan, tak sedikit wisatawan baik lokal maupun interlokal yang menjadikan pulau ini sebagai favoritnya di kawasan Ujung Kulon.



Uhuk, izinkan saya yang sedang senang ini narsis sejenak...

Di sini, kami masih memikirkan masalah penginapan. Peucang atau Handeuleum? Handeuleum atau Peucang? Lagi-lagi urusan ini dibereskan Yola, trip leader yang super kece... Terima kasih Yola. Setelah ganti baju, kami jalan-jalan dulu di salah satu bagian dari Pulau Peucang.

Photo Courtesy of Asthi

Photo Courtesy of Asthi


What a paradise on earth...

Ada juga yang mulai-mulai snorkelling di sini. Sementara saya? Saya memilih duduk-duduk saja dulu lihat-lihat pantai yang super bagus. 

Cidaon


Tak mau buang waktu lama, kami melanjutkan perjalanan ke Cidaon.

Photo Courtesy of Asthi

Cidaon merupakan savana yang juga tempat penggembalaan hewan-hewan asli Ujung Kulon. Di tempat ini pengunjung dapat menyaksikan hewan-hewan hutan seperti banteng jawa, monyet ekor panjang, babi hutan, bahkan burung merak.

Sayangnya saya "hanya" sempat bertemu banteng jawa di sini.


Photo Courtesy of Asthi

Mungkin kami mencapai tempat ini bukan di waktu makan para hewan-hewan hutan tersebut. Tak masalah, tempatnya sendiri sudah cantik.

Photo Courtesy of Kamil

...sehingga bisa foto klasik loncat-loncatan dengan gumbira.

Photo Courtesy of Kamil

Dan juga bisa menaiki menara pandang. Kata yang sudah pernah singgah ke Baluran, menara ini mengingatkannya ke menara pandang di sana.


Pemandangan tersebut saya ambil dari tingkat teratas menara pandang dengan handphone saya.

Setelah merasa lumayan puas (dan ada juga yang merasa zonk karena hewannya sedikit), kami melanjutkan perjalanan demi mengejar sunset. To Tanjung Layar it is!

Jalur Trail Cibom - Tanjung Layar


Melihat referensi yang cukup banyak di internet, sempat tercetus saat kopdar mengenai destinasi Karang Copong sebagai tempat mengejar matahari tenggelam. Karena satu dan lain hal (bilang aja gak tau din...), akhirnya kami putar arah ke Tanjung Layar.

Tadinya saya pikir, "Hah, Sawarna nih?" dan kepikiran untuk googling jarak UK-Sawarna. Akan tetapi, layaknya nama Cibodas yang ada di mana-mana, nama Tanjung Layar pun tak kalah pasaran. 

Untuk menuju Tanjung Layar Ujung Kulon, pengunjung harus melalui jalan Cibom - Tanjung Layar yang berjarak kurang lebih 1,7 kilometer. Saya sendiri kurang mempersiapkan diri, tidak pernah olahraga, kebanyakan makan terus sehingga gendats, plus pakai sandal mahal asli Indonesia yang dipopulerkan Sehun di Korea Selatan. Jalur trekking yang tidak sampai dua kilometer ini pun cukup bikin pegal. Tapi di balik itu semua, anak kota ini sungguh bungah masuk ke hutan.


Setelah berdoa agar selamat masuk hutan, saya bertemu dengan objek foto yang sungguh suburban ini. Dibaca sejenak saja pahala langsung rontok seperti bulu ketiak rumput gajah menganga lebar.


Photo Courtesy of Asthi

Kata Pak Miskandi, pohon kiara berlubang ini tidak boleh difoto, entah alasannya apa. Kemungkinan sih klenik, tapi sepertinya bercanda saja.

Photo Courtesy of Asthi
Mercusuar ini menjadi tempat perhentian karena yang jelas tempatnya datar dan bisa untuk duduk-duduk. Siapa berani menaiki mercusuar ini? Duh, kalau saya sih...makasih deh. Daripada pas lihat ke bawah langsung blong begitu kan makdirodok juga.



Satu spot tebing-tebingan yang ditemukan tanpa sengaja saat melihat ke kanan. Cantik dan fotogenik.

Setelah beberapa lama, sampailah kami di savana Tanjung Layar yang rumputnya tajam-tajam sampai bingung mau duduk dengan posisi gimana.



Lalu akhirnya mejeng berdiri saja...

Untuk melihat sunset di sini, ada tebing yang harus dipanjat. Penyesalan oh penyesalan, saya gak bisa manjat tebing. And here is what I missed...


Photo Courtesy of Asthi

Photo Courtesy of Sutam

Photo Courtesy of Sutam

Tekad: Liburan selanjutnya sudah harus berbadan ringan, siap-siap olahraga, dan ga ada ceritanya pake sendal swallow. Titik. Bhay! *merengut*

Pulau Peucang...again.


