Thursday, August 6, 2015

Senggigi All Day and Night

Baca petualangan saya sebelumnya di Desa Sukarara pada tautan ini.

***


Senggigi

Di hari kedua ini, kami sekeluarga memutuskan untuk mengeksplor Pantai Senggigi saja. Kebetulan, penginapan kami terletak di Senggigi. Penginapan Alam Mimpi Resort yang kami tempati ini masih sangat baru. Saat kami stay, umurnya baru 1,5 bulan. Tempat ini sangat saya rekomendasikan baik buat liburan bersama teman maupun keluarga. Staf-stafnya ramah dan helpful seperti teman sendiri. Pemiliknya pun masih muda dan sepertinya sih anak gaul Lombok. Harganya juga sangat valuable mengingat berentet fasilitas yang kamu dapatkan. Oke banget! Lima bintang deh. Go visit their entry in Agoda.

Setelah memulai pagi dengan sarapan, kami berjalan kaki menuju Pantai Senggigi. Tidak langsung menyeberang ke pantai, kami sengaja berjalan kaki dulu sampai ke makam ulama di Batu Layar. Setelah melihat-lihat sebentar, barulah sekeluarga turun ke pantai. Butuh waktu sekitar 5 menit saja.

Senggigi berada di bagian barat Lombok. Secara visual, mungkin pantai ini termasuk pantai yang paling kurang menarik di daerah Lombok. Pasirnya berwarna hitam. Konturnya pun tidak terlalu landai sehingga sulit untuk berenang di sana kalau membawa anak kecil. Akan tetapi, suasana pantai yang tidak begitu ramai ditambah angin sepoi-sepoi membuat saya betah menyusurinya.


A happy beach kid

Setelah lumayan jauh menyusuri bagian Senggigi yang beralaskan pasir semua, kami juga menemui bagian Senggigi yang isinya karang semua. Aduh sebenarnya pemandangan ini fotogenik banget, tapi biasa lah, anak pandai 2015 ini ninggalin kameranya di penginapan.


Karang-karang gagah

Setelah dua jam menyusuri pantai, langkah kami dihentikan oleh penjaga Hotel Sheraton. Kata pak satpam tersebut, selain tamu hotel tidak ada lagi yang boleh masuk pantainya. Di sini sih saya lumayan kesel. Selain berasa rakyat jelata banget, si Sheraton juga mungkin merasa bahwa pantai adalah punya nenek moyangnya. Inilah contoh hotel chain gede dengan segala kesombongannya. Semoga si GM dihantui nenek moyang yang punya Lombok.

Akhirnya kami memilih buat makan siang di salah satu restoran pinggir pantai. Karena capek dan sekalian ngaso, mungkin kami menghabiskan sekitar dua jam makan dan ngendon di restoran itu sambil main-main di pantainya. Kami juga sempat belanja di Pasar Seni Senggigi setelahnya. Sayangnya terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk belanja, thanks to the shopaholic women of my family, lol. Keinginan saya untuk menonton Peresean (seni bela khas Lombok) gratis di Pasar Seni pun terpaksa diurungkan.

Sesampainya di penginapan, orangtua dan adik-adik saya langsung tepar. Saya sendiri ga tepar sih, malah sempat edit-edit foto ala banci instagram dan berganti baju. Pasalnya ada tempat lain yang masih ingin saya datangi. Saya pun meninggalkan keluarga yang sedang mati suri ini untuk pergi ke tujuan tersebut.


PURA BATU BOLONG



Pura cantik di tepi pantai

Pura ini dibangun di atas tebing bebatuan hitam yang berada di tepi pantai Senggigi. Namanya datang dari salah satu bagian paling terkenal di pura, yaitu batuan besar yang berlubang di tengahnya. Lubang batu ini mengarah pada bagian pantai yang herannya landai dan sepi dari bebatuan. berbeda 180 derajat dengan pantai di bagian dalam pura, Padahal kan bersebelahan.


The infamous Batu Bolong

Pemandangan di luar bolongan batu. Apa iya pengunjung pantai sebelah sana bisa ngeloyor ke pura ini cuma-cuma?

Untuk masuk ke pura, kita diharuskan memakai ban pinggang berwarna merah muda. Kita juga dihimbau untuk memberikan uang sukarela untuk keperluan pura. Selain itu, karena ini adalah tempat suci agama Hindu, perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan masuk.


Gerbang pura yang megah

Ini adalah pertama kalinya saya memasuki bagian dalam pura. Di sini ada banyak orang beribadah. Banyak pula warga Bali yang sampai menginap. Saya tidak mengambil fotonya karena takut mengganggu kekhusyukan. Selain banyak yang beribadah, ada pula yang melakukan pemotretan prewedding dengan baju pengantin Bali. Aduh, baju pengantin wanitanya benar-benar sangat cantik! Hiasan kepala dan tirai kain Bali berukuran besar di belakangnya bikin pengantin jadi manglingi.

Selain memandangi pura dan pantai serta menikmati auranya yang cukup mistis, saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan satu keluarga yang amazed melihat saya sendirian di pura itu. Alasan mereka kagum sama saya adalah karena mereka mengira saya solo traveler, hahaha. 

Kalau kamu berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini, pastikan menunggu sampai matahari tenggelam. Sekali lagi, Senggigi berada di bagian barat Lombok sehingga terkenal dengan matahari tenggelamnya yang magical.


The bright golden hue of sun kissing the sea. Lovely.

