Friday, August 7, 2015

Nebeng Foto di Sembalun

Baca pengalaman saya menonton seni tradisional Lombok di tautan ini.

***


Selain melalui Senaru, pendaki Gunung Rinjani juga memiliki alternatif jalur awal pendakian. Alternatif tersebut adalah melalui Sembalun. Jika Senaru ada di barat Rinjani, maka Sembalun ada di daerah timurnya.


Keindahan Sembalun

Semata karena penasaran, hari ini kami rela menyambangi kembali kaki Gunung Rinjani. Ada perasaan bahwa saya akan menyesal kalau tidak mengunjungi tempat ini. Walaupun sama jauhnya dengan mengunjungi Senaru, kami punya rencana sendiri. Dengan manajemen waktu yang tepat, kami berharap Pink Beach di timur Lombok juga dapat disambangi.

Sebelum mencapai Sembalun, kami menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir jalan. Di sini, saya mencicipi salah satu kuliner khas Lombok yang saya jamin tidak ada yang jual di luar pulau ini.


Pelecing kangkung dengan rumput laut

Ternyata, selain terkenal dengan mutiara, Lombok juga terkenal dengan rumput laut. Pelecing kangkung adalah salah satu makanan yang dipadukan dengan bahan tersebut. Memang benar adanya kalau makanan lokal murah di pinggir jalan selalu terasa enak. Buktinya adalah pelecing ini, salah satu pelecing kangkung terenak yang pernah saya coba.

Makanan ini menggunakan bahan kangkung Lombok yang besar-besar dan crunchy, Kangkung direbus sebentar saja sehingga kerenyahannya tetap terjaga. Kemudian, sayur yang segar ini disajikan dengan tauge rebus, rumput laut, kemudian ditaburi kelapa gurih dan sambel pelecing yang pedasnya nendang. Harganya hanya 5000 rupiah, faktor tambahan yang membuat makanan ini terasa lebih enak.

Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan ke desa Sembalun.


Raksasa kokoh nan megah

Sembalun adalah sebuah desa di kaki Rinjani yang terkenal dengan hasil pertaniannya. Salah satu hiburan turis di sini adalah agrowisata memetik buah stroberi. Jika malas memetik, di pinggir jalan pun banyak warga yang menjajakan buah stroberi.

Akan tetapi, tujuan kami ke sini bukanlah untuk memetik buah stroberi. Kami ingin melihat keindahan Gunung Rinjani secara lebih dekat lagi. Di Sembalun, Gunung Rinjani jauh terlihat lebih dekat, juga berkali-kali lipat lebih cantik.

Kata seorang warga, Sembalun akan terlihat lebih indah dengan padi yang menghijau hingga menguning ketika musimnya tiba. Saya sendiri tiba ketika lahan padi di Sembalun sedang ditumpangsari. Alhasil, tidak ada sama sekali bulir padi yang kami lihat.

Akan tetapi, apa itu mengurangi keindahannya? Menurut saya sih, tidak. Lihatlah, warna lahan justru lebih beraneka rupa di musim ini. Ada daun bawang, tunas jagung, serta sayuran dengan warna yang beraneka rupa.

Kami pun memuaskan diri untuk berfoto. Jika ingin berfoto, saran saya jangan tanggung-tanggung. Turunlah ke sawahnya, tapi jangan sampai merusak. Mau berfoto dengan segala angle di tempat ini, bagaimanapun juga hasilnya tetap saja ciamique. Lokasi memang gak bohong.


Si cantik jadi model dadakan

Selain pintar gaya, dia juga pintar memilih baju. Matching ya?

Dan pastinya saya sendiri tidak ketinggalan foto-foto juga.


Pose menyahuti panggilan alam

Pose main skateboard tanpa skateboard


Pose tanpa kaki

Sekedar info, Sembalun lebih pas dikunjungi saat pagi hari ketika matahari baru terbit. Selain udaranya sangat adem, latar belakang foto juga lebih bagus karena mendapat sinar yang masih lembut. Seperti yang sudah saya bilang, Sembalun juga merupakan desa agrowisata. Jika ingin membeli oleh-oleh, belilah buah dan sayur segar.

Sayangnya, hari ini kami belum jodoh dengan Pink Beach. Selepas Sembalun, kami menyeberang dengan speedboat menuju Gili Trawangan. Petualangan di Gili, tentu saja akan muncul di blogpost berikutnya.

No comments:

Post a Comment