Setelah puas menikmati sunset, kami bergegas menuju kapal. Ada yang luput saya ceritakan tadi mengenai penginapan. Sebenarnya, kami ingin mendapatkan lokasi penginapan di Pulau Peucang. Akan tetapi, berhubung tempat ini menjadi favorit pengunjung dan sudah pesimis duluan, kami membooking penginapan di Pulau Handeuleum. 

Suatu keberuntungan datang kembali karena akhirnya kami mendapatkan lokasi tidur di Pulau Peucang. Lokasi Pulau Handeuleum yang cukup jauh tidak memungkinkan kami untuk mencapainya. Selain itu, kasihan ada teman seperjalanan yang sedang hamil 6 bulan (hamil besar tapi masih bisa trekking? Oh ga ngerti saya sama calon supermom ini...)

Langsung keluar lah jiwa egois saya begitu mencapai Pulau Peucang. Pikiran utama: harus bisa mandi! Sendirian! Gak beramai-ramai satu kamar mandi! Sat...set...saya langsung misah sendiri, bodo amat mau kamar mandi seram atau apalah. Yang penting mandi.

Akhirnya, saya numpang kamar mandi kantor penjaga Pulau Peucang, oyeaaa. Sudah mandi, langsung segar. Tapi muncul penyesalan...lagi-lagi karena tidak bawa hair dryer, hehehe. 

Ada lagi yang belum saya ceritakan. Hal yang paling menarik di Pulau Peucang adalah hewan dan manusia bisa hidup berdampingan. Malam-malam sempat pula teras kami dikunjungi rusa peucang dan babi hutan.

kamera bucuk...
Di pulau inilah sebenarnya saya paling banyak melihat hewan-hewan khas sini berlalu lalang. Tanpa kita cari juga mereka bertamu sendiri.



Babi hutan berjalan-jalan tenang dan selow...



*insert inside jokes* *insert inside insults* *masa-masa SMA* Erwin, is that you?



Kyah. komodo! Eh, biawak deng.

Sebenarnya, agenda utama malam ini di Pulau Peucang adalah makrab sambil makan ikan bakar. Akan tetapi, berhubung sebagian peserta sudah mengantuk, mereka (dan saya tentunya! pegel!) memutuskan untuk tidur.

Alhasil, ikan yang telah dimasak jadi kebanyakan. Yang memilih untuk patuh pada agenda pun makan ikan jatah teman-temannya. Delapan ikan dimakan bertiga lah... bumil makan tiga ekor ikan lah... *ga papa kalau ini sih bagus untuk si dedek bayi*.

Ada pula berita dramatis di malam itu. Salah seorang teman di kelompok ini, Bang Roland, kehilangan jaketnya. Oke...fine, that's only jacket, but apparently..not. Di dalam jaket tersebut ada dua handphone! Nahloh. Kami sibuk menggeledah tas masing-masing, namun tidak ketemu. 

Sempat kasihan sama Bang Ronald, saya berusaha menawari teh, kopi, popmie, apa saja biar tenang. HP dua biji aja dong, gimana gak stres... Dia yang (pastinya) menolak pun menghilang entah untuk tidur atau merenung.

H+2 (21 September 2014)


Terlepas dari insiden tersebut, keputusan untuk menginap di Pulau Peucang merupakan keputusan tepat mengingat keindahan pantainya. Yah...walaupun penginapannya tidak begitu bagus. Jika bangun pagi hari, kita dapat langsung keluar penginapan, jalan sebentar, ketemu pantai, mengejar matahari terbit.

Photo Courtesy of Asthi

Photo Courtesy of Asthi
Setelah puas, kami mengepak ulang barang-barang untuk bersiap pulang.

Di saat pengepakan barang ini, berita setengah miris setengah melegakan datang, jaket Bang Roland ditemukan mengapung di dekat kapal. Kedua HP ditemukan, tapi telah berada dalam keadaan terendam air laut. Yang mengherankan, posisi jaket tersebut sebelum hilang bahkan tidak berada di bagian luar kapal. Bagaimana bisa sampai ke laut? Pak Miskandi yang merupakan polisi hutan pun lega sekaligus mencak-mencak. Dia mengatakan bahwa dirinya memang sedang mempunyai target operasi dan kejadian ini bukan pertama kalinya. Sebuah pelajaran agar kita selalu berhati-hati di mana saja.

Selain mengucap syukur atas ketemunya lagi jaket Bang Roland, saya pun mengucapkan sayonara dalam hati untuk Pulau Peucang. Semoga bisa bertemu lagi.

Off to the next destination!

Cigenter


Destinasi pertama hari ini adalah Sungai Cigenter. Sungai ini terletak di daerah Handeuleum. Sungai Cigenter terkenal dengan wisata kanonya. Orang-orang (website travel ding) bilang sensasi menaiki kano di sini hampir sama seperti menyusuri sungai Amazon.

Bagaimana enggak? Sungai yang tenang ini ternyata dihuni pula oleh ular piton dan buaya. Jika beruntung, kabarnya kita dapat melihat badak bercula satu yang sedang mencari makan di pinggir sungai.

