Wednesday, June 24, 2015

Ubud Trip Day 2: Jelajah Museum Puri Lukisan Supaya Berbudaya (Dikit)

Baca Part 2 di sini

Puas makan, saya melanjutkan kembali jalan-jalan ke Museum Puri Lukisan. Kalau bolak-balik Jalan Raya Ubud, rasanya gak mungkin perhatian gak tertuju pada museum ini, secara ngejeblak banget di pinggir jalan. Penasaran dong saya.


Photo Courtesy of bali.panduanwisata.id

Museum Puri Lukisan ini merupakan museum tertua di Ubud. Museum ini dibangun untuk menyimpan karya-karya asli putera Bali supaya gak tercecer ke mana-mana. Maksud tercecer ke mana-mana sendiri adalah diekspor sampai gak ada sisa di negeri sendiri. Soalnya, di masa itu (sampai masa kini sih) karya seni rupa Bali banyak banget peminatnya di luar negeri.

Museum ini dibuka untuk umum pertama kali pada tahun 1956. Sejak saat itu, museum ini terus berinovasi hingga menjadi museum lukisan paling lengkap di Ubud.


 Ki-ka: Walter Spies, Tjokorda Gde Agung Sukawati, Rudolph Bonnet. Tri Mas Getir pelopor Museum Puri Lukisan

Kesan pertama kali menginjak museum ini adalah damai. Damai banget, dan zen abis. Gimana enggak? Bukan hanya koleksinya aja yang keren-keren. Arsitektur museumnya pun megah, namun membumi dan gak menghilangkan kesan tradisionalnya. Arsitek lansekapnya sendiri tampak merancang tamannya sedemikian rupa sehinga kehidupan dan waktu seolah-olah berhenti di Ubud. You will know it when you experience it.



Gedung yang pertama dimasuki. Isinya adalah sejarah museum ini berdiri. Museumnya museum.

Di gedung ini, kita bisa melihat karya-karya yang dibuat oleh para pendiri museum ini. Selain itu, ada pula koleksi-koleksi ukiran kayu.


Ini karya salah satu founding father Museum Puri Lukisan, tapi lupa siapa. Lupa pula judulnya. Yang jelas saya pantengin cukup lama karena...KOK AURANYA MEMBIUS YA? *tersepona* *mau sok artsy tapi failed*


Patung singa yang sudah tak bertuan dan tidak tahu dibuat kapan...pokoknya pasti sudah lama. 


King of Frog (1955), by I Wayan Ayun


Senggama (2002), by I Made Sukanta Wahyu


Di sini, kita juga bisa melihat beberapa karya yang ada banderol harganya. Keren sih.



Tari Persembahan By Wayan Sartika, USD 640


Harmony by Uuk Paramahita. 2400 USD! Saya juga suka karya Mr. Paramahita yang lain karena di balik kesederhanaannya, tampak makna yang cukup dalam. Apalagi buat anak muda labil seperti saya. Merasa tersentil deh.


Puas melihat-lihat, saya langsung jalan lagi menuju bangunan kedua, yaitu Galeri Ida Bagus Made. Nama galeri ini diambil dari nama seorang pelukis terkenal Bali yang bernama Ida Bagus Made Poleng (1915-1999). Di galeri ini, kita bisa melihat karya-karya pasca perang (1945-sekarang). Karya-karya di galeri ini lebih berwarna-warni, muda, dan lebih ekspresif.


Galeri Ida Bagus Made

Di sini, ada genre lukisan yang menarik buat saya karena gayanya yang sekilas gak mirip dengan lukisan tradisional. Gayanya juga cenderung kekanak-kanakan. Ga heran, nama genrenya juga adalah aliran Young Artist. Alkisah, jaman dulu (tepatnya pada tahun 1956) ada seseorang berkebangsaan Belanda bernama Arie Smit yang pindah ke Bali. Di Bali ini, Smit membuat semacam eksperimen pada pelukis muda Penestanan dengan menyediakan segala material yang diperlukan untuk melukis, juga memotivasi para pelukis tersebut agar lebih spontan, naif, dan gak malu-malu untuk berimajinasi dan menggunakan warna-warna yang berani. Hasilnya tentu saja keren punya.


