Sunday, April 15, 2018

Wisata Semarang Day 1: Habis Drama Terbitlah Wiskul dan Lawang Sewu!

Setidaknya satu tahun sekali, saya mencoba untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dituju. Tidak muluk-muluk, sampai saat ini, keinginan dan tabungan belum mengajak kaki saya menginjak tempat wisata di luar negeri. Saya sendiri tidak kecil hati mengingat Indonesia begitu luas dan punya banyak tempat menarik. Tujuan random di tahun ini adalah kota yang tidak begitu populer sebagai tempat wisata, yakni Semarang.

Lawang Sewu, salah satu destinasi wisata Kota Semarang

Adik saya yang kuliah di Yogyakarta sempat mengernyitkan dahi, mendengar tujuan wisata yang menurutnya sama sekali tidak menarik itu.

"Yaelah aku ke Semarang cuma buat nyari fast food yang enggak ada di Jogja. Apa engga buat kabur-kaburan kalo lagi ngambek sama pacar," kata ABG bernama Nisa, 21 tahun.

Ya gimana dong? Saya memang suka tujuan yang lucu-lucu begitu. Entah memang suka, atau kendala mizqueen saja. Pernah saya ke tempat yang aneh banget, yakni Kota Serang, dengan cuaca yang buset panas banget. Sama orang yang kini hubungannya engga baek pula. Namun hati yang begitu receh ini senang-senang aja, tuh.


Reaksi Pacar


Teman jalan favorit saya adalah si mas pacar, Padang boongan bermuka Mas-Mas Jawa (biarkan aku rasis sedikit, aku sayang padanya dengan sifatnya yang cem bunglon gitu). Oleh karena itu, kali ini saya jelajah Semarang dengan dirinya. Awal mula saya mengutarakan keinginan untuk pergi ke kota tersebut, dia yang kebetulan pernah tinggal di sana selama beberapa bulan tentu menunjukkan refleks yang syahdu dan menenangkan.

"Ngapain amat, dah? Biasa banget gitu tempatnya. Aku temenin, tapi jangan sampe nyesel, ya."

Setelah menabung sekitar dua bulanan lebih, kami jadi juga ke Semarang dengan syarat ke mana-mana kami mesti sewa city car (gak gahar banget, padahal ingin naik truk kamtib saja), dan mesti mengunjungi ibu kosnya.


Drama di Pagi Hari


10 April 2018, tepatnya hari Selasa (sengaja pergi di weekdays biar sepi dan memanfaatkan momen pengangguran terselubung beban pajak negara), kami berangkat dari rumah masing-masing. Di malam hari, packing sudah siap banget. Pokoknya tinggal berangkat, deh.

Then the devil came in the morning: keinget revisi kerjaan.
Bodo amat, Din, bodoh dipiara.

Dari rumah saya ke bandara, lazimnya makan 30 menit saja. Oleh karena itu saya cuek saja pagi-pagi mengerjakan revisi. Singkat cerita, pekerjaan memang selesai karena revisinya memang sedikit. Saya order taksi online, Harusnya timeline lancar dan tidak telat sampai.

Kalau enggak pake campur tangan Tuhan yang suka melucu.

Sayangnya, Dirinya lagi mood melucu.

Hari itu rupanya ada kecelakaan di jalan tol. Melihat mobil yang bergerak sesenti-sesenti saja, keringat dingin mengucur di taksi. Abang supir ikut coba melucu dan bercerita ini itu, tapi darah yang mendesir-desir dari jantung sampai terdengar alirannya sampai ke kepala ini tidak bisa bohong. Waktu boarding sudah tiba ketika saya dan abang baru sampai ke kawasan tol bandara. Pacar menelepon dengan putus asa. Dia sudah masuk pesawat ketika saya mau tukar boarding pass (kalau ada yang bisa disyukuri, itu adalah saya udah check in dari semalam).

"Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat *** tujuan Semarang," itu yang saya dengar di antrian paling belakang penukaran boarding pass.

"Mbak, sudah check in? Ke antrian paling ujung aja," kata bapak petugas ketika saya curhat putus asa tentang panggilan terakhir yang mengalun seolah untuk saya seorang itu.

