Thursday, August 6, 2015

Belajar Tenun di Desa Sukarara, Jonggat, Lombok

Walaupun telat banget, minal aidin wal faidzin, guys! Pastinya, sebagian besar dari kalian sudah masuk kerja/sekolah/kuliah. Apa kabar liburannya? Saya dan keluarga sendiri alhamdulillah diberikan berkah yang cukup untuk menjalani Lebaran Trip ke sekian.

Anyway, di liburan kali ini saya benar-benar menunggu dan bertekad buat menikmati setiap detik dan jengkalnya. Apalagi karena kemarin sempat dikelilingi banyak drama mulai dari drama pacar, teman(nya orang), teman sendiri, hingga teman palsu. Aduh, pusing dan ga penting.

Setelah capcipcup, berusaha menjejali Bapak dengan brosur travel agent (pake nunjuk-nunjuk New Zealand segala lagi! Bener-bener anak muda ga tau susahnya nyari duit -,-), akhirnya kami sepakat untuk liburan ke Lombok. Karena keputusan cukup dadakan, kami mencari penerbangan termurah ke Mataram dan mendapatkan tiket maskapai Singa Udara. 

Tak terasa, tibalah hari yang ditunggu. Sesuai dengan reputasinya yang kurang bener, di hari H penerbangan, pesawat delay sampai 2 jam. Di saat saya mau mengeluh, eh ada keluarga yang lebih kasihan. Lumayan... mereka sampai menginap satu hari. Mantap sekali bukan? 


Foto pemandangan dari balik jendela si singa...


Singkat cerita, walaupun delayed, kami berhasil mencapai Lombok. Sebelum mencapai hotel, kami menyempatkan buat berjalan-jalan dulu di salah satu tujuan wisata yang paling dekat dari airport, yaitu Desa Sukarara. Desa Sukarara merupakan salah satu desa penghasil kain tenun di Lombok. Terletak di Jonggat, Lombok Barat, desa ini hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari Praya, kota di mana Bandar Udara Internasional Lombok berada.


Berbuat kerusuhan di rumah adat, photobombed by Bapak.


Di desa ini, pengunjung bisa melihat-lihat kain tenun tangan para pengrajin. Harganya lumayan mahal, di atas tiga ratus ribu rupiah per lembarnya. Tapi mengingat prosesnya yang cukup panjang, bahkan bisa sampai hitungan bulan, harga segitu jadi sangat murah. Apakah saya membelinya? Ya...tentu tidak! *calon istri orang Padang*. Bukannya pelit lho ini, tapi bingung dipakai buat apa.


So colorful! Yet...I don't know dipakai buat apa selain dipajang. Pajangan di rumah (a.k.a perintilan) aja udah kebanyakan.


Walaupun begitu, untungnya saya gak melewatkan belajar menenun. Katanya sih, perempuan suku Sasak harus bisa menenun, baru diperbolehkan menikah. Karena perempuan Sasak yang masih tradisional bisa menikah sangat muda (sekitar umur 15-16 tahunan), maka mereka diajari menenun dari kecil, sekitar umur 9 tahunan.


Terlihat bahagia, bukan? Percayalah, kebahagiaan tersebut sirna seketika karena hal yang bakal saya ceritakan.


Setelah belajar menenun sambil ketawa-ketiwi dan bersenda-gurau bersama si ibu dan si guide ("wih udah bisa nikah nih, mbaknya"), saya cukup senang. Walaupun begitu, sepertinya itu template candaan mereka. Semua berjalan normal sampai di tengah candaan, si ibu tiba-tiba berbisik.

"Mbak, bagi uang ya...sedikit aja buat buka puasa"

Langsung deh saya keki. Niat buat ngasih, ga enak juga karena dia keburu dikelilingi turis lain. Takutnya kalau ngasih di tengah kerumunan itu, doi malah ikut keki.
Duh maaf ya bu, saya nambah-nambahin beratnya kehidupan.

Selepas menikmati desa yang eksotis dan "unik" ini, perut kami pun keroncongan. Pilihan makanan jatuh kepada ayam taliwang. Sayangnya di hari kedua lebaran banyak sekali restoran yang tutup. Setelah rela buat mencari restoran ayam taliwang mana aja yang bisa ditemui, kami menemukan salah satu yang masih buka di Jalan Sayang-Sayang (Kolonel Ahmad Yani), nama restorannya saya lupa. Kalau gak salah sih Taman Sari.


Wefie sambil kelaparan di pinggir kolam restoran.


Restoran ini menyediakan paket makan nasi dengan lauk lengkap. Kami pun memesan paket 8 orang seharga 250.000 rupiah. Sesungguhnya kami mendapatkan makanan dengan porsi imut, tapi varian lauknya itu lho... banyak banget! Itulah yang membuat begah.


Menu lengkap yang membuat buncit seketika.

Paket kami ini terdiri dari nasi putih, pelecing kangkung, ikan bakar pedas, tahu tempe, ayam taliwang bakar, ayam taliwang goreng, dan sup ikan suwir. Luar biasa, bukan? Cukup gragas, kami pun memesan pelecing kangkung, ayam taliwang bakar, dan udang goreng tambahan. Tak lupa pesan minuman.

Restoran ini cukup memuaskan terlepas dari pelayanannya yang kurang cepat. Bagian paling memuaskan adalah pada saat bonnya datang. Totalnya hanya 300 ribuan, pemirsa. Padahal kami makan berdelapan termasuk bareng pak supir. Jadi tempat ini cukup recommended untuk urusan rasa dan harga.

Kami pun berangkat menuju hotel dengan perut dan hati yang senang. Petualangan esok hari siap dimulai!

No comments:

Post a Comment