Sunday, June 14, 2015

Ubud Trip Day 1: Berangkaaat!

Sebagai warga Jakarta Selatan yang ciamique, tentunya saya banyak mendapatkan info mengenai berbagai food festival di Jakarta. Sayangnya kebanyakan food festival tersebut hanya berisi stand-stand makanan. Ada sih beberapa food festival yang mengundang chef buat demo masak, tapi dalam hati saya mendambakan food festival yang mengakomodasi keinginan para foodie dari berbagai aliran, mulai dari pecinta street food, tukang loncat-loncat restoran, tukang binge-watching cooking show (akkk saya banget), pemerhati sejarah makanan, hingga pelaku gaya hidup sehat.

Oleh karena itu, mendengar event Ubud Food Festival, festival makanan yang merupakan paket lengkap impian saya, saya berbinar-binar doong. Wihi! Rasanya benar-benar seperti Emak akhirnya naik haji.

Photo Courtesy of Epicurina
Udah sekitar dua bulanan lamanya saya kepingin datang ke sini. Rencananya, saya juga ingin nulis buat majalah Foodservice, freelance ala-ala lah. Lumayan, banyak tokoh yang bisa ditulis profilnya. Sayangnya, si majalah tiba-tiba vakum! Sedih banget gak sih lo?!? Rasanya jadi maleees banget pergi.

Lambat laun, menyadari kalau saya sebenarnya gak butuh alasan lain lah buat menyambangi acara yang saya tunggu-tunggu ini selain kecintaan saya pada dunia kuliner, ya udahlah yaa saya cabut. Daripada nyesel gak ikutan. (Mengabaikan revisi nyesel ga mb? Huft)

So, Ubud. Here I come!!!

***

Sesungguhnya, keputusan buat ke Ubud ini cukup impulsif. Saya membeli tiket pesawat, menyewa penginapan, dan menyewa motor pas 3 hari sebelum keberangkatan. Untungnya, semuanya lancar. Untuk tiket pesawat, saya capcipcup pilih yang paling murah saja. Dapat lah Lion Air. Untuk penginapan, no complain, saya dapat di airbnb seperti biasa. Pilihan saya jatuh ke Taman Sari Guest House. Untuk motor, berbekal googling dan review yang jujur di blog orang, saya mendapatkan penyewaan motor di Mas Bayu (Tripphoria). Nomornya 0878-6098-5449. Walaupun dari segi servis beda dengan menyewa motor di Bandung dulu (iya lah, secara yang di Bandung harganya hampir dua kali lipat), saya gak nyesel sewa motor di Mas Bayu ini. Harganya murah, gak pakai jaminan apa-apa, orangnya juga ramah.

Berhubung you pay peanut you get monkey, kita delay sejam aja lohhh sodara-sodara. Terima kasih Lion Air. Padahal, rencananya saya tiba di Ubud jam 2 biar bisa langsung ngacir jam 3 ke acara pembukaan Ubud Food Festival di Warwick Ibah. Karena ketelatan ini, saya tiba pukul 3.40 di acara press conference pembukaan Ubud Food Festival. Mana pas banget lagi acaranya habis.

Baru duduk, "Thank you guys for coming" LAH AING SEDIH.

Untungnya, para narasumber masih bisa diwawancarai one-on-one pasca presscon. Asyiknya, wawancara tersebut dilakukan di tamannya Warwick Ibah yang asri dan nyaman banget. Belum lagi ada free-flow wine, juga banyak camilan dari Warwick Ibah. Yum! *bodrek*. Saya sendiri sempat ngobrol cukup panjang dengan ibu Sri Owen. Beliau adalah pahlawan kuliner yang mengenalkan makanan Indonesia ke Eropa selama lebih dari 40 tahun lamanya. Tahun ini beliau menginjak umur 80 tahun dan masih terlihat hebring banget. Salut!

Look at how she aged gracefully with that wise smile. I really want to get older in the same manner as her.

Ibu Sri Owen ini sudah menulis banyak buku tentang makanan Indonesia di tanah Inggris sana. Beliau juga memiliki sekolah masak khusus masakan Indonesia dan Asia. Sayang banget ya, namanya justru ga terlalu kedengaran di sini. Ketika saya memuji-muji Chef Wan karena upayanya mengenalkan makanan Asia ke Inggris, ternyata Bu Sri Owen udah berpuluh-puluh tahun melakukan hal tersebut. Mindblowing banget kan? So happy to meet you, Ibu Sri :)

Pun saya ketemu Pak Bondan. Terlepas dari pandangan politik dese *maap yak saya mah suka ga bisa move on*, ngobrol sama beliau ini cukup bikin grogi. Dese kan mantan jurnalis gitu jadi eke takut dijudgggeee kyaaah.

Pak Bondan sendiri cukup banyak ngobrol tentang kuliner Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Mungkin makanan favorit beliau kali ya? Pak Bondan bercerita tentang betapa beragamnya jenis rendang, bahkan ada yang 100% dibuat dari daun-daunan. Beliau menceritakannya sedemikian rupa sehingga sukses meracuni saya buat mengunjungi Sumatera Barat cuma buat makan rendang dan sate.

***

Bisa dibilang, saya mengunjungi Ubud karena pengen napak tilas kulineran. Malah, saya udah sempat bikin list restoran apa aja yang pingin dikunjungi. Ironisnya, karena waktu press con yang mepet banget sama gala opening, ujung-ujungnya saya makan siang merangkap malam dengan baso malang pinggir jalan seharga 8000 rupiah. Hahahah, bihunnya diwarnai biru pula. Tapi saya ga nyesel deh merasakan pengalaman ditatap melas sama turis Asia Timur makan sambil duduk pinggir jalan begitu. Yaelah mz, mb, nanggung amat sih cuma natap doang. Lemparin duit bisa keleus.

