Friday, August 7, 2015

Gili Day!

Baca penemuan kami mengenai spot foto asik di Sembalun pada tautan ini

***


Sebenarnya, kami sampai di Gili Trawangan pada hari keempat. Tapi kami baru mulai mengeksplor The Gilis pada hari kelima. Alasannya, tentu saja karena pada saat nyampe hotel hari sudah senja menyasar gelap.

Btw, baru di hari keempat dan kelima inilah kami beneran melihat pantai Lombok yang memang tujuannya buat direnangi. Pantai yang pasirnya putih. Yang airnya biru bergradasi. Subhanalloh bingits. Pepotoan di tempat kapal pada parkir aja bagus banget.


Instagrammable kan? Iya dong. Memang saya instagramin. Lol.

Setelah malamnya melakukan booking di sebuah tempat yang menawarkan jasa snorkelling, akhirnya saya dapat juga yang paling murah. Secara kami ini nini-nini rempong dalam rombongan sirkus, kami pesan yang kapalnya private. Dengan isi kapal 7 orang walau yang make fin dan snorkel ada 5 orang, dan dalam jangka waktu empat jam, kami bayar 900 ribu aja. Lumayan.

Buat info, operator yang kami pakai ini namanya Andy Snorkelling. Letaknya ada di seberang Gili Mart. Ada juga semacam monumen kecil warna putih di sampingnya. Karena banyak patokan, tempat ini gampang dicari walau ukurannya kecil. Faktor X dari operator ini adalah, kayaknya dia salah satu operator yang nawarin private boat paling murah. Nomornya 0817-5746-151.

Sebelum memulai perjalanan, tentunya kami sarapan dulu. Alhamdulillah, kali ini sarapannya prasmanan karena kami akhirnya nginep juga di hotel heits, Ombak Sunset! Terima kasih klinik Agoda atas diskon 50 persennya. Dengan mengucap bismillah, kami berangkat naik cidomo dari Ombak Sunset ke pantai.

Di Andy Snorkelling, kami dibawa ke empat snorkelling site. Site pertama adalah Coral Garden di Gili Trawangan. Site kedua adalah Turtle Site di Gili Meno. Site ketiga saya lupa namanya, pokoknya di Gili Air. Site keempat adalah site Bounty Wreck di Gili Meno. Berhubung saya gak punya kamera underwater dan ga nyewa, berikut saya sajikan foto-foto di internet yang paling mirip sama yang saya lihat.

CORAL GARDEN GILI TRAWANGAN


Photo Courtesy of Walkaboutindonesia

Di sini kami masih semangat 45. Bagus juga sih snorkelling di sini, tapi kira-kira hampir sama pemandangannya dengan Pulau Seribu. Jadi rasanya kurang istimewa.


TURTLE SITE GILI MENO


Photo Courtesy of Ingili

Di sini adalah tempat adik-adik saya kecewa dan saya dalam hati ketawa. Ih, kakak yang jahara emang saya ini. Ternyata mencari penyu itu cukup sulit karena (kata si mas) mereka takut sama kapal. Jadilah kami berenang cukup jauh sampe adik saya pengen jackpot.

Setelah berenang lumayan jauh dengan diterpa arus yang cukup kencang, sampailah kami pada suatu tempat. Di sini mas instruktur menyuruh saya dan trio kwek-kwek melihat ke bawah. Pemandangan yang kami lihat adalah penyu yang lagi bersantai, tapi jaraknya wakwaw juga sih. Ada kali sekitar 10 meteran di bawah kami. Walau antiklimaks, sebenarnya ini oke buat pengalaman. Anggap saja ini motivasi buat belajar diving.

Gambar di atas hanyalah ilustrasi semata. Bayangkanlah penyu itu 10 meter di bawah kamu. Kayak bongkahan gitu aja kan? 


GILI AIR FISH FEEDING


Seperti yang saya bilang sebelumnya, adik saya pada kebelet jackpot berkat Turtle Site. Momen ini pun kami manfaatkan untuk mampir dan ngeteh iseng di Gili Air. Akan tetapi, andaikan ga pingin jackpot sekalipun, kami emang harus berhenti di Gili Air buat beli roti. Ini adalah ancang-ancang sesi yang paling menyenangkan karena roti tersebut bakal dipakai buat ngasih makan ikan.

Di Gili Air, kami serempak ngeteh di kafe yang saya lupa namanya. Kafenya sih biasa aja, tapi view pantainya itu lho. Bagus banget! Jauuuuh lebih bagus dari Gili Trawangan.

