Saturday, February 11, 2017

Hal-Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Kamu Remehkan di Usia 24 Tahun


Tepat dua minggu saya berumur 24 tahun (horeee, saya belum tua walau mukanya sudah), rasanya saya masih belum merasa matang. Makin ke sini juga rasanya semakin egois dalam artian, saya engga pingin ngapa-ngapain lagi selain menyenangkan diri sendiri dan orang-orang yang saya sayang.

Dalam mewujudkan keinginan seperti itu, terkadang ada banyak hal yang, carelessly, tidak kita anggap penting sehingga pada akhirnya kita seperti kena karma dalam artian, kenal jegal oleh hal-hal yang kita remehkan. Ya, ternyata itu adalah hal yang HQQ. Lain kali jika ingin menganggap receh sesuatu, pastikan hal itu benar-benar nggak penting, ya.

Untuk itu, saya persembahkan, aneka hal yang boleh dan tidak boleh kamu remehkan di usia 24 tahun.


Politik? Boleh

 





ngambil dari askideas.com

Menjelang pilkada, saya memperhatikan makin banyak orang yang jadi bermusuhan karena berbeda pandangan politik. Karena itulah saya nggak benar-benar terbuka menjawab saya bakal milih siapa. Ketika ditanya, seringkali saya menjawab akan golput saja.

Mengapa menurut saya politik itu hal yang receh? Soalnya buat saya enggak ada gunanya juga menunjukkan siapa pilihan kita di luar hari pilkada tersebut. Jika kita berbicara mengenai hal tersebut di depan orang yang pilihannya sama dengan kita, kita cuman bakal saling menyetujui dan tos-tosan doang. Sementara itu, jika kita berbicara tentang hal itu dengan orang yang berbeda pandangan sama kita, kita bakalan dijudge habis-habisan.

Sebagai orang yang males mikir, saya mulai menerima kalau hari gini, kita enggak bisa berdiskusi lalu pulang dengan kepala dingin. Kita enggak bisa berdiskusi lalu membawa bekal hal positif yang bisa kita ambil dari pandangan orang yang berbeda. Kita enggak bisa lagi melihat hal yang berbeda sebagai suatu hal yang memperkaya cara pandang kita. Itu kenyataan yang pahit, tapi mesti kita terima.

Mesti deh, ada yang menang dan kalah terus dua-duanya sewot. Ih, kurang makan deh.




Managemen Waktu? Engga

 

ngambil dari pinterest

Sebenarnya, orang bodoh pun tahu hal ini enggak boleh diremehkan. Namun, sampai hari ini, hal tersebut masih jadi kelemahan saya. Buat make up hal tersebut, saya berusaha buat mengerjakan sesuatu dengan jauh lebih cepat. Artinya, saya memaksa diri saya buat melakukan sesuatu tidak sesuai kapasitasnya. Kerjaannya beres? Iya sih beres. Tapi kemeng. Matanya siwer. Ehehehe.

Waktu itu adalah satu hal yang enggak bisa kita tawar. Seiring pertambahan umur sel, kemampuan tubuh kita juga gak makin prima. Cara mengatur waktu lah yang harus kita kendalikan alih-alih memaksakan sesuatu buat memperbaiki hal tersebut. Toh, waktu itu ada 24 jam. Bisa diatur. *menulis hal ini sambil meragukan diri sendiri*


Memikirkan Hal yang Telah Berlalu? Boleh Iya Boleh Engga

 



As cliche as it is, hidup itu adalah pilihan. Ketika sesuatu sudah berlalu, let it go. Masa lalu terdiri dari banyak komponen nan kompleks. Terkadang kita harus duduk diam sejenak lalu membongkar kenangan-kenangan tersebut seperti mengurek-urek puzzle gambar pot kembang yang pecah karena kena bola yang ditendang anak tetangga.

Simpan bagian gambar kembang dan pupuknya buat nyeneng-nyenengin diri sendiri dan menyuburkan pikiran kita. Buang pot pecahnya, balikin bolanya ke anak tetangga yang punya, terus lempar-lemparin deh tanahnya ke rumah bapaknya. Wekkk...


Menabung? Engga

 

ngambil dari mirror.co.uk

Seringkali kita berpikir kalau kerjaan begitu membuat lelah lalu merasa kita pantas mereward diri sendiri dengan membuang-buang hasil keringat kita buat hal yang fancy. Bapak saya sih memang pernah bilang seperti itu. “Kerja yang keras. Kalau lelah kalau ingin menyerah reward diri sendiri dengan makan yang enak sampai puas”. Sesekali sih itu benar. Tapi jangan sampai besar pasak dari tiang.

