Thursday, September 21, 2017

Nuris di Kampung Orangtua Sendiri, Kota Medan yang K.E.R.A.S

Maret lalu, saya dan keluarga pergi ke Medan untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu saya. Iya, ini #latepost banget. Hehe. Pengalaman saya, selama ini pergi ke Medan bolak-balik mudik, kami enggak pernah benar-benar jalan-jalan mengeksplor kota Medan beserta landmark-landmarknya.

Bareng keluarga besar, kami biasanya jalan ke luar kotanya entah itu ke Sembahe (dataran tingginya mirip Puncak) atau Percut (tempat makan seafood enak, macem Muara Karang). Sementara itu, di kota Medannya, palingan ngemall dan wisata kuliner.

Saya dan Nadia (adik saya) pun memutuskan buat nyisain satu dari tiga hari selama kami di Medan buat keliling kota, lalu makan-makan dan jalan-jalan di tempat yang touristy.

Yok, simak kami jalan ke mana aja.

Masjid Raya Al Mashun

 

Masjid Raya
Masjid yang berada di tengah-tengah Kota Medan pol ini cakep bukan main. Namun percaya gak percaya, selama 24 tahun hidup dan hampir tiap tahun mudik, saya enggak pernah ke sini. Shalat idul fitri pun biasanya di masjid atau musholla dekat rumah.

Oleh karena itu, awal petualangan kami di Kota Medan ini dimulai dari shalat dzuhur di Masjid Raya Al Mashun. (Iya, mulainya siang-siang. Kami pemalas) (Iya, masjid. Kami religiyus #tapibohong wkwk).

Tujuan utamanya sebenarnya adalah tentu saja mengagumi arsitektur Melayu yang katanya kental di masjid ini. Yang mana sebenarnya kami-kami ini enggak ada yang ngerti what the heck is arsitektur Melayu.

Masjidnya memang bagus dan besar banget. Bagian luarnya banyak warna kehijauan sesuai dengan warna favorit nabi. Bagian dalamnya didominasi warna emas seperti rumahnya Anniesa Hasibuan. Banyak ukiran rumit yang cantik.

Sayangnya, di teras masjid banyak pengemisnya. Kami yang sejujurnya parno sama orang Medan siapapun itu karena beneran barbar terpaksa ngasih biarpun dese sehat. Wk!




Rujak Kolam Takana Juo

 


Rujak Kolam

Tempat ini pernah didatangi Bondan Wienarno ketika beliau wisata kuliner ke Medan. Letaknya di Kolam Deli seberang Masjid Raya Al Mashun. Jadi, kami cukup jalan kaki habis sholat ke sana. Ekspektasinya sih enak gitu, kan? Hati adem habis sholat, panas bentar jalan kaki, langsung dihajar deh sama segarnya rujak. Namun pada kenyataannya, perjalanan kami dari Masjid Raya ke Rujak Kolam walaupun dekat itu berasa banget jauhnya.

TIPS! Buat cewek-cewek yang jalan kaki di Medan, kalau bisa berusahalah untuk jelek biarpun aslinya cakep. Kalau enggak, dijamin disuit-suitin digodain sepanjang jalan walaupun KERUDUNGAN. Sediiih, kota ini enggak aman banget :(


Jangan suit-suitin adek, bang :(

Balik lagi ke rujak, rasanya cukup menyegarkan. Buah favorit saya di sini dan entah kenapa jumlahnya banyak banget dibandingkan buah-buah lainnya plus potongannya juga geday banget adalah nanas. Saya perhatikan, di Medan nih nanasnya juicy, empuk, dan banyak airnya. Makin segar lagi saat dinikmati dengan segelas es teh manis atau es lengkong (cincau).

Soal bumbunya, itu mantap dari segi tekstur. Soalnya, enggak semua kacang digiling halus. Ada potongan kacang tanah yang bikin krenyes-krenyes saat digigit. Maknyus deh. Soal rasa, buat lidah saya kurang rasa gula merah plus keenceran. Mungkin karena buahnya, terutama nanas, mengeluarkan air yang banyak dan nyampur ke bumbu. Jatuhnya jadi kayak kuah.


Kuil Shri Maha Mariamman

 

Kuil Shri Maha Mariamman

Landmark satu juga cantik sekali dilihat dari luar. Kuil Shri Maha Mariamman adalah kuil yang dibangun di akhir abad 19 untuk memuja Dewi Mariamman yakni Dewi Durga dalam wujud apaaaa gitu. Kuil Hindu ini dekat sekali dengan mall favorit warga kota Medan yakni Sun Plaza (Grand Indonesianya Medan).

Sayangnya, kami nggak masuk, soalnya memang gak tau kalau boleh masuk. Lagian rasanya kurang etis jilbab-jilbaban gini masuk rumah ibadah orang buat wisata aja. Konon katanya bagian dalamnya lebih bagus lagi. Kami mampir saja mengagumi dari luar...karena memang tujuannya mau pergi ke Sun Plaza, sih. Enggak kuat, Medan panas banget. Kami butuh AC.

Nah, itulah kisah petualangan kami jadi turis di kota kelahiran ayah dan ibunda yang ternyata tidak menarik untuk dieksplor. Tapi, bolehlah untuk dicoba. Next time, memang lebih enak jalan ramai-ramai sama keluarga biarpun ke situ-situ aja. Adem naik mobil dan aman karena tidak digodain abang-abang.



Bonus ide buat yang mau wiskul di Medan

1. Bihun Tom Yum Seafood Kinley Thai Bistro Sun Plaza







Enaknya parah, dijamin enggak menyesal. Kuahnya pedas asam segar gurih kental, seafoodnya berlimpah, plus tambahan bihun kenyal dan gemas bikin kita kenyang seharian. Habis makan ini, hajar dengan segarnya soda lemon madu.


2. Durian Si Bolang



Mungkin foto tidak terlalu mewakilkan, namun akan sulit rasanya menemukan tempat makan durian se-fancy ini.



Blenger blenger deh tuh makan durian. Udah tau kan kalau di Medan harga durian itu murah? Rasanya juga maknyus. Bisa pilih mau yang manis berlemak atau pahit beralkohol.

Bonus lagi! Foto di nikahan kakak sepupu eike.


Didandanin teman nyokap. Suka banget.



Nikahan si cantik Kak Lia. Maaf bang AJ yang nongol jenggotnya ajah.

Nikahan yang sangat sangat sangat menyenangkan. Tapi lumayan wadaw karena sebagian suvenirnya yang handmade dibikinin tante saya itu tadinya dialokasikan buat nikahan saya yang enggak jadi karena putus. Nah di sana saya volunteer pula bagi-bagiin suvenirnya ke tamu-tamu. Kurang kuat apa lagi hati adek, bang?

YAK! Namun dari situlah saya kuat dan let go dan siap menata hidup baru. I deserve happiness too. Wakakak.

Ciao! Thanks for reading!
Dina

No comments:

Post a Comment