Setelah matahari tenggelam dengan sempurna, saya kembali ke penginapan untuk shalat maghrib dan tidur selama satu jam. Ya ampun, saya tidur seperti bayi. Karena badan sudah lelah, tidur yang cuma sejam itu rasanya benar-benar nikmat.

Setelah membaca buku Lonely Planet yang Bapak pinjam dari resepsionis, saya memutuskan untuk mengajak keluarga makan malam di Asmara Restaurant Senggigi. Restoran ini dimiliki oleh warga Jerman, tak heran menu-menunya sangat dipengaruhi oleh cita rasa kuliner negara tersebut. Walaupun begitu, restoran juga ini menyediakan hidangan tradisional Indonesia yang sama enaknya, soalnya cooknya kan orang Lombok asli. Bonus plusnya, Asmara juga dipuja karena konsistensi tiap masakan yang tak pernah terganggu. Baiklah, here we goes!


ASMARA RESTAURANT SENGGIGI


One of the best family dinner

Sebenarnya, tujuan saya ke Lombok bukan untuk mencicipi makanan-makanannya, melainkan menikmati panorama alamnya. Jadi, ga kepikiran untuk mendokumentasikan atau bahkan berniat hunting restoran untuk wisata kuliner. Yang penting, kami sekeluarga bisa menikmati makanan yang setidaknya bisa ditelan dengan ikhlas.

Akan tetapi, siapa sangka makanan di Asmara ini benar-benar CRAZILY GOOD? No kidding. I have to tell you this because sharing is caring! I hope all the pics I obtained from tripadvisor gonna hook you next time you visit Senggigi.


Mixed Seafood Asmara

Ini adalah pesanan saya. Cumi, fillet ikan, dan udang disiram dengan saus creamy herb. Seafood tersebut disajikan bersama tumis bayam dan kroket kentang. Seafoodnya benar-benar lembut, sausnya pas, tumis bayamnya berasa garlicky, kroket kentangnya renyah di luar dan lembut di dalam. Yummmm.


Mahi-Mahi Meuniere with Wasabi and Dijon Sauce

Menu ini adalah pesanan Bapak. Tampaknya Bapak memang udah ngidam ikan mahi-mahi sejak saya pesan ikan ini siang tadi. Soalnya ikan mahi-mahi yang saya pesan agak lumayan rasanya. Tapi, ikan mahi-mahi yang Bapak makan di Asmara ini gak bisa dong dibandingin sama ikan mahi-mahi tadi siang. Yang ini sih dimasak dengan tekstur sempurna dan disiram dengan saus yang cetar banget spicynya. Endes! Ikan mahi-mahi saus pedas ini disajikan dengan kentang goreng dan salad.


Chicken Blue Cheese

Ini adalah pesanan Tasya. Ayam dengan isian keju mozarella dan keju biru dilapisi tepung roti dan digoreng sampai garing di luarnya. Hidangan ini disajikan dengan kentang goreng dan salad. Hmm, ayamnya lembut walau garing kulitnya. Highlightnya, apa lagi kalau bukan aroma keju biru yang benar-benar nendang? Mungkin, ga semua orang bisa menikmati hidangan ini. Untuk lidah saya sendiri, rasanya sangat unik.


Chicken Parmesan

Ini adalah pesanan Annisa. Dada ayam disiram dengan saus parmesan, daun basil, mustard, dan krim kemudian disajikan dengan tumis brokoli dan kroket kentang. Buat saya, makanan ini memang terkesan biasa saja, tapi rasanya enak dan seperti makanan yang lainnya, ga ada yang failed. Bahkan menurut waiternya, menu ini merupakan salah satu menu terfavorit di Asmara.


Sate Pusut

Ini adalah pesanan Nadia. Nadia merupakan Pecinta sate Lilit Bali. Sate Pusut ini mengingatkannya dengan Sate Lilit, makanya dia langsung memesannya. Ternyata, rasa Sate Pusut ini merupakan kombinasi dari manis dan pedas. Teksturnya sendiri lembut karena mengandung banyak campuran kelapa di dalamnya. Menu Sate Pusut ini disajikan dengan gulai daun singkong dan nasi hangat. Enak, tapi agak manis buat selera saya.


Margherita Pizza


Dan terakhir, ini adalah Margherita Pizza yang merupakan menu sharing Mama dan Nadine. Seperti biasa, kalau ada menu pizza, kami memang selalu pesan pizza Margherita. Pesanan kami kali ini gak salah karena kejunya enak dan meleleh-leleh banget. Karena menggunakan daun basil segar, aroma herbnya benar-benar nikmat. Sayangnya, tomat yang digunakan adalah tomat segar, bukannya saus tomat. Bukannya salah sih, tapi kami aja yang kurang suka. Lagian gampang lah, tinggal disingkirin aja potongan besarnya.

Sekali lagi, kalau kamu berkesempatan untuk mengunjungi Senggigi, pastikan untuk makan di restoran ini. Soalnya sayang banget kalau ga nyoba. Hmmm, leckerrrrr...


Bonus:

Herb Garden Asmara Restaurant

Yep, Asmara menanam sendiri herba segarnya. Ada basil, rosemary, thyme, mint, peterseli, dan rempah lain yang saya kurang tahu apaan. Garden goal! Kalau datang ke sini pas masih ada matahari, pasti saya udah norak selfie-selfie sendiri dengan latar mini garden ini.

No comments:

Post a Comment