Friday, December 8, 2017

Kuncinya adalah Respek, Bukan Komunikasi

Merupakan sebuah klise membaca atau mendengar bahwa kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Saya sendiri agak merasa berat untuk membahas ini karena saya juga merasa kalau kegagalan hubungan saya yang lalu juga karena kurangnya komunikasi.

Pada suatu hari yang cerah dan sebenarnya tidak gabut walau digabut-gabutin, saya membaca di suatu media sosial tentang wawancara terhadap beberapa pasangan tua yang awet bertahun-tahun. Menurut mereka, komunikasi itu overrated. Apa yang membuat mereka bertahan adalah rasa respek.

Perihal respek dan komunikasi ini kalau dilihat sekilas seperti gak ada hubungannya, padahal ada.

Nih, kalau menganggap komunikasi adalah kunci, di hubungan kita, niscaya semuanya isinya obrolan.

Gimana kalau kita/pasangan lagi ada masalah, lalu enggak pingin ngobrol dan pingin diam sejenak mengurai benang-benang kusut yang ada di kepala, tapi pasangan/kita yang menggenggam prinsip "komunikasi adalah koentji", kebelet nanya, "ada apa, sih?" "cerita, dong"?

Kelar! Hooooi...obrolin yang penting-penting aja, sik!

***

Kegagalan hubungan saya yang paling pahit tentu saja hubungan yang sudah berjalan hampir 6 tahun itu. Walaupun saya sudah hampir 1 tahun bersama pacar yang sekarang, rasanya masih ada yang menghantui.

(Untung saya terbuka aja ya ngomongin masalah ini kalau sama pacar. Maklum, sama-sama produk dari hubungan yang gagal. Kadang saya curiga kami ini pelarian dari mantan pasangan masing-masing.)

Dulu, saya menganggap hubungan saya dan mantan pacar saya berakhir karena gagalnya komunikasi. Saya enggak tau, sih, kalau dia menganggapnya bagaimana. Tapi, saya udah nyaman dengan status pacaran, dan takut untuk menikah.

Ih, aneh banget ya, ada cewek takut menikah? Ha ha ha.

Saya takut dengan perubahan. Ketika menikah nanti (yang ternyata batal hahaha), ternyata saya diharapkan untuk jadi seorang ibu dan istri betulan. Visi masa depan kami benar-benar enggak pernah digambarkan sebelumnya. Saya jadi overwhelmed, kaget, panik, apalagi selama proses menyiapkan pernikahan (yang enggak jadi itu), saya merasa dibiarkan sendirian.

Saya jadi mikir, apa nanti di masa depan saya akan seperti ini? Mengerjakan semuanya sendiri mulai dari menjaga api di dapur tetap nyala, terima uang dari suami, mengurus anak sendiri, juga kerja yang asal terima duit aja tanpa memikirkan karier saya, karena yang penting adalah karier dia? Ikut dia kemana-mana sebagai pajangan tanpa dia peduli perasaan saya, apakah saya ngantuk, lapar, atau sebenarnya ingin bersama dia berdua saja?

Intinya saya merasa gagal berkomunikasi. Gagal banget. Selama 6 tahun kemarin, ngapain aja ya, kok enggak ada visinya? Kok yang begini-begini enggak pernah diobrolin? Kok kayak buang-buang waktu banget sih jadinya?

Seharusnya selama 6 tahun itu kami berkomunikasi dengan baik tentang masa depan. Fokus memperbaiki diri masing-masing. Bukan berusaha menerima apa adanya terus kok ujung-ujungnya wakwaw.

Ah, terlalu banyak "seharusnya kami..." terlalu banyak "what if..." yang bikin hati terenyuh kalau dijabarkan satu-satu.

*lalu OST La La Land "Epilogue" berkumandang kencang sekali di dalam kepala sampai mau pecah*

***

Sebenarnya, komunikasi dan respek itu bisa berjalan beriringan. Kita bahkan enggak harus berusaha berkomunikasi berlebihan kalau punya respek terhadap pasangan masing-masing.

Mungkin hubungan yang lalu itu bisa aja gak kandas kalau kami ini respek satu sama lain.

Saya respek ke dia dan aneka proyeknya.
Dia respek ke saya dengan tidak menjadikan saya aksesoris saja. Mengerti kalau saya ini manusia.

Tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu, ya. Kan saya udah punya penggantinya juga. Toh, setelah berpisah masing-masing, terbukti malah jadi lebih baik secara personal masing-masing. Dia jadi tidak terganggu oleh melancholic bitch macam saya, saya juga jadi lebih baik karena jadi tahu mau ngapain ke depannya (berkat mati-matian coba menghidupi diri sendiri karena akhirnya tahu kalau terlalu menggantungkan diri ke orang ya bisa mati beneran). Lalu akhirnya saya punya pasangan yang menganggap saya ini manusia.

***

Buat hubungan saya yang ini, saya benar-benar menganggap kami ini sama-sama berawal dari tanah dan coba berevolusi jadi manusia (iya saya percaya teori evolusi, tapi kali ini biarkan saya menggambarkannya dari agama, ya. Soalnya enggak enak kalau saya nulis "kami ini berasal dari neanderthal").

Yang jelasnya, kami tadinya sama-sama hancur, sama-sama enggak jelas mau ngapain. Tapi kami coba untuk sama-sama membangun diri jadi lebih baik lagi, secara personal ataupun hubungan. Dari yang enggak jelas mau ngapain, ujungnya saling membersihkan kanvas yang kotor sampai putih lagi, lalu coba dikasih warna yang diinginkan sama-sama.

Mudah? Enggak! Kami berantem besar kayaknya satu kali setiap sebulan ataupun dua bulan. Mudah banget keluar kata "putus" dari mulut saya. Entah itu karena dia yang terobsesi sama "komunikasi" tadi dan takut gagal lagi atau karena saya yang terlalu terobsesi mencari orang yang langsung "klik" sama saya dan masa depan ideal yang saya rancang sendiri di kala patah hati waktu itu.

***

Sejak tahu konsep "respek" itu, saya jadi ingin lebih mengaplikasikannya di hubungan ini.

Saya belum bilang ke dia, sih. Soalnya ingin saya tulis saja buat catatan pribadi. Dia kayaknya juga enggak baca blog ini hahaha.

Kayaknya saya harus lebih respek ke dia dengan cara membangun komunikasi seperti yang dia inginkan. Dia juga harus lebih respek ke saya dengan membiarkan saya yang seringkali pindah ke "silent mode" menguraikan hal yang njelimet di kepala dan enggak pingin ngapa-ngapain selain diam dan kerja.

Saya juga harus lebih respek ke dia dengan enggak sedikit-sedikit ingin "lari". Dia juga harus lebih respek ke saya dengan memperbaiki tabiatnya karena dia tahu sedikit-sedikit saya pinginnya "lari".

Lah, ternyata respek ujung-ujungnya ke komunikasi juga, ya? Tapi komunikasi yang lebih benar dan sehat. Ujung-ujungnya, semua soal mengubah persepsi aja.

Cobain, ah.

***

Haaah...sesungguhnya saya kepingin blog ini isinya hal-hal receh seperti dahulu kala. Life is getting harder, but we are getting tougher, no? Semoga, ya.

No comments:

Post a Comment