Saya pun lari sprint sambil dorong koper. Saya enggak tahu antrian paling ujung itu apa, yang jelas bukan antrian penukaran boarding pass. Antrian itu suram banget, kayaknya buat penumpang yang lagi ada masalah.

"Aku udah siap-siap pesan tiket sore," ketik saya ke pacar saya sambil putus asa. Gak tahu dia balas apaan, yang jelas chat line udah terus-terusan bunyi. Pasti dia marah-marah. Bodo amat.

Namun, lagi-lagi Tuhan bersama orang-orang yang memelas. Mas-mas petugas antrian sepertinya kasihan lihat muka saya. Beneran, saya bukan nyelak antrian. Saya cuma pasang muka memelas banget. Beliau langsung memanggil saya ke depan dan buru-buru ngeprint boarding pass. Wadaw! Kembalilah saya berlari-lari. Telepon sudah bunyi-bunyi. Selak sana, selak sini di eskalator. Bahkan saya hampir kesandung ke arah bapak-bapak di depan saya dan dipelototi. Sampailah akhirnya saya ke petugas depan gate pesawat saya. Hampir mau menangis, saya ini.

"Mbak, pesawatnya udah berangkat, ya?" Tanya saya dengan nada pasrah.
"Hampir, mbak," kata si Mbak.

Yassalam, hati agak lega sedikit. Saya pun kembali lari-lari menuju pesawat. Alhamdulillah wa syukurillah, belom berangkat.

Ketika menaiki tangga pesawat, saya rasanya menang banget. Macam Steven Seagal di film action. Sampai ketemu mbak pramugari, di situ baru berasa drop banget.

"Mbak yang lari-lari takut ketinggalan pesawat ya? Tenang, mbak. Udah sampe ke pesawat," kata Mbak Pramugari sambil nahan ketawa. Sepertinya petugas-petugas bandara yang menyaksikan saya lari-lari itu berkoordinasi dengan pramugari tersebut. Ih, malu banget. Saya pun menutupinya dengan senyum simpul.

Saya pun berjalan ke tempat duduk saya. Di sana ada pacar yang mukanya udah ruwet banget. Namun, sumpah demi apapun, itu wajah terindah yang pernah saya lihat di bulan ini. Bukan karena dia mirip Nicholas Saputra, melainkan karena wajah itu menyimbolkan duit tiket sore yang enggak jadi saya buang-buang demi mengejar ketinggalan pesawat.

"Aku tuh tadi udah nyamperin Mbak Pramugarinya. Aku mau minta turun aja tadi kalo kamu ujungnya ketinggalan pesawat ini,"

Yaelah, lebih drama lagi.


Sampai di Semarang


Singkat cerita, kami sampai di Semarang. Udaranya sangat panas, tapi hati ini lega sekali. Karena capek dengan drama tadi, kami beristirahat sejenak sambil pesan nasi goreng babat di tempat tinggal sementara kami di sana. Nasi gorengnya enggak enak karena kebanyakan minyak, tapi dibandingkan kejadian tadi pagi yang dijalani dalam keadaan lapar, rasanya nasi goreng itu jadi macam buah kuldi saja.

Kami lantas memanfaatkan momen kekenyangan kolesterol untuk beristirahat. Setelah itu, kami bersih-bersih dan bersiap mengunjungi ibu kos pacar saya.


Ibu Kos dan Niken


Saya selalu senang mengikuti momen nostalgia pacar saya. Kehidupan dia sebelum bertemu saya sungguh menarik sehingga saya tidak bosan-bosan mendengar ceritanya. Dia terlihat manja dan tipikal anak kota, namun di balik itu semua, dia diuji ini-itu dan sangat tabah pada masanya. Momen dirinya bekerja di Semarang sepertinya salah satu momen yang tidak begitu mengenakkan. Hal itu terlihat dari bentuk kostannya yang semenjana dan keakraban dirinya dengan sang ibu kos yang sudah paruh baya. Dia jarang mencium tangan orang lain, tapi, saat bertemu mantan ibu kosnya, saya lihat dia langsung menghambur mencium tangan dengan takzim. Begitu pula ibu kos yang bertemu pacar saya, langsung meninggalkan geng gosip tetangga sambil lari-lari menyambut, seperti ibu Malin Kundang melihat anaknya yang datang sebelum mengutuk jadi batu.