Trio Kwek Kwek kebelet jackpot

Foto yang saya pakai buat gombalin pacar di sosmed dengan caption "Someday, love"

Putri Candid Palsu 2015

Setelah beres ngeteh dan foto-foto, saya ditugaskan buat membeli roti di warung. Sepertinya mas instruktur memang udah kerjasama dengan mbak warung dan kafenya. Pas dan strategis banget sih. Berhentinya di depan kafe ini, ngetehnya di kafe ini, lalu jalan ke belakang kafe ini pun langsung nemu warung roti.

Kejadian lucu dan mengukuhkan jiwa ibu-ibu saya juga terjadi di warung ini. Lagian yang engga-engga aja. Masa roti tawar satu pak dijual 25.000? Yang jualan pun anak kecil. Singkat cerita, saya dapat itu roti dengan harga 10.000 rupiah dan kata si adek penjual, kadaluarsanya bulan Desember. Kalah umur hamil kucing, dek.

Akan tetapi, roti 10.000 dengan masa kadaluarsa lima bulan itu berhasil menjaring ikan-ikan lucu saat kami snorkeling. Senang banget rasanya dikerubuti ikan. Lumayan buat yang jomblo, berasa dikejar-kejar. Tapi di satu sisi, saya merasa ga bener juga sih ngotor-ngotorin laut pakai roti. Maaf ya, Nyi Roro Kidulnya laut Lombok siapapun itu.


Photo Courtesy of Purimas Lombok

BOUNTY WRECK GILI MENO


Photo Courtesy of  Blue Marlin Dive

Bagi diver, situs ini mungkin sangat menarik. Menyelam ke kapal tenggelam memang merupakan bucket list banyak orang. Terlebih lagi ada juga program night diving yang menantang di sini. Konon pengalaman tersebut bakalan seru dan menegangkan.

Kapal ini adalah sisa Perang Dunia II milik Jepang. Buat menyelam ke dalamnya seorang diver butuh sertifikasi khusus. Tapi katanya para diver pemula bisa ikut menanam dan melihat-lihat koral di permukaan kapan.

Berhubung saya dan adik-adik sudah hampir 100 persen lelah saat sampai di sini, mas instruktur memberhentikan kapal hampir pas di atas shipwreck. Dengan begitu, kami bisa pegangan di pinggir kapal sambil melihat ke bawah tanpa perlu berenang lagi. Di sini pula, kami tahu rasanya pipis bareng di kepala orang if you know what I mean. Maaf ya, para diver di bawah.

Kunjungan ke shipwreck ini mengakhiri sesi snorkeling. Kami pun kembali dengan perut lapar ke daratan. Wisata kulinernya saya tulis di post berbeda saja, ya. Berikut ini saya mau bagi pemandangan di sekitar hotel kami saja.


SUNSET ALA TRAWANGAN


Ayunan hits

Nah, inilah ayunan yang paling hits di instagram belakangan ini. Kalau kamu segitu kurang kerjaannya buat ngepoin hashtag instagram, plis kepoin #GiliTrawangan. Mungkin setengahnya adalah foto di ayunan ini.

Kebetulan, ayunan hits bernama Datu Swing ini terletak di pantai seberang hotel kami. Untuk menuju ke sana, kita harus rela agak merusak sendal dikit atau bahkan debus jika gak pakai sendal. Pasalnya ayunan ini terletak agak ke tengah laut dan di dasarnya terdapat banyak karang-karang pecah berserakan. Ujian banget ya? Namanya juga mengejar eksistensi. Yiha!


Foto ala ala di pantai kosong dekat penginapan. Sukaaa.

Adek bontot nomor 4, difotoin adek nomor 3. Cahaya mataharinya cantik yaa.

Mau cerita dikit lagi deh tentang kelakuan anak sini yang bikin sebel dan malu. Sebelum berburu sunset, saya sempat berenang sama adek bungsu di kolamnya hotel saya. Suasananya enak, tenang, damai banget. Suasana ini bertahan sampai kedatangan rombongan sirkus yang saya kira merupakan ABG Jakarta.

Mereka bawa-bawa gopro. Yaa, sebagaimana kebanyakan turis di sini lah. Bedanya, kok gopronya dipake buat norak-norakan gitu yes? Pose jatuh satu-satu dari pinggir kolam lah. Ngerekam lagi main tinju-tinjuan lah. Ya ampun, hilang sudah suasana damai yang saya nikmati barusan. Berisik banget. Sambil face palm saya pelan-pelan keluar dari kolam. Udah ah. Males.

Buat dedek-dedek yang baca ini, plis. Gunakanlah gopro sesuai fungsinya. Jangan mengganggu orang dengan fasilitas yang kebetulan bapakmu bisa ngasih deh. Ih kezel.

Oke oke? Thank you... *ala dijah yellow*. 
Anyway, cerita Gili ini belum beres lho. Masih ada lagi rekomen wisata kulinernya. Steychun!

No comments:

Post a Comment