Ga punya poto berdua jadi pake poto ini aja, hahaha. Kedua dari kiri, namanya Mbak Ayi. Mbak ini yang berjasa mengajak saya makan baso malang. Laper banget lagiaaan. Makasih yes mbak.


***

Malam hari pun tiba. Saya dan Mbak Ayi pun menghadiri acara Gala Opening. Gala Opening ini diselenggarakan di Rondji Restaurant. Melihat suasananya yang asyik, tiba-tiba Rondji juga masuk ke list restoran yang pengen saya kunjungi di Ubud.

Selain Rondji Restaurant, Gala Opening ini didukung pula oleh Hujan Locale Restaurant milik Will Meyrick. Will Meyrick ini adalah seorang chef berdarah Skotlandia yang jatuh cinta sama kuliner Indonesia dan Asia. Makanya, walau presentasi makanannya clean, rasanya tradisional banget. Nah, salah satu bentuk supportnya di Gala Opening ini adalah free-flow cemilan enak. Akhirnya kesampean juga nyobain the infamous sirih Hujan Locale. Alih-alih diisi pinang dan kapur, sirih Hujan Locale berisi potongan ayam dan sayuran dengan saus bercitarasa segar berempah. Enak bangeeeet!

Yang bikin happy, salah satu tempat ngemil yang mau saya kunjungi di Ubud buka stand pula di sini. Perkenalkan, Gelato Secrets. Gelato ini dipuji-puji karena kualitas bahannya yang baik dan rasanya yang unik. Tiap bulan juga ada rasa spesial seperti rasa rose petal dan cinnamon yang nongol di bulan Juni ini. Aku jadi mellow ingat Subzero Jatinangor yang udah tutup dari kapan tau! :"( :"( :"(

A kind of food that evokes sweet memories, isn't it?

Nah, sayangnya, di private event seperti ini, rasa gelato yang ditongolin adalah gelato pesenan. Jadi sepertinya hanya ada rasa-rasa best selling. Saya mencoba mango-passion fruit sorbet dan coconut ice cream. Mango-passion fruitnya enak banget, parah. Asem-asem segar dan harum buah tropis. On the other side, kelapanya terlalu manis buat saya. Not bad lah. 

Di acara Gala Opening ini, para undangan dihibur dengan tari Bali dengan penari berbadan khas Bali banget. Bahu lebar, ga terlalu tinggi, tatapan tajam, jari lentik, tsah!

Gadis Bali menari di Rondji. Nama restoran ini juga diambil dari nama seorang perempuan Bali, istrinya Antonio Blanco, seniman yang punya museum lukisan tete itu.
Ada pula sambutan dari Bu Janet De Neefe selaku ketua acara. Ini ibu-ibu cantik dan lincah banget. . Beliau udah tinggal 30 tahun di Bali, sudah menyusun tiga buku dan bertahun-tahun jadi ketua acara Ubud Writers and Readers Festival. Umurnya sudah 51 tahun, lho. Kepribadiannya muda, hangat, dan humble banget, ga heran semua orang pengen (ngaku-ngaku) jadi temennya, but that's another story that I will SURELY tell later. 

Salah satu motivasi agar ikutan kelas yoga

Salah satu highligt malam ini adalah penyerahan lifetime achievement buat Ibu Sri Owen dari Garuda Indonesia sebagai pahlawan kuliner Indonesia. Di sini, Ibu Sri Owen diberikan penghargaan juga kenang-kenangan berupa Jenggala keramik cantik khas Bali.

Maafkan saya yang ga pinter ngarahin komuk yak! Ihihihi

Saya juga ketemu Chef Wan, salah satu chef idola saya. Kalau kalian gak pernah nonton shownya, ih kasian banget. Nontonlah East Bites West di NatGeo People atau streaming. Chef yang udah dianugerahi gelar Datok di Malaysia ini mungkin udah setingkat Ibu Sri Owen di Indonesia. Bedanya, cara Chef Wan menyampaikan sesuatu sangatlah menghibur dan ceria. Kalau kamu penasaran liat kayak gimana sih orang yang mampu membawa energi yang gembira dan meledak-ledak seketika, lihatlah Chef Wan.

Pakcik baik hati dan riang gembira

Bad sidenya, konon Dato ini nih yang bikin rendang diklaim Malaysia. Kalau gak salah, beliau pernah jadi konsultan Malaysia Airlines. Kemudian, dese punya ide memasukkan rendang ke menu pesawatnya. Secara Malaysia Airlines ini maskapai internasional yang bereputasi tinggi, banyak lah warga mancanegara yang naik maskapai ini dan ngiranya rendang berasal dari Malaysia.

Adding the fire to the burned area, di hari Sabtu, Chef Wan bertanding bikin rendang lawan Chef Batak favorit aku, Rahung Nasution. Battle rendang Malaysia vs Indonesia, panas banget ga tuh?!? 

Makanya, steycun ya di blog ini! Akan kuberikan kepadamu hasil reportasenya.

Cubikontinyu,
Dina
Cup cup waw waw

1 comment:

  1. Halo, Kak! Salam kenal :)
    Iiih enak ya, kok aku baru tau ada event seseru ini?
    By the way, aku baru tau juga tentang sosok Ibu Sri Owen. Warbiyasak!
    Malah aku kenal Chef Wan aja haha. Yes, darimana lagi kalo bukan gara-gara East Bites West. Gila, makanannya selalu bikin ngiler. Apalagi nontonnya pas treadmill-an di tempat gym. lol
    Ditunggu laporan tentang rendang battle-nya!

    ReplyDelete