Di rumah kos tersebut, barang-barang milik pacar masih tersimpan. Asbak rokok yang digunakan di ruang utama, ternyata adalah asbaknya. Ibu kos memiliki anak bernama Niken. Umurnya masih 6 tahun. Anak menggemaskan ini dulunya jadi hiburan pacar saya saat masih tinggal di Semarang. Bahkan, bean bag berwarna merah kesayangannya dia tinggalkan untuk Niken. Masih bertengger di kamar anak tersebut.

"Iki, lho, kursi Mas Gilang," kata Niken menunjukkan bean bag tersebut sambil menyeruput susu cokelat oleh-oleh kami.

Perbincangan kami di sore itu banyak berkutat di perkembangan Niken. Dari situ saya melihat, sebenarnya pacar ini akrabnya sama si bapak kos, bukan ibu kos. Sayang, bapak kos kerja shift siang sehingga baru akan pulang di malam hari. Kami tidak sempat bertemu dengannya.

Kami hanya sebentar bertandang sebelum akhirnya mencari makan. Karena bingung, akhirnya saya cuma kepikiran satu tempat: Toko Oen yang sebenarnya juga ada di Malang. Setelah berpamitan, kami naik taksi online ke sana.



Toko Oen


Di jalan, pacar menceritakan betapa ibu dan bapak kos sangat menolongnya di masa lalu. Memberinya makan dan tempat berteduh, bahkan menolak dibayar biaya kosnya. Pacar memang sempat mengalami masa-masa sulit. Pokoknya sedih kalau diceritakan. Tapi, kok, saya ketagihan sekali mendengar kisah-kisah dirinya di masa lalu. Memang bgzt saya ini.


Si banyak cobaan tapi tetep manja


Tak makan waktu lama, kami sampai di Toko Oen. Ternyata tidak begitu jauh.

Kesan pertama melihat Toko Oen Semarang adalah tempatnya yang berhawa lebih gelap dan jadul daripada Toko Oen Malang. Ownernya ternyata sudah berbeda dari tahun 90-an. Melihat menunya, ternyata ada banyak makanan berbahan dasar pork. Kami mengurungkan niat buat makan besar. Akhirnya makan es krim saja.

Pramusaji kami adalah seorang bapak-bapak yang bahkan sudah lewat paruh baya. Dirinya ramah menjelaskan menu-menu es krimnya yang sangat banyak. Melihat saya yang berhijab, beliau semacam melarang saya memesan es krim yang mengandung alkohol. Padahal, pas makan di Toko Oen Malang bareng bapak saya, beliau cuek melihat saya memesan es krim rhum raisin. Xixixi.

Kami membeli dua macam es krim, yakni Oen's Specialty dan Tutti Frutti. Rasanya enak khas es krim toko jadul. Sayang harganya agak tinggi. Tak apa. Es krim enak dan banyak porsinya itu jadi teman kami mengobrol sore hari itu.


Oen's Specialty, es krim aneka rasa dengan saus stroberi dan biskuit lidah kucing.


Tutti Frutti, es krim rasa vanila-sukade dengan lapisan es krim cokelat


Di penghujung maghrib, kami memutuskan untuk pergi mencari tempat makan lagi. Tempat tujuan kami adalah Nasi Goreng Padang Bangjo, rekomendasi Bardha, seorang teman saya yang dulunya kuliah di Universitas Diponegoro.


Nasi Goreng Padang Bangjo


Karena jarak dari Toko Oen yang tidak sampai dua kilometer jauhnya ke Nasi Goreng Padang tersebut, kami memutuskan untuk berjalan kaki. Ternyata, Semarang cepat gelapnya. Pukul 6 sore, langit sudah menghitam. Kehidupan malam hari kota Semarang sebenarnya ramai, tapi agak spooky. Terutama karena Google Maps mengarahkan kami ke gang-gang pemukiman. Tampak bahwa kota ini terlihat begitu tua dan lampau. Kesan agak seram juga saya dapatkan ketika saya melewati stasiun Semarang. Belakangan ketika sampai Jakarta, akun @infomemetwit di twitter menjelaskan bahwa stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling angker di Indonesia. Hiii!

Sampai di Nasi Padang Bangjo, kami sudah mulai lapar. Pacar memesan nasi goreng kambing dan telur, sementara saya dengan sotoy memesan nasi goreng arabian.

Ketika pesanan datang, menu pilihan saya nampak eksotis. Nasi goreng arabian terdiri dari nasi goreng berbumbu rempah dengan warna kuning yang diberi potongan kambing, sepotong telur dadar, campuran kismis, dan....kurma???


Nasi Goreng Arabian dan Nasi Goreng Padang Kambing Telur


Sebenarnya nasi goreng arabian ini akan terasa enak apabila kismis yang digunakan direndam terlebih dahulu sehingga mengembang dan berkurang rasa manisnya, juga mengeliminasi penggunaan kurma yang teksturnya sangat lembut sehingga benar-benar tercampur ke dalam hidangan nasi gorengnya. Sumber-sumber rasa manis yang kurang terasa ngeblend di hidangan tersebut jadi tidak bisa disingkirkan, sayang sekali.

Namun, nasi goreng padang milik pacar benar-benar enak rasanya. Tahu, kan, patah hati yang didapatkan ketika menu makanan kawan kuliner lebih enak daripada menu yang kita dapatkan? Pokoknya, nasi goreng miliknya sangat enak.

Oleh karena itu, perhatikan pesan moral ini, kawan-kawan kuliner: Biasakan memesan menu klasik suatu tempat apabila bertandang ke tempat makan yang baru pertama kali didatangi.


Lawang Sewu Malam-Malam


Setelah santap malam, kami menyadari kalau malam masih cukup panjang. Entah kenapa, pikiran saya yang suka aneh-aneh ketika kekenyangan memunculkan satu ide yang menggelikan: ke Lawang Sewu di malam hari.

Lawang Sewu ini seperti satu ikon wisata terbesar di Semarang. Walaupun sarat dengan unsur sejarah, tempat ini lebih dikenal dengan keangkerannya.  Salah satu momen angker yang paling terkenal adalah munculnya makhluk halus dengan wujud yang lengkap dan sangat jelas tertangkap di kamera dalam acara Dunia Lain. Ada yang bilang peserta tersebut kini meninggal, ada pula yang bilang itu hoax semata.


Salah satu sudut di Lawang Sewu


Namun, entah kenapa, melihat langsung di depan mata Lawang Sewu ini, saya hanya merasakan satu hal yakni kemegahan dan keindahannya. Memang saya sudah tersugesti ini itu dari cerita banyak orang. Jika saya tidak mendengar sama sekali gosip keangkeran Lawang Sewu, pasti saya tidak berprasangka aneh-aneh pada bangunan ini. Ia sangat indah walau umur tidak bisa berbohong. Walaupun begitu, tampak kental kesan suramnya.

Kami tidak berlama-lama di Lawang Sewu. Malam itu kami hanya melihat-lihat pamerannya dan langsung pergi ke spot-spot yang tampak bagus saja. Banyak penjelasan tentang sejarah perkeretaapian di sana. Belanda ini, ya, memang, benar-benar, asemmmm.


Tampak luar salah satu spot di Lawang Sewu

Itu, sih, saya. Pacar sendiri ketika saya gandeng, badannya benar-benar dingin. Daripada kenapa-kenapa, kami pulang saja dan beristirahat. Yang penting, kedua kaki saya ini sudah menjejak di Lawang Sewu dan mata ini sudah menyaksikan sendiri kecantikannya.


Duo jidat


Lawang Sewu menutup hari pertama pelesir Semarang ini. Jangan lupa pantengin hari kedua wisata Semarang saya, ya.

No comments:

Post a Comment