Thursday, May 14, 2015

30 Menit Memasak Makanan Sehat Setiap Hari (Part 1)

Sepanjang ingatan saya, di masa kecil, ibu saya selalu berusaha untuk memasak bagi anak-anaknya. Bagi anak-anak, hidangan rumahan ala Indonesia mungkin kurang menarik dibandingkan fast food. Tak terkecuali saya, yang belagu dari kecil, yang kalau makan nasi dan sayur harus dicekokin dulu. Beda banget sama pas gedenya. Beda pula halnya kalau ketemu ayam TFC (Texas, maklum hipster dari kecil). Saya (kecil) langsung lupa kalau sebenarnya saya ga suka makan.

Hal ini masih jadi PR buat ibu-ibu karena dari segi rasa dan tampang, fast food serta junk food benar-benar dirancang oleh para engineer demi memberikan sensasi ketagihan bagi konsumen. Pun bagi kaum muda seperti kita-kita, makanan sampah punya kelebihan tambahan, yaitu (seolah) membantu kita untuk menghemat waktu.


Salah satu mahakarya resto fastfood sponsor piala dunia kemarin. Mana limited time offer. Mana tahaaan buat nolak? Btw, silakan pingsan pas tau jumlah kalorinya. (Courtesy of infojajan.com)

"Yaudah deh sedikit aja ga apa-apa. Ga langsung sakit ini, kan?" Kadang-kadang saya sering bikin alasan seperti itu. Basi sih emang alasannya, padahal bukan rahasia umum lagi kalau penyakit-penyakit dalam itu bukan hanya milik kaum tua. Yang umur 30 tahunan bahkan 20 tahunan (!) udah banyak juga yang kena penyakit-penyakit "aneh". Memang sih, fast food bukan satu-satunya penyebab berbagai penyakit. Akan tetapi tetap saja ia punya andil sebagai pemicu. Alih-alih menghemat waktu, dia malah buang-buang jatah umur kita. Ya gak?

Akhir-akhir ini, saya sudah mulai mengatur pola diet. Selain ingin punya bentuk tubuh yang ringkas, saya juga sangat ingin jadi lebih sehat. Pertama, di balik tubuh yang gak kebanyakan lemak, tersimpan lebih banyak tenaga dan lebih sedikit calon-calon penyakit. Kedua, kegemukan sendiri adalah malnutrisi. Malnutrisi dan kemakmuran itu secara simbolis ga ada nyambung-nyambungnya. Jadi intinya pengen terlihat sehat dan makmur. Okesip. Pengen kayak Beyonce. Okesip.


Biarpun berlemak, struktur badan saya aslinya mirip Beyonce loh. Besar di pinggul! *boleh muntah* *boleh diabaikan* *belom minum obat gila*

Agar bisa yakin kalau mendapatkan nutrisi yang kita butuhkan, jalan yang paling tepat sebenarnya adalah dengan memasak sendiri. Sayangnya, memasak itu identik dengan ribet dan lama. Memang terkadang buang-buang waktu ini bikin males banget. Apalagi buat saya, anak manusia yang geraknya hampir bisa dibalap siput.

Kemageran ini membawa saya pada gelaran 30 Minutes Healthy Meals Challenge yang diadakan oleh Organik Klub. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 9 Mei 2015 ini dipandu oleh tiga orang chef yang lagi hits banget di media sosial. Mereka adalah Santi Wibisono, Founder dari Organik Klub; Kushandari Arfanidewi (Ayi), Founder katering #AysHealthyAsCanBe; dan Max Mandias, Founder dari Burgreens. Sesuai nama acaranya, masing-masing chef didaulat agar bisa memasak apa saja secepat-cepatnya dalam waktu 30 menit. 

Acara di hari tersebut dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi dan sesi siang. Kebetulan saya mendapat jatah sesi siang. Pagi harinya sebelum berangkat, saya ditelepon oleh seorang alumni Majalah Foodservice, sebut saja dia mas Bomas, yang bilang kalau dia lagi mengikuti sesi paginya. Yah ga ketemu. Kalau saya datang juga udah ketinggalan kaliii sesi paginya.