Tiga Tempat Suci, lupa foto nama pelukis dan tahunnya :(

Le ignorant me forgot to capture the credit although really fascinated by the work :(


Kemudian, masih di gedung yang sama, kita juga bisa melihat lukisan modern tradisional ala Bali. Lukisan ini dibilang modern karena sudah banyak terpengaruh gaya melukis Barat. Akan tetapi, ia tetap bisa mempertahankan unsur tradisional Balinya. Buat saya (yang walau secara pribadi ga ngerti seni), karya-karya tersebut sangat menakjubkan, terutama karena beberapa di antaranya sangat rumit dan detil. Hebaaat!


The Wheel of Life (1952) by I Ketut Murtika. Sayangnya saya memotret ini menggunakan kamera handphone sehingga detilnya yang ciamique banget ga terlalu kelihatan. Lukisan ini menggambarkan siklus kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dalam kebudayaan Hindu plus dewa-dewi yang mengawal hidup mereka. Sangat kompleks tapi detilnya itu lho, bikin nganga di depan lukisan bermenit-menit.


Surga Neraka dengan Hukum Karma Phala (1971) by Anak Agung Gde Rai Konta. Mungkin ini adalah Inferno versi Indonesia. Lihatlah surga yang digambarkan begitu sedikit sedangkan yang di depan...neraka semua! Paling ngeri adalah alat kelamin ditusuk dan cewek direbus hidup-hidup. Sukses tampaknya bikin orang rajin beribadah.

Puas menjelajah ke gedung kedua, saya pun melanjutkan petualangan ke Galeri Wayang. Di galeri ini, kita akan menemukan lukisan bergaya wayang yang tentunya banyak bercerita tentang Ramayana. Sayangnya, entah karena ngantuk atau lelah, saya ga terlalu banyak melihat-lihat, Tapi tetap saja ada yang menarik. Salah-satunya adalah gambar naga di bawah ini because you know, I am always fascinated by dragons.


Umbul-Umbul Naga Anantaboga (1979) karya I Made Peger. Katanya naga ini melambangkan simbol pengikat umat agar senantiasa damai dan bersatu. Anyway, umbul-umbul ini panjang banget, hampir makan satu dinding untuk memajangnya. Ya iyalah, namanya juga ular naga panjangnya.#oke #garing.


Setelah menjelajah galeri wayang, saya menyambangi gedung Galeri Pitamaha yang memajang karya-karya pelukis Bali sebelum zaman  perang. Nama galeri ini diambil dari Yayasan Pitamaha yang merupakan yayasan yang dibentuk oleh para founding father museum ini. Lukisannya sendiri tampak lebih dark dan sederhana dibandingkan lukisan di galeri-galeri lainnya. Tapi entah mengapa ya, menurut saya yang sekali lagi awam benar-benar awam, lukisan di galeri ini tampak lebih bercerita, lho!


Putusnya Jembatan Bambu Kuning (1948) by I Gusti Nyoman Lempad. Mengisahkan perempuan yang semasa hidupnya tidak memelihara, bahkan menggugurkan kandungannya. Saat sedang ingin berjalan ke surga, dia meniti jembatan bambu kuning dan gagal. Setelah itu, dia menerima hukuman sesuai perbuatannya. Langsung terbayang jembatan shiratal mustaqim.

Lahirnya Hanoman (1936) by I Gusti Made Deblog


Yang membuka pikiran saya, ternyata Bali tidak melulu soal kebudayaan Hindu saja. Umat Islam pun sudah memasuki Bali dari dahulu kala dan sedikit banyak berasimilasi dengan kebudayaan Hindu. Salah satu produknya adalah Geguritan Amad Muhamad. Geguritan adalah karya sastra berupa puisi dalam bahasa Bali Kawi atau Bali Kepara. Geguritan Amad Muhamad ini sendiri panjangnya 102 halaman lontar, jadi cukup panjang dan kompleks ceritanya. Geguritan bernafaskan Islam ini juga menginspirasi pelukis-pelukis untuk membuat karya tentangnya.