Banyak hal-hal yang memaksa diri kita buat ngeluarin banyak duit karena keadaan. Contohnya kecelakaan atau sakit tapi pengen manja,terus pengen upgrade kamar rumah sakit VIP. Nah, di situlah secuil dua cuil hasil keringat yang kita sisihkan bakal membantu hal tersebut.

Kaget liat biaya nikahan yang besar banget itu bisa diminimalisir dengan lihat angka tabungan kita yang juga besar, lho, nantinya. Tapi nanti, ya? Jangan cepet-cepet kalau masih ragu ntar malah gagal loh ahahahaha.


Keinginan buat Traveling ke Tempat Fancy? Boleh

 



Kita bisa mendapatkan kedamaian dengan duduk di kedai kopi favorit sambil baca novel lama yang dulu dosen kita suruh baca sampe habis pas kuliah tapi kita malah memilih liat ringkasannya di sparknotes (anak sastra jangan pura-pura engga tau. Kita juga bisa jalan-jalan liat lukisan di museum sambil ngangguk-ngangguk pura-pura ngerti atau mikir bodoh gimana cara maling koleksi harta karun emas yang dipajang. Makan rujak kikil porsi jumbo tapi harganya 7000 perak doang di antah berantah pas enggak sengaja nyasar juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Ngeliatin dedek-dedek telanjang yang bahagia dengan caranya sendiri saat nyebur di genangan air jorok di pelosok negara kita ini juga bisa bikin kita lebih bersyukur.

Damai versi saya saat ini adalah saat entah pergi kemana terus menemukan kolam dengan bunga teratai yang mekar. Di Ubud atau di restoran Talaga Sampireun Bintaro yang selemparan kolor doang, alhamdulillah damainya sama. Jalan dengan orang-orang kesayangan pun bahagia setengah mati.

Sebaliknya, mungkin aja kamu enggak bahagia sama sekali di Paris kalo masuknya ke Lafayette doang sambil liat-liat tas mahal tapi enggak mampu belinya. Mungkin aja kamu senang liat salju di pegunungan di Swiss, tapi ga kuat sama dinginnya. Mungkin kamu pernah nginjekin kaki di Timbuktu, tapi biasa aja malah pingin pulang karena ga nyambung sendiri dengan teman-teman travelingnya.

Happiness and peace are states of mind, cieeeh...


Social Life? Engga

 

ngambil dari ravishly.com

Hal ini bergantung, sih, kepada cara kamu bersosialisasi. Saya sih sebenarnya introvert, tapi masih doyan haha hihi dan punya fetish sama hal-hal yang terlalu receh/aneh/rusak. Jadinya alhamdulillah masih punya kehidupan sosial. Pun kalau saya udah klik sama orang, saya bakalan sayang banget dan mempedulikan mereka. Makanya temen saya dikit banget dan itu-itu aja tapi selalu di hati. Ududududu...

Pastikan orang-orang yang kamu sayang itu tau pasti kalau kamu sayang sama mereka. Baik itu keluarga, teman, atau someone special, mungkin?

Oh, terkadang kamu juga boleh punya sikap, pastikan orang-orang yang kamu sebelin itu tau kamu juga sebel sama mereka. Jangan pereus jadi orang bahahaha. Kalau mau dipanjangin lagi, hangan sampe orang yang kamu sebel gak tau kamu sebel sama mereka. Apalagi kalo orang yang kamu sebel, nggak tau siapa kamu. Mendingan gak usah sebel. Nah, itu berkaitan dengan poin pandangan politik.

Btw, ada banyak orang yang introvert terus menganggap hal tersebut jadi alasan buat enggak berusaha mendekatkan diri atau peduli dengan hal-hal di sekitar kita. Buat saya hal itu bahaya, soalnya kita tinggal di tempat  yang menganggap orang ekstrovert lebih superior daripada orang introvert. Fake it till you make it because life is never fair. Tertanda, extroverted introvert.


Bikin List Tentang Hal-Hal yang Boleh Kamu Remehkan dan Enggak Boleh Kamu Remehkan? Terserah

 

Penting nga eaaaa?

Karena blog enggak boleh dianggurin, ehehehe. Capek juga, ya, ngetiknya.

Selamat berakhir pekan, teman-teman. Semoga kalian selalu bahagia.

Much love,

Dina Vionetta

No comments:

Post a Comment