Monday, December 19, 2016

Sebuah Diari Putus Cinta

Butuh waktu lama, mikir panjang, digampar bolak-balik sana sini buat akhirnya bisa menulis hal seperti ini. Tulisan ini gak saya maksudkan buat mendiskreditkan siapapun atau menjustifikasi kelakuan diri sendiri karena memang gak ada bagus-bagusnya. I just wanna hug myself, mengingatkan diri sendiri di masa depan biar ga kambuh lagi gilanya. Supaya bisa kembali menegakkan kepala dan bisa berkata, "ya udah lah ya, everything happens for a reason"


***


Di mata saya, pasangan yang berpacaran dalam waktu lama, lalu putus atau gagal nikah, adalah hal yang sangat klise. Banyak sekali kasusnya, yang kalau saya dengar, saya akan otomatis ngetok meja dan bilang "amit-amit ya Allah". Tiap datang ke kondangan, sebokek-bokeknya saya, pasti saya berusaha ngasih amplop yang cukup. Amplop penuh harapan agar pernikahan sang empunya hajat berjalan bahagia, juga penuh pamrih agar proses saya menuju jenjang pelaminan dilancarkan Tuhan YME.

Jadi, siapa sangka juga, akhirnya saya gak jadi nikah? Pun saya yang membatalkan. Lelah buat saya menjabarkan prosesnya di sini. Banyak penyesalan di sana sini. Walau kisahnya basi, sakitnya jangan ditanya. Di sisi lain, as Indonesian's nrimo-ness as it is, ada pula hikmah yang bisa diambil. Semoga dengan membacanya, kamu bisa belajar biar gak jatuh ke lubang yang sama.


***

Apa sih, yang (se)harus(nya) dipersiapkan sebelum menikah tapi gagal saya lakukan? 


Inilah hal yang seharusnya entah dari siapapun harus lakukan untuk menghindari kegagalan dalam melangkah ke jenjang yang lebih lanjut dari suatu hubungan. Semoga kalian semua nantinya ga ada yang merasakan pedihnya ngomong miris "bye, bye, pelaminan," ya.


Niat yang Datang dari Diri Sendiri

Menikah itu adalah suatu kerja keras, sebuah proses yang jauh berbeda dengan berpacaran. Evaluasi lagi niat diri apabila masih ada sedikit saja keraguan di dalam hati. Persiapan wedding itu memang indah dan bikin baper. Namun, konsentrasi kamu di sini harus penuh kepada persiapan marriage, hidup setelah acara kawinan.

Jika kamu pacaran dengan orang yang baik dan ga macem-macem, good for you. Selanjutnya, bayangkanlah menikah dengan orang tersebut. Maksudnya, bayangin cara hidupnya jangan ena-enanya he he.

Akan berubah sedrastis apa duniamu? Apa yang akan terjadi dengan keluargamu?

Poin tambahan: kecuali cita-citamu benar-benar menikah, ada baiknya kamu pikirin dahulu goals pribadi. Alasannya, ketika menikah nanti, kemungkinan akan gak sempet. Goals pribadi yang belum tercapai tentu bakal bikin hati kebat-kebit. Single aja gak kesampean, gimana nanti nikah?

Ini nih yang bakal terjadi ketika kamu menikah: nyicil KPR, nyicil mobil, biaya pendidikan anak, endebrey, bla bla bla. Mengobrol setiap hari dengan pasangan. Bagi tugas ini itu. Kalau kamu mulai dalam keadaan gak yakin nikah, semua itu bakal terasa jadi beban. Padahal, buat orang yang yakin mau maju ke pelaminan, semua itu bakal jadi petualangan baru yang mengasyikkan.


Tanggung Jawab

Buat yang merasa udah siap nikah dan berani ngajak orang nikah, tanggung jawab itu penting, lho. Bukan berarti siap menafkahi secara materi saja walau bagi perempuan-perempuan spesies tertentu terkadang materi saja sudah jadi alasan buat menikah. Hal yang lebih penting adalah mental.

Perhatikan pasangan Anda. Saat diajak menikah, seperti apa sih, mukanya dan reaksinya? Jika reaksinya senang, bahagia, gembira, oke lah. Jika reaksinya ragu dan takut terlebih dahulu saat bilang "oke deh, yuk", seharusnya sih kamu kerja agak keras.

