Saturday, April 14, 2018

Appreciation Post for You, My Beta Male

Saya hampir selalu mencari pacar yang punya sifat alpha male.

Alasannya, passionate akan suatu hal membuat lelaki terlihat sangat cerdas, seksi, dan menarik. Dia yang berprestasi di bidangnya membuat saya bangga. Memperhatikan sang lelaki yang jadi pemimpin buat sirkel atau kumpulannya bikin saya berasa jadi ibu negara. Ya, saya tahu betapa cetek dan rendah bangetnya pemikiran ini.

Hubungan-hubungan yang saya jalani ini memang seringnya awet. Namun sampai sekarang enggak ada satupun yang berhasil. Selalu berujung kepada kesimpulan bahwa lelaki seperti itu akan selalu mengutamakan dan menjadi milik dunianya. Call me selfish, tapi kaki jadi berat sekali melangkah ke jenjang yang lebih serius. Mau pacaran berapa lama juga (ya, saya pacaran selalu lama), saya takut membayangkan suatu hari di mana kami akan bersama selamanya.

Menjadi bayang-bayang itu tidak enak. Baik menjadi pacar si ini, anak si itu, maupun teman si anu. Padahal, setidak menarik apapun saya, saya ingin menjadi diri sendiri. Dina yang bukan bayang siapa-siapa. Dina yang ketika ingin tampil, tidak diambil spotlightnya.

***

Kata orang, manusia akan merasakan krisis kehidupan di umur 27 tahun. Saya berdoa banget, lho, supaya ini enggak kejadian di saya. Pasalnya, momen "fuck it, i'm leaving/i'm in" sudah banyak terjadi di umur 24 tahun kemarin. Sungguh hal tersebut bikin gonjang-ganjing dan mengubah kepribadian saya. Entah jadi dibenci atau makin disayang orang-orang tertentu. Entah membuat saya makin terlihat kacau atau mendingan. Yang jelas, malas banget kalau disuruh merasakan hal seperti ini lagi.

Di umur tersebut, perubahan yang lumayan saya rasakan adalah keberanian dalam melakukan ini itu karena alasan yang rada goblok: sudah punya modal jumawa karena pernah berhasil mengambil keputusan yang lumayan besar. Kalau harus kehilangan sesuatu demi hasil yang lebih baik, rasanya jadi lumayan enteng dan enggak takut.

Sudah jadi rahasia umum kalau salah satu hasilnya adalah saya memutuskan untuk resign dan membranding diri sendiri sebagai freelance writer. Memang belum besar namanya, tapi lumayan juga untuk menambah pundi-pundi. Ketika ada kawan yang membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan content writing, insya Allah larinya ke saya.

Yang paling penting, it leads me to my first relationship ever with a beta male. The one whom I'm dating right now.

***

Namanya adalah Gilang. Umurnya beda satu tahun saja dengan saya. Bilangnya sih, punya passion dalam event organizing. Ketika saya lihat-lihat, kok kayak enggak menarik gitu? Apapun itu, saya sangat melihat dirinya menyelami pekerjaan tersebut sepenuh hati.

(Ya, walau ketika ada hasil yang tidak diinginkan dalam pekerjaannya, kata-kata yang lazimnya tidak diucapkan pria-pria berpendidikan keluar dengan lancar. Macam ada di terminal Batak~)

Hal yang paling saya kagumi dari dirinya adalah kemampuan dia dalam membuat saya merasa seperti polisi dan dia sebagai tahanan rumah. Sesibuk apapun dirinya, seasyik apapun dirinya, tanpa diminta, dia akan laporan ini itu. Tanpa sadar, saya jadi ikut larut dan dilibatkan dalam dunianya. Entah bagaimana, laki-laki ini seolah melihat saya seperti duduk di batang hidungnya terus-terusan.

Satu kualitas yang dahulu tidak pernah saya pertimbangkan dalam laki-laki adalah betapa dia bukan dihormati oleh orang di sekitarnya, melainkan disayang. Mulutnya memang macam supir truk, makhluk sejenis saya, tapi hatinya benar-benar sangat lembut. Pernahkah kamu melihat kekasih kamu menangis terharu karena bahagia tanpa malu menunjukkannya? Wahai rakyatku, itu rasanya sangat hangat.

Karena hatinya yang sangat lembut itu, saya merasa kalau passionnya sebenarnya bukanlah di bidang event organizing. Passionnya mestilah people. I love how he puts himself on the last priority -- mestilah semua orang bahagia dahulu, baru dirinya dia bahagiakan.

Kejadian di pelesir Semarang kemarin, dirinya menemani saya kemana-mana dan baru di malam hari saya sadar kalau dia lagi kesakitan luar biasa di kakinya tapi ditahan-tahan. Rela menemani saya ke Lawang Sewu malam-malam, padahal dia bisa liat setan yang serem-serem lalu keringat dingin. Oke, now I sound like an asshole.

Saya juga suka betapa kawan-kawannya (yang tidak banyak-banyak amat tapi berkualitas dalam artian, benar-benar bromance) menyambut Gilang dengan senang. Baik-baik dan tidak melihat saya dengan super cringe walau saya awkward orangnya. Padahal, mereka juga orang yang berprestasi. Kalau punya setengah saja talenta mereka, saya pasti bangga setengah mampus (banyak temannya yang musisi karena dia kuliah seni).

Ya, itulah. Alpha male, beta male, macamnya adalah state of mind and attitude. Beta male enggak mesti payah juga, sih. Selama ini, saya enggak pernah benar-benar melihat pacar saya sebagai orang yang berprestasi menonjol. Waktu lagi bareng kawan-kawan sejawatnya saya baru menyadari kalau pacar saya ini leh uga. Memang, bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai orang yang setia dan jadi blessing buat orang-orang di sekitarnya. Kini, kualitas itu saya rasakan begitu penting.

***

Jika ada satu hal yang paling saya apresiasi dari seorang Gilang the Beta Male, itu adalah kebodoamatannya terhadap spotlight. He tries to do the best of everything because he likes to do it, not to seek appreciation. Lebih dari itu, dia berusaha memberikan yang terbaik, bukan demi kepuasan dirinya sendiri, melainkan demi orang-orang yang dia sayangi.

Impiannya tidak banyak, yang penting ayah ibunya bahagia. Yang penting adiknya sejahtera. Yang penting kebutuhan saya tercukupi. Yang penting, dia diterima dalam kehidupan saya dan keluarga saya. Lucu, lho, melihat dia berusaha jayus-jayus dan tampak cringy demi bisa ngobrol dengan adik-adik dan kawan-kawan saya. Senang rasanya melihat dirinya berusaha menyayangi dan menyukai apa yang penting di dalam hidup saya, biarpun kalau dipikir-pikir enggak nyambung sama dirinya. Sering gagal, sih. Tapi effortnya boleh, lah.

Dia juga suka mendorong saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya sehingga saya sedikit-banyak jadi lebih baik. Namun, dirinya tidak taking credits dari itu semua.

Gilang tidak takut jadi pria yang terlihat biasa-biasa saja, dan itu adalah hal yang membuatnya luar biasa.

Saya suka ketika kami bersama, kami berusaha menjadi versi terbaik dari diri kami sendiri. Jika belum berhasil, saling dorong sampai berdarah-darah entah bagaimana caranya jadi sangat worth it. Jika dilihat-lihat, memang belum sempurna. Apalagi kami sama-sama bersumbu pendek. Tapi sekali lagi, entah bagaimana, semuanya terasa worth it. Tai kucing jadi rasa cokelat, baru kali saya alami.

***

Dear, my beta male, I love you to the moon and back.
Untuk dibaca oleh Muhammad Hurairah Gilang Permato Yoza saja. Karena kalau yang lain-lain membaca ini, niscaya muntah.
Kamu yang romantis dengan caramu sendiri. Cara yang menggelikan tapi selalu membuatku bersemu merah macam mencret darah.

Jakarta, 15 April 2018
3.50 AM, bless my fucked up sleeping hours.

No comments:

Post a Comment