Let's go canoeing!

#nofilter #kamerahandphoneajaib


Perginya sih barengan, tapi selfie sebizi doang, pake handphone "bagus" lagi...

Photo Courtesy of Asthi

Photo Courtesy of Asthi

Setelah menyusuri sungai ini kurang lebih selama 20 menit, kami langsung cabut ke tujuan selanjutnya.

Pulau Handeuleum


Berhubung tadinya kami sempat dibookingi penginapan di Pulau Handeuleum, masih ada urusan yang belum diselesaikan. Kami mampir sejenak ke pulau tersebut. Yola menyelesaikan urusannya dan kami...foto-foto dong!



Pulau Handeuleum merupakan pulau terbesar di Taman Nasional Ujung Kulon. Pulau ini dipenuhi hutan bakau dan (selayaknya pulau lainnya di Taman Nasional UK), hewan-hewan khas sini seperti badak, ular sanca, buaya, dsb, endebrey.

Selayang pandang, pulau ini lebih nice dan asri sebagai tempat tinggal. Tempatnya tenang, penginapannya besar dan bagus ala villa di Anyer, dan adem. Tapi minusnya, pantainya gak bisa buat main sesuka hati seperti di Pulau Peucang.


Yas, underline what I have said, hutan bakau. Akarnya yang tajam-tajam membuat pulau Handeuleum ini mustahil menjadi tujuan berenang, apalagi snorkelling. Yah...kecuali kamu adalah Limbad sih.

Pulau Badul


Tujuan terakhir kami adalah Pulau Badul, sebuah tempat yang digadang-gadang memiliki spot snorkelling terbaik di Taman Nasional Ujung Kulon.

Pulau Badul merupakan sebuah pulau kosong berpasir putih yang tidak bergitu luas. Walaupun begitu, keindahan alam bawah airnya menjadi satu tujuan yang digandrungi para wisatawan Taman Nasional Ujung Kulon.


Pemandangan dari atas kapal membuat tak sabar ingin mencebur.



Photo Courtesy of Kamil & Deddy


Photo Courtesy of Kamil & Deddy


Photo Courtesy of Kamil & Deddy
Duh, kameranya bagus amat siiiih.

Photo Courtesy of Kamil & Deddy

Di karang terakhir ini, sebuah insiden memalukan terjadi. Saya berenang terlalu ke pinggir pulau, yang mana karangnya tajem-tajem dan dangkal pisan ye bok. Begitu panik dan kepingin balik ke tengah laut, saya makin terhempas ombak ke dekat pulau. Meh. Terdengar bunyi "bret" halus dari paha. Wah dah ga bener ini sih. Robek dah nih celana. Saya pun balik badan berusaha berenang gaya-gaya punggung (DOH SOK IDE BANGET SIH DIN) yang mana berakibat terdengarnya bunyi "bret" halus dua kali dari celana bagian belakang.

Mamak TT__TT

Berusaha balik ke kapal, I still have no idea seberapa besar robekan di celana ini. Berhubung bunyi "bret" yang terdengar cukup halus, saya pikir robeknya gak heboh-heboh banget. Ya sudah, saya berusaha bertingkah normal, balik ke kapal, manjat tangga pinggir, diiringi Pak Miskandi.

Begitu sampai di atas kapal, saya melihat robekan celana di paha yang begitu besar, ada mungkin sekepalan tangan.

OH BAHAJA!

Refleks tangan ini meraba bagian bumper belakang. Duh, ternyata robek sekepalan tangan juga di...

...

...

...

kedua belah fantad TT__TT

Celana dalam yang dipakai pun tak kuasa menghalangi diri ini dari rasa malu, karena motifnya pink garis-garis aja dong sodara-sodara...

Beruntung si Erwin lagi menjemur flanel di kapal. Erwin kemudian meminjami saya kemeja flanelnya, tapi tetap plus diketawain hingga akhir zaman sih...

Kembali ke Taman Jaya


Dari awal kembali ke awal. Kami kembali ke Taman Jaya di mana kami membersihkan badan. Alhamdulillah, ganti celana. Setelah urusan beres, kami kembali ke rumah masing-masing dan dadah-dadah dengan hati gembira deh!

Menyenangkan sekali mengikuti trip yang benar-benar backpacking dari awal hingga akhir, mulai dari menyusun itinerary sendiri, bertemu teman-teman baru yang tangguh dan keren, menjalin silaturahmi dengan teman lama, bersama melihat keindahan alam Indonesia, semuanya sangat berkesan. Jadi gak sabar ikut trip-trip semacam ini lagi!

*lihat dompet* *keluar lalat* 

***

Terima kasih untuk trip ini, teman-teman. Semoga suatu hari bisa ngetrip bersama lagi.

3 comments:

  1. Diin..upload foto celana sobek doong..muahahahaha..

    ReplyDelete
  2. Kalian punya fetish sama celana robek yah? TT__TT

    ReplyDelete