Yakinkan dia kalau kamu sungguh-sungguh. Temani dan kuatkan dia. Kalau bisa, ngobrol tiap hari yang menyerempet ke arah pernikahan. Bangun imajinasi, bangun visi, bangun misi. Menurut saya yang ribet pola pikirnya, ini adalah proses yang harus dibina, tidak bisa mengalir begitu saja. Pastikan pasangan kamu benar-benar yakin bisa. Jangan cuma di "ayolah kamu pasti bisa"-in :))


Melihat Reaksi Orangtua

Ini adalah hal yang paaaling saya sesali. Ridho orangtua itu penting sekali, lho. Maju ke jenjang selanjutnya (tunangan atau nikah) meski orangtuamu merasakan adanya ganjalan sedikit saja adalah hal yang riskan untuk dilakukan. Kamu bukan Celine Evangelista. Kalau ingin menikah, orang yang pertama kali harus didekati dan dihargai adalah orangtua pasangan. Apabila orangtua siap maju, si anak mah tinggal nurut-nurut aja ya kan sama yang ngelahirin dia? Wkwk.

Walau terkesan maksa dan berat, ada pentingnya mencari calon teman hidup yang latar keluarganya mirip dengan keluarga kamu. Bukan masalah materi, melainkan cara dia memperlakukan orangtua dan keluarganya. Setiap anak punya naluri menyayangi dan melindungi keluarganya. Pastinya, kita ingin mempunyai pasangan yang bisa memperhatikan, menyayangi, melindungi, dan mengayomi keluarga kita sebagaimana kita melakukan hal tersebut ke mereka.

Mencari pendamping hidup = mencari anak baru untuk orangtuamu, mencari kakak untuk adikmu, mencari adik yang berbakti untuk kakakmu. Ingat dan camkan. Itu adalah prioritas. Kamu hidup bertahun-tahun dari keluargamu. Jika belum bisa kasih apa-apa, setidaknya kasih satu orang "bodyguard" buat mereka.


Berusaha Menjadi Setara

Poin ini adalah hal yang cukup sulit buat dilakukan karena saya agak enggak percaya sih dalam suatu hubungan, timbal baliknya bisa 50-50. Namun, ternyata menyetarakan diri itu penting juga. Walau yang satunya pasti lebih dominan dan yang satunya submisif, seenggaknya jangan timpang-timpang amat. 60-40 kek.

Befriend your partner. Di pernikahan, setidaknya kebanyakan pernikahan yang saya lihat, cinta itu bakalan habis, berganti jadi sesuatu yang lain yang saya gak tahu apa karena gak pernah ngerasain. Jika cintanya habis, penasaran gak, akan apa fungsimu buat pasanganmu?

Menikah itu adalah soal mencari partner mikir, partner ngobrol, partner hidup, partner curhat, dan di poin yang inilah kalau bisa ya bener-bener 50-50 timbal baliknya.


Memperkuat Komunikasi

Masih ada hubungan dengan poin yang sebelumnya sih. Komunikasi itu penting sekali. Minimalkan kode-kode yang kurang penting. Keluarin aja apa yang ada di kepala. Nah, jika sudah melewati fase pacaran penuh kode, berikan perhatian yang proper. Saat pasangan lagi curhat, langsung tanggap dan berempati.

Dengan berkomunikasi, sebenarnya semua masalah baik kecil maupun besar bisa diselesaikan bersama. Apabila melihat sesuatu yang kurang sreg tapi masih bisa diterima, sebenarnya bisa diomongin atau ditanyain juga. Langsung maklum, terus "ya udah lah...gue terima aja..." ternyata ada risikonya. Siapa tau itu di masa depan itu bisa jadi hal yang penting?

Soal ngobrol-mengobrol, itu ya harus sering-sering. Tukar pikiran, tukar pendapat. Kalau pait-paitnya kamu bego keterlaluan, dengan kata lain, kalau dicurhatin gak bisa ngasih solusi lah, kalau diajak ngobrol ga nyambung lah, setidaknya berikan seluruh perhatian dan usaha kamu di poin yang ini. Mengutip kata teman, dalam pernikahan itu, isinya hanya mengobrol seumur hidup sampai metongs.


Saling Tarik ke Dunia Masing-Masing

Seintrovert-introvertnya salah satu dari kamu sehingga gak punya teman banyak, seekstrovert-ekstrovertnya salah satu dari kamu sehingga kebanyakan teman banget, seharusnya sih mau saling ditarik ke dunia masing-masing. Maksudnya mau diperkenalkan dan ikut andil dalam dunia si pasangan. Sesedikit-sedikitnya itu, nunjukin effort penting, sih.