Saat saya datang ke sesi siang, ternyata Mas Bomas dan Mas Syukur (alumni Foodservice juga), masih di sana, nongkrong-nongkrong di Burgreens yang menempati rooftop Organik Klub. Akibatnya, saya malah jadi gosip sampai lupa masuk kelas. Lah gimana?!? Intinya sih saya melewatkan kelas pembicara pertama, yaitu Bu Santi. Well, sempat icip dua masakannya sih. Tapi kalau ditotal beliau masak tujuh masakan.

Pas saya datang, beliau udah nyampe di penghujung resepnya yaitu Teler Mousse Chia Pudding. Bahannya adalah chia pudding, mousse alpukat, kelapa muda, coconut nectar, nangka, dan es batu. Walaupun tampilannya imut dan mirip dengan es teler, sayangnya lupa difoto. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya agar pada bisa bayangin.


Chia Pudding. Kalau di foto ini, sebenarnya biji chianya direndam di santan. Tapi puding chia Bu Santi mirip-mirip ini sih. (Courtesy of www.ifoodreal.com)
Chia pudding adalah sejenis jelly berbahan biji chia yang direndam semalaman di dalam air atau susu kacang-kacangan semacam almond mylk atau cashew mylk. Teksturnya menyerupai selasih basah. Biji chia sendiri adalah sejenis superfood yang berasal dari Amerika Selatan. Konon kandungan nutrisi seperti asam lemak omega 3, protein, kalsium, antioksidan, dan zat besinya tinggi sekali. Karena dia menyerap air banget, biji ini juga memberi efek kenyang lebih lama. Hmm. Seperti minuman vegeta kali ya?


Kira-kira wujud avocado mousse. Foto boleh nyomot dari pinterest.
Sementara itu, mousse alpukat dibuat dari alpukat matang yang diblender.


Coconut nectar. Photo Courtesy of www.coconutmagic.com.
Coconut nectar adalah gula alami yang terbuat dari nira. Gak ngerti gimana cara membuatnya jadi kental. Setau saya sih untuk mengentalkan nira harus dimasak ya? Tapi ada pula coconut nectar yang dilabeli raw alias ga dimasak. Wah ga ngerti deh kalo udah beginian. Canggih euy. Coconut nectar ini adalah salah satu pengganti madu yang banyak digunakan oleh para vegan. Karena bahan ini merupakan gula berbasis sukrosa, maka coconut nectar aman digunakan oleh konsumen yang sensitif dengan gula fruktosa. Kalau boleh jujur, baru dengar ada yang sensitif dengan fruktosa.

Berhubung pudding chia adalah bahan yang serbaguna, Ibu Santi mendemokan satu resep tambahan yaitu Maca Chia Pudding. Kalau ga salah, bahannya bubuk maca, pudding chia, dan cashew mylk atau susu kacang mede. Karena manis, kemungkinan diberi coconut nectar juga.

Bukan, bukan burjo.
Rasanya? Cukup enak sih. Btw, bubuk maca itu sejenis superfood juga, terbuat dari akar-akaran sejenis ginseng. Seperti halnya biji chia, bubuk maca juga merupakan makanan sehat asal Amerika Selatan.

Sayang sekali saya telat datang. Untungnya, para peserta diberikan handout berisi resep masakan di hari-hari itu. Terlihat dari resepnya kalau Bu Santi memasak makanan yang sangat mudah disiapkan. Buktinya, dalam waktu 30 menit, beliau menyiapkan tujuh jenis makanan. Itu pun masih bisa dimodifikasi macam-macam. Mungkin nanti akan saya coba.

Salah satu resep dari Bu Santi yang cukup menarik adalah Basil Pesto Sauce. Resep ini berbahan 120 gram daun basil, dua siung bawang putih, 150 ml extra virgin olive oil, 50 gram pine nuts, setengah sendok teh garam bali, dan keju parmesan. Buatnya pun gampang. Blender saja semuanya jadi satu. Bahan-bahannya memang terdengar mahal sih, tapi heyyy memasak itu harus fleksibel. Rencananya daun basil akan saya ganti dengan kemangi. Pine nut juga mau saya ganti dengan kacang tanah sangrai. 

Ingat, rules memasak nomor satu adalah jangan kebanyakan mikir. Kalau kebanyakan mikir nanti ga jadi masak. Hehehe.


(To be continued...biasa lah kalo nulis suka bertele-tele)

No comments:

Post a Comment