Thursday, August 11, 2016

Kesan-Kesan Habis Baca The Picture of Dorian Gray

*Disclaimer: ini bukan resensi, review , atau apalah itu, ya. Hanya ingin menunjuk hal-hal yang menarik bagi ogut saja supaya engga lupa kalau pernah baca buku ini. Maklum, akhir-akhir ini suka jadi pelupa.*


The Picture of Dorian Gray merupakan satu-satunya novel karya Oscar Wilde. Walaupun banyak orang (di internet) bilang kalo buku ini adalah mahakarya dia, penulis Irish ini justru terkenal karena berbagai naskah drama yang dia tulis. Oscar Wilde merupakan penulis yang menjunjung gerakan Aestheticism. Apa itu aestheticism, nanti aja bahasnya belakangan.

Saya membeli buku ini sebenarnya karena nggak sengaja. Simply karena terdampar di bandara beberapa jam, dan akhirnya malah jadi random ke toko buku. Walau sempat dilema mau beli apa enggak, tapi akhirnya saya beli sajalah. Alasannya, satu, ngga enak kalo mejeng berjam-jam di toko buku buat namatin novel. Kedua, harganya paling murah di antara buku lainnya *receh* dan yang ketiga, buku ini buku anak Sastra Inggris bangeeet #pretensius.

Ceritanya sih cukup simpel tapi enak buat dibaca. Problem mahasiswa itu adalah kalau suatu hal udah jadi kewajibannya, maka itu jadi nggak asik lagi. Nah begitulah pandangan saya pas kuliah tentang buku-buku sastra. Padahal pas lulus, pas ulik-ulik lagi, wah ternyata asyik.

Ada seorang pelukis bernama Basil Hallward. Dia membuat sebuah mahakarya, yaitu lukisan potret anak muda nan tampan bernama Dorian Gray. Dorian ini baik dan polos. Makanya Basil memuja Dorian.

Dipuja-puja sama Basil ternyata gak bikin Dorian balik memuja Basil. Dorian lebih milih temenan sama Lord Henry Wotton, teman dari Basil Hallward yang kemudian jadi mentornya. Hal yang dia mentorkan ini bisa dibilang enggak bener juga, yaitu gaya hidup hedon.

Lama-kelamaan, sifat Dorian jadi boros, jahat, dan neko-neko. Mistisnya, selama belasan tahun memelihara jiwa yang busuk, wajah Dorian Gray tetap muda dan ganteng. Berbeda dengan wajah dia di lukisan Basil yang justru jadi buruk, tua, tambah jelek, sesuai dengan jiwanya.

***

Balik lagi ke gerakan Aestheticism, gerakan ini merupakan gerakan yang menekankan sisi estetika atau keindahan dibandingkan nilai moral atau politis pada suatu karya. Gerakan ini menarik karena masyarakat di zaman Victorian itu menjunjung tinggi nilai moral. Nah Oscar Wilde ini berani menggebraknya, dia berpendapat kalau yang dijunjung tinggi dari karya seni ya keindahan aja. Nilai-nilai lainnya jadi ga berarti.

Nah sebagai contoh, kita lihat dari penokohan dulu deh. hubungan pertemanan Basil dan Dorian ini terlihat terlalu unyu dan penuh puja-puji. Bertepuk sebelah tangan, lagi. Padahal, di masa itu, ketika moral dijunjung tinggi banget, masyarakat antipati sama hubungan sesama jenis. Hukumannya juga berat.

Ketika Oscar Wilde dikritik, dese ngeles aja. Karya dia ya karya dia. Orang yang mengerti gerakan dia tentu akan fokus pada keindahahan kata-katanya. Sementara orang yang mentingin moral, pasti otaknya bakal suuzon mulu sama karyanya.

Kalau dari pilihan kata-katanya, ya jelas juga sih berbunga-bunga walau nilai pencerahannya nggak ada-ada banget. Ada satu bagian yaitu chapter 11 yang menggambarkan petualangan Dorian mengejar hal-hal yang keduniawian banget. Dia berpindah-pindah pekerjaan. Mempelajari banyak hal yang sebenarnya dangkal. Ngeracik parfum lah, apa lah. Tapi bagian ini digambarkan dengan pilihan kata-kata yang cantik.

Yang berlebihan ternyata ga selamanya oke. Buat saya, hal indah itu jadi terlalu bertele-tele sih sehingga banyak yang jadi di-skim dan di-skip aja bacanya. Walaupun begitu, bagian ini menghibur juga. Lumayan menambah wawasan tentang hal-hal cetek di zaman Victorian. Panjang banget dan rinci.

Akan tetapi, kalau mau dibilang pure banget Oscar Wilde ini mentingin keindahan di atas otak, moral, dan lain-lain, sebenarnya rada kontradiktif sih. Jadi, Dorian Gray ini kan ceritanya tumbuh jadi orang yang hedon banget. Itu semua berkat andil Lord Henry Wotton (Harry) yang membentuk dia menjadi orang yang seperti itu.

Nah kalau ditarik lagi, jadi sebenarnya Dorian Gray ini terpesona sama otaknya Harry kan, bukan sama keindahan? Padahal mah, kalau mau sama yang indah-indah, temenan aja terus sama Basil. Jelas, lah. Seniman gitu lho.

Tapi saya bisa mengerti Dorian juga. Mungkin dia males juga dipandang sebagai objek sama Basil, jadi karya seni doang. Kalau kita perhatikan lagi, gak pernah tuh Basil bilang Dorian "handsome" yang walaupun main gender, tapi jelas, yang ditunjuk hampir pasti orang. Dia selalu bilang "beautiful", yang terlalu umum. Bisa buat nyebut apa aja termasuk bunga di taman, baju diskonan, kemeja bapakmu, dan sebagainya.

Yang paling saya suka dari novel ini sih tentu aja endingnya. Dari halaman 100an sampai ketika wajah Dorian di lukisan berubah-ubah jadi makin seram dan jelek, jelas lah ya kalau ini rada horor. Akan tetapi, ga nyangka aja kalau endingnya bakal ngasih kesan sekuat ini. Yah, efeknya sama seperti ketika kita baca karya-karyanya Edgar Allen Poe yang kayaknya emang sakit deh.

Terlepas dari pendapat-pendapat saya, secara keseluruhan The Picture of Dorian Gray ini asik kok buat hiburan. Cukup ringan lah buat bacaan di kala stres. Nggak usah didalamin, dinikmatin aja. Ingat, keindahan di atas segalanya.

***

Pusing ga sih bacanya? Aku nulisnya juga pusing. Hahaha. Udah ah. Bye.

No comments:

Post a Comment