Tiga Barang Amad yang Bertuah (1937) by Ida Bagus Togog


Amad Muhamad (1938) by Ida Bagus Made Jatasura


Dengan berakhirnya jelajah saya di Galeri Pitamaha, berakhir pulalah tamasya saya di museum ini. Sebenarnya, masih ada lagi satu gedung yang belum saya sambangi, padahal cukup baru dan kontroversial. Namanya adalah Museum of Marketing. Kontras dengan bangunan lain yang tradisional, katanya sih bagian dalam museum ini sangat modern. Museum of Marketing ini baru beberapa tahun berdiri, dan katanya saat pembangunan, ada beberapa pihak yang menentang karena dianggap kurang sesuai dengan visi-misi Museum Puri Lukisan. Mungkin suatu saat saya menyambangi Ubud lagi, saya bakal mengunjungi Museum of Marketing.

Walaupun kelewat satu gedung, saya ga kcewa karena seperti yang saya bilang di atas, tidak hanya koleksi museum ini saja yang keren. Keseluruhan bangunannya pun bagus sekali dan sangat memanjakan mata, apalagi tamannya. Telinga juga ikut dimanjakan oleh suara gemericik air dari air-air mancur di kolam taman.


Kolam teratai yang cantik.


Untuk menjelajah museum ini, saya membutuhkan waktu hampir dua jam lamanya. Memang museumnya cukup besar dan mengasyikkan juga bengongin karya-karyanya. Untuk orang dewasa, harga tiketnya Rp75.000 per orang, sedangkan untuk anak di bawah umur 15 tahun dan didampingi orang dewasa, bebas charge. Jangan lupa untuk menyimpan tiketnya karena bisa ditukar dengan paket afternoon tea di kafenya.


Kue tradisional berbahan beras yang enak-enak semua. 


Pengalaman afternoon tea di Kafe Museum Puri Lukisan ini juga cukup memuaskan. Kue yang disajikan berbahan dasar beras sebagaimana sebagian besar kue-kue tradisional Bali. Akan tetapi, kuenya sendiri bervariasi walaupun berbahan dasar sejenis, Ada semacam tiwul bertabur kelapa dan gula merah cair, bubur sumsum, sejenis biji salak dari tepung beras, dan bubur ketan hitam bertabur potongan nanas. Di piringnya terdapat tetesan strawberry coulis dan di atasnya ada garnish buah strawberry segar. Afternoon tea tradisional Bali ini harusnya menarik banget sih buat tamu mancanegara. Untuk minumannya sendiri, berhubung siang itu panasnya bukan main, saya memilih lime juice. Pas banget dipadukan dengan kuenya.

Anyway, di sini juga terdapat kursus singkat mulai dari membatik, mencukil, membuat persembahan, sampai menganyam keranjang tradisional. Akan tetapi, dari harga yang berbicara, tampaknya kursus ini lebih ditujukan buat turis sih. 

Secara keseluruhan, Museum Puri Lukisan ini saya rekomendasikan banget buat kamu yang antusias terhadap seni rupa tradisional khas Bali. Yaa, setidaknya sih, buat kamu yang pengen sekali-kali sok artsy dan berbudaya seperti saya *wink*, Kalau masih kurang menjual, sebenarnya ini juga salah satu pengalaman tamasya museum saya yang terbaik (walaupun memang jarang pergi ke museum sih). Recommended! 


***


Museum Puri Lukisan
Jalan Raya Ubud, Gianyar
80571
Telp: 0361 971159
E-mail: info@museumpurilukisan.com
Website: museumpurilukisan.com

No comments:

Post a Comment