Saturday, January 27, 2018

Selamat Ulang Tahun untuk Saya

Beberapa tahun ini, Januari selalu jadi bulan yang berat untuk saya. Seringkali bulan tersebut saya jalani sambil menangisi isi dompet karena habis hura-hura di bulan Desember. I hate January, walaupun di bulan tersebut, saya merayakan ulang tahun.

Hari ini saya berulang tahun ke 25. Sebuah umur yang sangatlah sakral buat banyak orang. Umur 25, angka cantik yang menandakan bahwa seseorang mencapai umur 1/4 abad, juga jadi tonggak bahwa ia telah menjalani 1/3 hidupnya (ya, kalau 75 jadi tolak ukur harapan hidup manusia). Pada dasarnya, umur ini sering dijadikan sebuah milestone.

Apalagi kalau cewek. "Umur 25 mesti nikah! Umur 25 mesti punya anak!" dll dsb.

Sayangnya, ulang tahun enggak pernah saya anggap penting. Pada dasarnya, semua perayaan itu enggak penting buat saya, kecuali perayaan resign ha ha ha. Toh kalau berbicara goals atau milestone, sebenarnya saya enggak pernah benar-benar punya mimpi yang tinggi. Semuanya konkrit tapi receh. Misalnya:

- bulan segini harus punya sepatu A.
- gajian ke sekian harus makan di restoran B.
- tanggal segini harus punya duit sejumlah C.
- liburan nanti harus pergi ke D.
- job E harus saya kejar dan pepet terus sampai dapat.

dsb dst. Itu juga kalo enggak kesampaian ya sudah, enggak misuh atau nesu. Yaa enggak semuanya harus tercapai lah ya. Emangnya eug siapa? Hitler? Anak raja?

(Indonesia mestinya membasmi populasi manusia kurang pencapaian kayak saya gini nih, nanti enggak maju-maju.)

Seringkali saya menganggap diri saya ini butiran debu, enggak penting-penting amat di dunia ini. Lagi-lagi pada dasarnya, saya memang menganggap semua manusia itu sama enggak pentingnya sih buat dunia. Tau kaaan, teori yang menyamakan peran manusia untuk bumi itu sama saja seperti peran virus untuk tubuh manusia. Jadi, buat apakah pencapaian?

(Sampai sini kamu pasti menganggap saya nih manusia enggak punya tujuan hidup dan enggak pantes dapat apa-apa. Ya sebenarnya saya juga punya anggapan yang sama buat diri saya sendiri sih).

Sayangnya, di detik-detik menuju umur 25 tahun ini, ada seorang manusia bernama Muhammad Hurairah Gilang Permato Yoza yang menyuguhkan sesuatu, membuat saya berpikir kalau semua pemikiran saya itu mungkin saja salah.

Dimulai dari tanggal 26 Januari 2018 pukul 4 sore, di mana pintu kamar kerja saya diketuk dan pas dibuka, datanglah manusia ini tapi tidak sendirian. Dia membawa sebuah pickup bersama 2 laki-laki lainnya, lengkap dengan isian pickupnya. Seperangkat meja kantor dan kursi kantor, barang-barang yang saya idamkan.Sebuah perwujudan akan harapannya agar saya lebih bisa produktif, bukan bekerja lebih keras melainkan lebih cerdas.

Saya memberikan pelukan hangat. Kami ngobrol dan makan bersama. Seperti biasa, tapi dengan tatapan tidak percaya dari saya. Sampai-sampai rasanya saya ingin sekali mengganti harga seperangkat alat kantor ini. Barang-barang yang mestinya saya beli sendiri, tapi laki-laki ini super keukeuh ingin memberikannya.

Setelah itu dia pulang sekitar pukul 8 malam karena ada meeting di suatu daerah di bilangan Jakarta Selatan. Saya bilang, lebih baik langsung pulang saja setelahnya. Gak usah pulang lagi ke rumah saya.

(Di hari itu saya sendirian di rumah dan jujur rada takut. Entah kenapa di hari itu adik-adik saya pergi semua, enggak ada yang menemani saya. Aseum. Orangtua juga lagi pulang kampung.)

Tapi, pukul 12 malam, tiba-tiba dia menelepon saya lewat video call. Kembali ke depan rumah saya lagi.

"Happy birthday," katanya sambil memberikan kado. Lantas dia memakaikan saya helm dan menyuruh saya menggendong tasnya sambil menghadap ke luar rumah macam orang bodoh saja. Katanya hukuman karena saya lama membuka pintu.

