Friday, March 9, 2018

What Travel Means

Sekarang tren kuis-kuisan dengan template ig stories ramai beredar. Salah satunya adalah tentang travel. Saya mengisi itu di malam hari saat mencoba tidur. Pagi harinya malu sendiri dan saya hapus lagi. Alasannya adalah karena saya terlalu banyak mengisi "Puncak, Bogor" sebagai destinasi favorit walaupun juga mengisi borang "berapa negara yang sudah kamu kunjungi?" dengan jawaban "12".

Jika berpikir sebagai orang lain yang membaca jawaban-jawaban saya, mungkin orang akan berpikir "woooy ini maksudnya 12 negara cuy, bukan 12 kota", saking "cetek" banget destinasi favorit saya menurut standar media sosial. Enggak cinta, beneran 12 negara :((

Setelah menghapusnya, saya jadi nyesel sendiri karena peduli banget sama standar bahagia menurut media sosial x)) Puncak memang menyenangkan, kok. Dekat dari Jakarta, udaranya dingin, makanan enak-enak. Tinggal di Jakarta dengan udara yang panas, Puncak memang destinasi yang oke banget buat adem-ademan.

Salah satu adik saya bahkan sempet komen, "ya Allah kasian banget sih orang Jakarta ini," (ya dia tinggal di Yogyakarta).

"Tapi iya juga sih ya kak? We already travel when social media is not big yet. Jadi ya memang biasa aja. We travel because we want to, not because we have the need to flaunt it,"

***

Sebenarnya, apa sih memori paling menyenangkan dari traveling itu?

Buat saya sih bagaimana cara menjalaninya dan lagi punya mindset seperti apa saat berada di sana. Puncak sangat menyenangkan bagi saya karena saya pasti ke sana sama keluarga. Pasti ke sana saat lagi bosen-bosennya dan lagi capek-capeknya, lalu pulang dengan hati gembira. Yang kami lakukan di sana adalah tidur-tiduran di pila yang enak, makan ketika mau makan, ngetik ketika mau ngetik, juga membaca e-book di saat nggak ngapa-ngapain. Puncak adalah tempat di mana kami semua benar-benar jadi sayur karena enggak punya agenda mau ngapa-ngapain juga.

Berbeda halnya dengan ketika pergi ke, tarohlah misalnya, Paris deh ya biar kontras. Kota enggak jelas. Mau ngantri museum juga malas. Orangnya rasis. Banyak copet. Kalo belanja ngantri. Beli tas chanel doang kayak beli sembako. Satu-satunya memori menyenangkan di Paris itu adalah saat beli pastry di pastry shop pinggir jalan. Yang jelas kalo duitnya pas-pasan, enggak jelas di Paris itu bisa ngapain deh intinya.

***

Enggak bisa dipungkiri, adanya media sosial dan kamera bagus memang sangat altering reality. Saya sih merasakan, dengan instagram, suatu tempat dan kenangan bisa terlihat sangat indah dibanding ketika kita menjalaninya sendiri di sana.

Misalnya, saya ikut sebuah trip ke Bandung sana bersama teman-teman. Fotonya sih bagus-bagus dan terlihat sangat menyenangkan. Videonya juga lucu-lucu. Tapi, saat menjalaninya, sebenarnya hati lagi berdarah-darah karena pergi ke sana itu salah satu tujuannya adalah menutupi kenangan mantan hahaha. Niat ngegantiin kenangan bersama mantan dengan kenangan bersenang-senang bersama teman. Tujuannya ya okelah tercapai. Cuma, kalau dari fotonya kan sebenarnya enggak semenyenangkan itu.

Satu lagi adalah momennya. Melihat foto ketika lagi ada di Gunung Titlis misalnya. Kan kesannya ens banget ya? Padahal, sebenarnya pas di sana ya enggak enak-enak banget. 5 menit di luar juga beku kan pipi. Ke Titlis menyenangkan karena momennya adalah ke sana benar-benar dua minggu setelah lulus kuliah. Soalnya kalau ke sananya belom lulus kan enggak ngerasa sarjana on the top of the world gitu, loh.

***

Nah, kalau itu, kan, dulu. Traveling mesti nemu momen-momen ens-nya. Pasalnya, emang hidup lagi penuh momen-momen yang rewarding. Kalo sekarang kan udah penuh realita. Pencapaian udah susah didapat kalo ga niat banget, tapi kalo kerja ya capek.

Makanya sekarang buat saya, traveling itu maknanya adalah istirahat. That's why Puncak jadi destinasi utama. Mungkin untuk menemukan sense of accomplishment dalam traveling, harus nemu sense of accomplishment dalam kehidupan lagi. Ehe.

Iya ngga sih?

No comments:

Post a Comment