Poinnya adalah menunjukkan kalau kalian adalah tim yang kece yang bisa cool-cool aja baik dibawa ke pergaulan nan berfaedah maupun pergaulan nan receh. Melatih kemampuan adaptasi juga, sih. Nih, biarpun kamu merasa pergaulan kamu adalah pergaulan bermanfaat nan bergizi sehingga kamu merasa "wah. lebih baik gue menarik dia aja ke dunia gue, jelas bermanfaat," ada baiknya kamu mau melihat sedikit ke bawah, ke pergaulan pasangan kamu yang receh dan tak berguna, supaya kamu tahu aja kalau, "wah, orang freak inilah yang akan jadi pasanganku nanti. Apakah aku akan siap menerima jokes tante-tante senang seumur hidup?"

Sebaliknya juga, jika kamu merasa underachiever tak berguna yang pergaulannya terlalu selaw dan pasanganmu begitu dewa, setidaknya tunjukin effort yang bisa membawa kamu jadi orang yang mau belajar dari pergaulan tersebut. Siapa tahu menularkan kebaikan pada kepribadianmu.

Ya, kasarnya begitu, sih. Namanya saling mengisi, saling melengkapi. Saling menambah, saling mengurangi. Pengaruh kepribadian bisa dari lingkungan, bisa dari mana saja.


***


Melanjutkan Hidup



Jika sudah telanjur gagal a.k.a putus cinta, apa sih risikonya? 

Patah hati dan galau.

Apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghindari patah hati dan galau?

Ya jangan putus, wkwk.


Intinya, yang namanya putus cinta, apalagi putus tali "pertunangan" (walaupun belom benar-benar sampai di acara pertunangan) itu pasti penuh kegalauan. Bodohnya, ini dia nih yang antisipasinya kurang. Apalagi saya adalah tipe-tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Jarang galau sih, tapi sekalinya galau jadi enggak bisa ngapa-ngapain.

Beruntung, saya punya teman-teman yang bersedia ngegampar-gamparin saya. Yang jelas, mereka sih apes punya teman kayak saya. Both of you, you da real MVP. You know who you are.

Mengutip kata-kata salah satu dari teman saya itu, banyak hal yang gak bisa diundo di dunia ini. Sekali ambil keputusan, pantang nengok lagi ke belakang. Move on. Salah satunya lagi malah sempat bilang, kita gak akan bisa move on dari orangnya. Yang bisa kita lakukan adalah, pelan-pelan belajar hidup tanpa "dia".

Sulit? Jelas. Saat bersama "dia", kerap kali saya berpikir, saya enggak bisa hidup tanpa orang ini. Kini orang itu sudah bhay, ya sudah lah mau bagaimana lagi, mau enggak mau harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, emphasize di kata "sendiri". Kalau harus nangis ya nangis, tapi sialnya mesti ingat kapan harus berhenti (alias di jam berangkat kerja. nanti gak dapet gaji, galaunya dobel lagi, huh).

5,5 tahun bersama satu orang yang sama, pastinya sudah terbentuk suatu ritme hidup. Enak ngga enak ritme tersebut, saat berhenti pasti enggak nyaman. Ketidaknyamanan itu bernama kegalauan. Belum lagi memori-memori yang dibuat bersama. Semua itu terkadang bercampur-campur di otak dan membuat kepala mau pecah. Belum lagi perasaan bersalah sudah membuang-buang segitu banyak waktu hidup seseorang. Perasaan bersalah pada keluarga yang bersangkutan.

Cara paling ampuh, ya bebikinan ritme baru. Lebih produktif ke kerjaan. Lebih sering mengobrol bersama teman-teman. Review lagi goals-goals pribadi. Kalau hati sudah siap, ya jalan sama yang baru (warning: high risk). Namun, yang paling penting untuk dilakukan selain menata hati dan diri sendiri adalah mendekatkan diri dengan keluarga, setidaknya buat saya. Pasalnya, pas anak pacaran, orangtua belum tentu senang. Pas putus, orangtua niscaya ikut repot dan sedih. Anak durhaka pisan, bukan?


***


Akhir kata, buat kamu yang sampai sekarang gak siap saya temui lagi:

Terima kasih sudah ada bersama saya 5,5 tahun ini. Banyak sedihnya, lebih banyak senangnya. Yang jelas, banyak banget pelajarannya, setidaknya buat saya. Saya enggak tau kamu dapat apa dari saya, tapi saya belajar dan dapat banyak hal dari kamu. Semoga dari kegagalan, ada yang bisa kamu pelajari. Beribu maaf sudah buang-buang waktumu, but I gotta go. Someday we will meet, someday we will talk. I am so sorry.


***


Duh, drama deh *elap aer mata* *bersiap-siap cari duit*




Jakarta, 20 Desember 2016.
Ditulis sebulan setelah putus.

1 comment: