Thursday, August 6, 2015

Senaru Vacation

Baca petualangan saya di Senggigi pada tautan ini.

***


Hari ini kami masih menginap di Alam Mimpi Resort. Satu hal yang saya sukai dari penginapan ini adalah pilihan sarapannya. Walaupun tidak disajikan secara prasmanan, pilihan menunya banyak dan enak-enak. Mulai dari set Continental Breakfast, Indonesian breakfast, set Pancake, hingga set Healthy Breakfast, semuanya terlihat enak. Untuk hari ini, pilihan terakhir jadi pilihan paling menarik buat saya.


Healthy breakfast berisi muesli, yogurt, dan buah. Roti wijen dan minuman hangat disajikan self-service di meja order.

Alasan saya memilih Set Healthy Breakfast adalah karena saya tahu hari ini bakalan jadi hari yang tough. Hari ini, kami sekeluarga menjelajahi Senaru, dataran tinggi yang berada di kaki Gunung Rinjani. Selain terkenal sebagai pintu masuk Gunung Rinjani, daerah ini juga merupakan lokasi air terjun yang paling terkenal di Lombok. Apa lagi kalau bukan Sindang Gila, Tiu Kelep, dan Betara Lejang? So excited!

Setelah menghabiskan set breakfast ini, kami pun memulai perjalanan. Jarak Senaru sendiri cukup jauh dari Senggigi. Mungkin ada sekitar 3 jam dihabiskan selama perjalanan. Karena membawa anak kecil, kami berhenti sebentar agar tidak bosan. Lokasi pemberhentian ini adalah kawasan monkey forest Lombok yang cukup termashyur, Pusuk Pass. 


PUSUK PASS


Monyet-monyet Pusuk yang menggemaskan

Di sini, kami hanya berhenti sebentar dan tidak masuk menjelajah monkey forestnya. Ya, cuma berhenti di pinggir jalan. Walaupun begitu, monyetnya sudah banyak bergerombol menunggu makanan dari turis. Tingkahnya juga lucu-lucu. Terdapat pula pedagang pisang dan kacang agar kita bisa memberi makan mereka.


Cutely taking peanuts from my hand. Monyet di sini gak terlalu agresif seperti monyet di Monkey Forest Ubud.
  
Gak boleh ketinggalan foto-foto! Pemandangannya oke juga. Abaikan yang paling sebelah kiri.

Setelah puas bermain dengan monyet dan berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Senaru. Dari Pusuk, jarak ke Senaru sudah tidak jauh lagi. Tujuan keluarga kami ke Senaru adalah menyambangi Rinjani Lodge, sebuah restoran dengan pemandangan alam yang indah. Akan tetapi, saya dan tiga adik saya punya tujuan sendiri, yaitu air terjun Sindang Gile dan Tiu Kelep. 

Untuk masuk ke air terjun ini, biayanya adalah 15 ribu rupiah per orang. Jika ingin mengunjungi air terjun Tiu Kelep (air terjun tingkat kedua), kita harus menyewa guide dengan biaya tersendiri. Alasannya adalah jalan yang cukup berbahaya. Guide bisa menunjukkan jalan paling aman sesuai kebutuhan yang bisa dilewati pengunjung karena ada beberapa rute menuju air terjun.

Sayangnya, air terjun ketiga yaitu Batara Lejang tidak bisa dikunjungi. Jalanan yang tidak aman serta kebutuhan akan keterampilan memanjat yang advanced adalah penyebabnya. Jadi ingat kontestan-kontestan Ultimate Survival Alaska kalau ke air terjun aja mesti memanjat.

Untuk ke Tiu Kelep, kami menyewa seorang guide bernama Pak Sri Made. Biayanya 150 ribu rupiah. Beruntung, kami bertemu dengan salah satu keluarga lain yang bersedia sharing pemandu dengan kami. Setelah ngobrol-ngobrol, kami bernegosiasi dengan Pak Made. Mampukah dia membawa 11 orang? 

