Monday, October 19, 2015

Lombok Day 6: Dari Pasir Pink Tangsi hingga Oleh-Oleh khas Mataram

Baca rekomendasi saya mengenai tempat wisata kuliner oke di Gili Trawangan pada tautan ini.

***


Hari keenam ini merupakan hari kami bertolak dari Gili Trawangan untuk kembali ke daratan Lombok. Tujuan kami kali ini adalah Mataram buat beli oleh-oleh. Akan tetapi, karena masih banyak waktu, kami pun memutuskan buat menyambangi Pink Beach dahulu.

Perjalanan dari pelabuhan speedboat kami di Bangsal menuju ke Pink Beach membutuhkan waktu sekitar empat jam. Memang lama, namun jalanannya gak seekstrim perjalanan ke Sembalun atau Senaru. Pun banyak diisi dengan tidur mangap-mangap sepanjang jalan.

Selama perjalanan, saya memperhatikan kalau banyak banget yang jualan semangka. Baru tahu kalau di Lombok ini banyak kebunnya. Rasanya pun sangat manis. Ibu saya yang ga tahan liat sesuatu yang harganya murah pun membeli banyak buah ini. Ketika ga habis, tebak dong siapa yang dijejali?

Di perjalanan, saya terpesona sekaligus kasihan melihat keadaan Lombok. Kelihatannya kering dan meranggas banget, herannya kolam renang di hotelnya gede-gede. Tapi jujur sepertinya malah kekeringan Lombok ini yang bikin alamnya eksotis. Banyak bukit hijau meranggas dengan motif cokelat dan abu-abu dari tanah merah kering dan batu, yang mana kalau difoto bikin warnanya keren. Hijau kecokelatan yang earthy sekali.


Cantik-cantik meranggas

Jika anda menemukan banyak pohon seperti foto di atas, tandanya anda sudah dekat dengan Pink Beach. Jalanannya di sini pun sepi sehingga saya dan adik-adik memanfaatkan momen ini buat ganti baju di dalam mobil. Dari niat foto-foto doang karena udah lelah di Gili, tiba-tiba mau berenang karena panas dan gersang sekali.

Tak lama kemudian, sampailah kami di Pink Beach. Tak perlu berpanjang tutur kata, berikut ini saya hadirkan penampakannya.


Pantai cantik yang lumayan sepi


Niatnya galau ala-ala candid, tapi kok stupid juga ngadep tebing begitu


Ibu saya yang berpakaian lengkap karena tidak suka main di pantai


Kapal yang siap membawa kita ke pulau-pulau kecil


Pantai Pink yang lebih akrab disapa penduduk dengan Pantai Tangsi ini sebenarnya gak terlalu pink, melainkan cenderung ke tan. Jika dilihat lebih seksama, butiran pasir berwarna merah itu akan terlihat. Pasir unik ini terbentuk dari mikroorganisme berwarna merah yang bersimbiosis dengan karang pantai.

Suasana pantai ini jauh lebih sepi daripada pantai-pantai di Gili. Warna air yang jadi berwarna toska bikin kami jadi semangat nyebur. Walaupun matahari lagi terik-teriknya, kami cuek berenang berbekal olesan sunblock tiap setengah jam.

Di pantai ini, saya melepaskan hasrat berenang di pantai Lombok yang sedihnya baru tercapai di hari tersebut. Sejauh ini, memang Pink Beach lah yang paling aman direnangi. Pantai curam Senggigi bikin kami hanya bisa susur pantai dari ujung ke ujung sementara pantai di Gili beraksesoris karang kecil-kecil nan tajam, pun kapal yang lagi parkir.

Berenang di Pink Beach ini memang bikin bahagia. Di bibir pantai, kita akan menginjak banyak pecahan karang. Berjalan sedikit lebih jauh, kaki pun bertemu hamparan pasir yang lembut dengan sedikit suluran rumput laut. Makin ke tengah, tentunya dengan kedalaman yang pelan-pelan bertambah, suhu air makin menurun. Sedap! Di sinilah kalau bisa saya gak mau menyembulkan kepala sama sekali, soalnya suhu air yang sejuk sangat kontras dengan suhu udara yang menyengat.

Puas berenang, saya dan adik pun harus membilas badan. Sayangnya, fasilitas umum benar-benar tidak memadai, bahkan toilet pun tidak ada. Hanya terdapat bilik bambu tipis dengan ember-ember air untuk sekedar membilas. Tentunya kita harus tau diri untuk ga buang air di sini. Warga pengelola bilik mandi mengenakan biaya 10.000 rupiah tiap satu ember air yang kita habiskan. Embernya sendiri cukup besar. Kalau mandinya ga heboh, duit ceban itu cukup untuk bayarin dua orang mandi.

Setelah puas main di sini, kami pun menuju Mataram. Tempat kami menginap adalah Lombok Raya Hotel. Hotel ini punya dua bagian, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Kamar yang kami pesan ada di bangunan lama sehingga rasanya malam hari cukup menyeramkan. Sebaliknya, restoran dan kolam renang berada di bangunan baru yang desainnya jauh berbeda. Jika tak ingat kalau besok adalah hari terakhir perjalanan dan semua baju sudah harus kering, pasti saya pengen banget nyebur.


Penampakan si hotel. Photo Courtesy of pegipegi.com

Di Mataram ini pula, saya akhirnya menyambangi McDonalds. Memang ga penting dan ga sehat sih, tapi ini udah kayak tradisi sendiri di mana ada satu hari yang didedikasikan untuk McD selama kami tamasya sekeluarga. Lol.

Di malam hari ini, kami berburu oleh-oleh. Jika kamu gak punya banyak waktu, saya merekomendasikan pusat oleh-oleh Sasaku buat beli buah tangan. Produk utamanya adalah kaos berbahan bagus dengan motif khas Lombok, tapi di sini banyak pula oleh-oleh lain seperti camilan khas Lombok, kain, celana bermotif, tas, bahkan kotak lipstik. Letaknya di pusat kota dan alamatnya bisa dilihat di bawah ini.


Photo Courtesy of TheDaysofYayang

Buntelan oleh-oleh sebanyak satu kardus penuh mengakhiri tamasya singkat kami di Mataram. Rasanya masih banyak sekali tempat yang ingin dikunjungi. Seandainya satu hari itu lebih dari 24 jam... *sigh*

No comments:

Post a Comment