Saat menghadap belakang, adik-adik saya dan dia sudah siap dengan kue dan lilin. Klasik banget ha ha ha. Kapan juga adik saya beli kuenya. Enggak jelas.
Saat meniup lilin, saya menghaturkan doa-doa bukan kepada diri saya, melainkan kepada mereka. Semoga Tasya naik IPKnya sampai cum laude, semoga Nadia masuk ITB/UGM/Unbraw, semoga Gilang lancar rezekinya.

Tidak berapa lama, orangtua pulang dari Medan. Gilang masuk kamar kerja saya untuk meminjam laptop. Dugaan saya, itu digunakan untuk mengurusi hasil meeting tadi. Kasian punya pacar ga ada laptop.

Ternyata dia menunjukkan sesuatu, yakni video yang dia buat bersama temannya. Isinya ucapan dari sahabat-sahabat saya dan sahabat-sahabat dia. Sampai sini pecah tangis saya. Pecah tangis karena:

- kok manusia ini secinta ini sama saya sampai mau-maunya melakukan hal ini?
- ucapan dari teman-teman tersayang yang membuat saya berpikir ternyata eksistensi saya lumayan menghibur buat mereka.

Percayalah, kalau kamu melihat video itu tanpa mengenal saya, kamu pasti berkesimpulan atau bertanya-tanya, manusia macam apakah saya ini?

Berikut adalah ucapan mereka yang saya rangkum.

- "Semoga enggak kerdus lagi. Udah ah males kasih wishnya" Fransisca, sahabat dari SMA.
- "Panjang umur dan sukses," Mardial, temannya Gilang, salah satu musisi/meme maker favorit saya. Obviously enggak kenal saya dilihat dari wishnya yang baik.
- "Semoga kuat menghadapi pertanyaan 'kapan?'. Semoga semua makin jelas," Laura Dame, mak comblang saya dan Gilang.
- "Semoga di tahun ANJING ini lo melangkah ke jejak yang lebih serius sama si Bapak (-ini maksudnya si Gilang-)," Amadea Hasmirna, SocMed Specialist slash sister di kantor lama.
- "Semoga lo gak kerdus lagi" ucapan anti kerdus kedua oleh Riyo Jatika, recipe writer di kantor lama.
- "Semoga dodo mimi cepat lahir," oleh Bella, desainer grafis kantor lama. (Dodo Mimi adalah nickname buat lemak perut saya yang berlipat. Kenapa Dodo dan Mimi? Karena saya suka Indomi.)
- "Semoga gw cepat sampai rumah," Cik Virny, editor di kantor lama, sudah jelas terlalu banyak bekerja.
- "Semoga makin itulah," Sabrina Alisa, habis diancam Amadea Hasmirna supaya enggak bilang semoga panjang umur.
- "Kurangi sidejob supaya enggak migren," Maulina, writer IdeaOnline slash temen zumba.
- "Perbanyak blowjob", Idho Nugroho, sobat cantikku yang sedikit tidak benar.
- "HBD WYATB APTB BPJS. Lo yang tau lah doa lo sendiri, semoga terkabul. Keren gak gw bikin video sambil jalan gini? " Erwin Ardiansyah sobs ens ku yang jaketnya selalu bagus.
- "Semoga cepat dihalalin," Novy, sahabat dari SMP.
- "Sukses selalu, makin berkah, panjang umur, banyak rejeki, cepet nikah, sekalian doain kita juga," Ashad dan Grace pasangan double date sahabat-sahabat Gilang semua.
- "Semoga ke depannya sukses terus, cepat nikah", Mama
- "Semoga cepat nikah dan beranak 30," Annisa, adik pertama.
- "Semoga tiap bulan kirim duit," Tasya, adik kedua.
- "Semoga cepat nikah" Nadin, adik bungsu.
- "Happy birthday," Bapak, not the most talkative person in the world.
- "..." kucing saya si Shadow, entah kenapa cukup syaraf buat mintain ucapan happy birthday dari seekor kucing.

Ya banyaknya orang-orang di video itu, belum lagi ucapan-ucapan dari kawan lainnya di pagi hari, membuat saya lumayan berpikir kalau kayaknya saya bukannya enggak penting-penting amat, tapi memang diri saya sendiri saja yang menganggap diri ini tidak penting.

At least di umur 25 ini, lagi-lagi saya kembali dengan harapan-harapan yang biasa saja. Semoga ucapan-ucapan baik dikabulkan dan berbalik ke diri sendiri yang mengucapkan. Karena sambil melihat video itu, saya sadar kalau saya memang gak suka-suka banget sama manusia karena memang gak hidup sama manusia. Mereka yang ada di video itu, orang-orang kesayangan di sekitar saya, adalah malaikat.

Termasuk kamu, Gilang, malaikat saya juga walau kalau lagi kambuh ya devil-devil juga tapi nga papa aq kuat.

No comments:

Post a Comment