AIR TERJUN SINDANG GILE


The infamous

Syukurlah, Pak Sri Made mau membawa gerombolan sirkus berisi 11 orang ini. Murah banget sih jadinya kalau dihitung per kepala. Satu saran dari saya, carilah guide yang resmi, rekomendasi dari penjaga gerbang air terjun. Soalnya, guide abal-abal yang langsung "menyambut" kamu sejak turun dari mobil bakal ngecharge di atas 200 ribu rupiah buat dua orang!

Air Terjun Sindang Gile merupakan air terjun yang paling terkenal dibanding air terjun lainnya di kawasan Senaru. Selain paling dekat dari pintu masuk, airnya juga bening dan segar. Bagian kolamnya juga lumayan asyik dipakai bermain walau tidak sebesar air terjun kedua yaitu Tiu Kelep.

Ada sebuah kisah di balik air terjun ini. Konon Air Terjun Sindang Gile tidak sengaja ditemukan ketika salah satu warga memburu singa di hutan Senaru. Nama Sindang Gile memang berasal dari kata bahasa Sasak, Sengang Gile, yang berarti Singa Gila dalam bahasa Indonesia. Walaupun begitu, kadang cerita ini dipelintir demi melindungi kelestarian si air terjun. Versi lain kata Sindang Gile ini berasal dari legenda penunggu air terjun yang wujudnya adalah singa.

Kami hanya membutuhkan 20 menit untuk mencapai air terjun ini. Tapi katanya pengunjung rata-rata membutuhkan waktu 15 menit aja sih. Saya langsung kepikiran orangtua dan adik saya yang paling kecil. Sayang juga gak "memaksakan diri" buat melihat air terjun ini.

Untuk ke sini, medan yang ditempuh adalah 200an anak tangga setinggi 40 meter dan juga melewati jembatan besi yang banyak lubangnya. Karena medannya lebih mudah ditempuh dibanding air terjun lainnya, pengunjungnya juga bervariasi. Anak-anak hingga lansia dapat bermain di air terjun ini.

Air terjun ini lumayan ramai. Ada pula banyak tukang dagangan dan toilet sederhana. Toiletnya sendiri lumayan memadai untuk sekedar buang air kilat. Puas melihat-lihat dan tentunya berfoto, kami memulai perjalanan lagi menuju air terjun Tiu Kelep.


AIR TERJUN TIU KELEP



Pardon the quality, I don't have underwater camera case or underwater camera (ini kode).

Seperti yang telah dibilang sebelumnya, air terjun Tiu Kelep membutuhkan perjuangan lebih dari kita untuk mencapainya. Fisik oke dan kelincahan jadi modal untuk ke sini, makanya mayoritas pengunjungnya masih muda. Konon, air dari Tiu Kelep juga bisa membuat awet muda dan cantik, bahkan ia dijuluki Young Girl Waterfall. Yah, kalau memang benar adanya, harusnya yang ke sini ga hanya anak muda dong, yaa?

Oleh karena itu, marilah kita rajin berolahraga dari muda, biar nanti saat umur 40 tahun ke atas bisa mendaki air terjun ini. Biar awet muda seperti Titik Puspa.

Mengenai air terjunnya sendiri, dengan takjub saya bisa bilang kalau sejauh ini Tiu Kelep merupakan air terjun terindah yang pernah saya lihat! Subhanallaaah. Air terjun yang alirannya deras, bahkan suaranya begitu keras, terlihat begitu lembut dengan partikel percikan air yang melayang-layang di udara sekitar kita. Soooo magical. Benar-benar cocok dengan arti namanya (Tiu Kelep: Kolam Terbang). Sempat pula saya melihat ujung air terjun memendarkan warna pelangi ketika sinar matahari tak sengaja menyorotnya. Seandainya di ujung pelangi ada emas berlian, pastilah dasar kolam Tiu Kelep ini bukan terbuat dari batu kali.


Cantik banget kan?


Tampak bawah, benar-benar seperti rambut nenek lampir. Panjang dan berkilau.

Saya yang sebenarnya gak terlalu suka air terjun bahkan tidak bisa menahan diri untuk main ke tengah dan merasakan percikan airnya. Ya ampun...benar-benar segar dan menyenangkan tempat ini. Kalau tidak ingat sedang pakai baju lengkap (yes, waktu itu saya saltum) dan ditungguin guide serta keluarga yang sharing guide dengan kami, rasanya mau sekali berenang ke tengah dan sembunyi di goa belakang air terjunnya. Supaya puas!

Akan tetapi mau gimana lagi?

Dengan berat hati, kami mengumpulkan segenap niat untuk pulang. Cukup ga enak rupanya. Keluarga satu lagi sudah menunggu di batu besar dekat air terjun. Si pak kepala keluarganya pun sudah super manyun, handphonenya tergelincir ke air terjun. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuuun. Perjalanan pulang yang berat pun kami mulai.

Mengapa saya katakan kalau perjalanan pulang itu berat? Di mana-mana yang namanya perjalanan hampir selalu mudah di akhir. Tak terkecuali perjalanan pulang dari air terjun ini. Rasanya memang lebih cepat...hingga mencapai bagian tangga dari Sindang Gile ke Pintu Masuk Air Terjun.

Air terjun ini memang sangat unik. Unik hingga ke jalurnya. Kalau hampir dimana-mana jalan menuju air terjun itu berupa tanjakan, di Sendang Gile jalanannya adalah turunan. Baru deh ke arah Tiu Kelep isinya tanjakan. Maka dari itu, dari Sendang Gile ke pintu masuk kami terseok-seok mengarungi tanjakan berupa ratusan tangga. *pijit pakai Geliga*

Setelah menit-menit yang terasa seperti abad, sampailah kami di gerbang. Walau nyawa rasanya sudah setengah hilang, saya lega dan bersyukur mengunjungi air terjun-air terjun yang spektakuler itu. Tujuan kami selanjutnya, tentu saja menyambangi orangtua dan adik bungsu saya yang menunggu di Rinjani Lodge.


RINJANI LODGE


Make an instagrammable picture here!

Sesampai di restoran ini, rasa capek rasanya langsung berkurang sedikit. Sepuluh persen lah. Soalnya, seperti yang dijanjikan, pemandangan Rinjani Lodge ini bagus sekali.

Rinjani Lodge merupakan salah satu resort terbesar di daerah Senaru. Begitu pula dengan restorannya yang termasuk salah satu restoran keluarga paling oke. Dari sini, kita bisa langsung memandang ke arah Gunung Rinjani dengan catatan lagi tidak tertutup awan. Lumayan buat menambah-nambah motivasi naik gunung.

Di sini, terdapat kolam renang infinity yang katanya paling hits di Senaru. Pemandangannya langsung ke arah gunung. Airnya juga langsung diolah setelah diambil dari pegunungan. Yang asyik, dengan makan di restoran, kita bebas berenang gratis. Nikmat pokoknya. 

Sayangnya kaki saya sudah pegal setengah mati. Cukup, rasanya tidak sanggup lagi. Yang ada di pikiran hanyalah satu hal yaitu: makan. Ketika makanannya datang, itupun tidak sempat difoto karena lapar bukan main. Bebek betutu saja ludes dalam waktu lima menit!

Tidak difoto dan tidak direview lengkap itu bukan jaminan kalau makanannya ga enak. Makanan di sini lezat sekali, lho, Saya merekomendasikan menu Bebek Betutu, Fillet Ikan Dabu-dabu, dan Pasta Carbonara. Rasanya gak kalah dengan makanan di restoran-restoran kota besar. Mie Gorengnya saja disajikan dengan menarik, yaitu beralaskan mangkok yang terbuat dari tortilla.

Kalau kamu sempat mengunjungi Senaru, restoran ini sayang untuk dilewatkan. Selain untuk makan-makan dan berenang, kamu juga bisa foto di pinggir infinity pool biar hits seperti saya. Azik bukan?

No comments:

Post a Comment